Hakim Yakini Menpora Imam Nahrawi Terima Duit Rp11,5 Miliar dari Sekjen KONI Menpora Imam Nahrawi seusai diperiksa KPK (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.Com - Maj‎elis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta meyakini Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi telah menerima uang sebesar Rp11,5 miliar dari Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Ending Fuad Hamidy.

Uang tersebut diberikan melalui Asisten Pribadi Imam Nahrowi, Miftahul Ulum dan staf protokoler Kemenpora, Arief Susanto. Meskipun ketiganya telah membantah mengenai uang tersebut, diyakini uang sebesar Rp11,5 miliar itu untuk kebutuhan Imam Nahrawi.

"Berdasarkan fakta dan pertimbangam hukum, perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur memberi sesuatu," kata Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Rustiyono saat membacakan amar putusan Ending Hamidy di Pengadilan Tipikor Jakarta Senin (20/5).

Hakim membeberkan rincian penerimaan uang tersebut. Pada Maret 2018 Miftahul Ulum menerima uang Rp 2 miliar di kantor KONI. Sementara, pada Februari 2018 Ulum juga terbukti menerima Rp 500 juta di ruang kerja Sekjen KONI.

Hakim melanjutkan Arief Susanto pernah menerima Rp3 miliar. Sedangkan Ulum, pada Mei 2018 kembali menerima uang di ruang Sekjen KONI sebesar Rp 3 miliar. Selanjutnya, Ulum juga menerima uang Rp 3 miliar dalam pecahan mata uang asing di Lapangan Tenis Kemenpora pada 2018.

Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy
Ending Fuad Hamidy divonis dua tahun delapan bulan penjara dan denda Rp100 juta subsider dua bulan kurungan.(MP/Ponco Sulaksono)

Miftahul Ulum, Arief Susanto, dan Imam Nahrawi sebelumnya sempat membanta‎h rincian uang tersebut. Ketiganya membantah menerima uang dari KONI.

Diketahui Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis kepada Sekretaris Jenderal Komite Nasional Olaharaga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy dua tahun delapan bulan penjara dan denda Rp 100 juta subsider dua bulan kurangan.

"Mengadili meyakini terdakwa Ending Fuad Hamidy bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," ujar Hakim Ketua Rustiyono membacakan putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (20/5).

Hakim juga mengabulkan permohonan justice collaborator (JC) yang diajukan oleh Ending. Menurut hakim, Ending memenuhi syarat sebagai JC.

Sementara, bendahara KONI Johny E. Awuy dihukum satu tahun delapan bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan.

Hakim menyatakan Ending Fuad dan Johny bersalah karena terbukti memberi suap sebesar Rp 400 juta, satu unit mobil Toyota Fortuner, dan satu unit ponsel Samsung Galaxy Note9 kepada Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana.

Pemberian itu dilakukan agar Mulyana memuluskan pencairan proposal bantuan dana hibah kepada Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga pada ajang Asian Games 2018 dan Asian Paragames 2018. Dalam proposal itu KONI mengajukan dana Rp 51,52 miliar.

Selain itu, pemberian tersebut juga dilakukan guna memuluskan pencairan usulan kegiatan pendampingan dan pengawasan program SEA Games 2019 tahun anggaran 2018.

Endang Fuad dan Johny E. Awuy melanggar Pasal 5 Ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

Putusan hakim ini lebih rendah jika dibandingkan tuntutan jaksa KPK. Sebelumnya, jaksa menuntut empat tahun penjara dan denda Rp 150 juta untuk Ending Fuad, dan dua tahun penjara dan denda Rp 100 juta untuk Johny.

Meski begitu, baik Ending Fuad maupun Johny sama-sama meminta waktu kepada hakim untuk memikirkan putusan yang mereka terima selama tujuh hari.(Pon)

Kredit : ponco


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH