Hafalan versus Kreativitas di Bangku Sekolah Kreativitas seolah mati begitu saja jika mereka tak bisa meraih nilai bagus. (Foto: Pexels/Pixabay)

SEKOLAH dan belajar menjadi momok menakutkan bagi siswa Indonesia. Bagaimana tidak? Setiap harinya selama delapan jam mereka harus berkutat dengan materi pelajaran. Belasan mata pelajaran harus dihafalkan dan dikuasai demi sebuah pencapaian: nilai yang bagus.

Keterampilan dan bakat alami yang mereka bawa sejak lahir seolah terabaikan begitu saja. Kreativitas seolah mati begitu saja jika mereka tak bisa meraih nilai bagus untuk semua mata pelajaran yang diempukan. Esensi pendidikan seolah tergerus karena attitude bukan lagi menjadi hal yang dipedulikan oleh para pengajar dan pelajar.

Baca Juga:

Parents, Gali Juga Potensi Anak di Luar Akademik

sekolah
Proses belajar dengan metode hafalan hanya menguntungkan pihak pengajar. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Melihat hal tersebut, para praktisi pendidikan dari berbagai latar belakang bersatu. Tak henti mendiskusikan formula yang pas untuk para pelajar Indonesia demi masa depan bangsa. Itu karena pendidikan adalah refleksi masa depan. Apa yang dipelajari hari ini akan berdampak pada masa depan.

Praktisi dan Pengamat Pendidikan, Itje Chodijah menuturkan bahwa proses belajar dengan metode hafalan hanya menguntungkan pihak pengajar. "Tinggal suruh anak hafalkan, kemudian guru buat soal, kemudian soal diisi oleh anak-anak berdasarkan hafalan, kemudian gurunya dapat nilai, laporan beres. Tugasnya selesai karena laporannya selesai," urainya ditemui di acara Perkuat Ekosistem Penddikan untuk Siapkan SDM Unggul, Kamis (28/11).

Sementara itu, apa yang didapatkan oleh anak hanyalah selembar kertas berisi nilai. Kita tidak tahu maknanya apa untuk anak. Nyaris tidak ada proses yang melibatkan anak berpikir, menganalisa, dan menyambungkan dengan kebutuhan dirinya. Ironisnya lagi, pada akhirnya anak-anak hanya bergantung pada angka.

Hal berbeda akan diraih jika melibatkan kreativitas dan mengenyahkan metode hafalan di bangku sekolah. "Ketika menggunakan kreativitas maka pengetahuan yang didapatkan oleh anak tidak serta merta diujikan tetapi dibahas, diinternalisasikan pada anak, dan dihubungkan pada lingkungan yang ada di sekitar anak," lanjutnya lagi. Jika demikian, anak bisa memproduksi informasinya dengan baik.

Cara itulah yang kemudian diadaptasi dan disosialisasikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Anwar Makariem, B.A., M.B.A. Proses belajar para siswa tak lagi akrab dengan hafal menghafal. Mereka akan disibukan dengan proyek kelas yang menuntut mereka berpikir kritis dan berinovasi. "Pendidikan yang selama ini hafalan akan diubah menjadi pemikiran kreatif. Kurikulum akan menekankan pada kreatif dan pembelajaran proyektif. Ke depan bukan lagi tahu apa tetapi bisa apa," ungkap Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ir. Ananto Kusuma Seta, M.SC, Ph.D.

Baca Juga:

4 Alasan Kenapa Perlu Membiarkan Anak 'Nakal' Pada Masanya

sekolah
Ananto Kusuma Seta, agaimana membuat proses belajar layaknya bermain yang menyenangkan. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Selain pemikiran kreatif, Ananto menerangkan bahwa hal penting dalam dunia pendidikan di masa depan adalah passion dan playfulness. "Dengan passion yang dimiliki, anak tahu bagaimana membuat proses belajar layaknya bermain yang menyenangkan," tuturnya ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.

"Di masa depan, ekonomi Indonesia adalah ekonomi yang berbasis budaya dam tidak akan bisa digantikan robot," tegas Ananto.

Perubahan itu tentu saja menuntut kebisaan guru. Di dalam kelas, guru harus mampu mengajak anak-anak menganalisa informasi yang dibaca bukannya dihafalkan dengan cara dan attitude yang tepat. Kemudian dia tahu bagaimana membangun motivasi pada anak-anak.

Pemerhati dan Praktisi Manajemen SDM, PM Susbandono menilai di masa sekarang guru dan dosen adalah pekerjaan paling sulit. Ia mengatakan,Kalau dulu guru mengajar, butuh empat hingga lima tahun bagi siswa menyadari bahwa yang diajarkan gurunya salah. Sementara sekarang dalam waktu lima menit saja murid bisa menyadari bahwa yang diajarkan gurunya salah. "Kemajuan teknologi saat ini membuat siswa bisa langsung mengoreksi kesalahan gurunya dalam hitungan menit," demikian analisisnya.

Untuk itu, ia menganggap tugas guru tak lagi membagikan ilmu pengetahuan tetapi juga mencontohkan perilaku baik. "Teladan guru bukan lagi dari aspek pengetahuan tetapi dari cara bicara, sikap dan nilai yang dipegang," tukasnya. (avia)

Baca Juga:

Pentingnya Kedekatan Ayah dan Anak, Berpengaruh Pada Kecerdasan Si Kecil

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH