Hadir di Sidang MK, La Nyalla: Pasal 222 UU Pemilu Berpeluang Lumpuhkan Negara Ketua DPD La Nyalla Mattalitti. (Foto: MP/Ist)

MerahPutih.com - Ketua DPD La Nyalla Mattalitti mempertegas sikapnya terhadap Pasal 222 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Menurut La Nyalla, pasal ini membuka peluang negara akan berada dalam situasi stuck atau lumpuh. Selain itu, ia menyebut Pasal 222 melanggar konstitusi.

Pendapat itu disampaikan La Nyalla selaku pemohon principal di hadapan majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dalam uji materi Pasal 222 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu), yang mensyaratkan presidential threshold atau ambang batas, Selasa (26/4).

Dikatakan La Nyalla, dalam uji materi Pasal 222 UU Pemilu kali ini, dirinya menyampaikan sesuatu yang lebih luas dan baru, dibanding para pemohon sebelumnya dalam perkara yang sama, yang oleh MK ditolak.

“Mohon dicatat dan didengar dengan saksama,” ujarnya.

Baca Juga:

Partai Nonparlemen akan Gugat Presidential Threshold ke MK

La Nyalla mengatakan, dia dan tiga pimpinan DPD lainnya yang berdiri sebagai pemohon, merupakan representasi pimpinan lembaga negara yang merupakan perwakilan daerah, yang mewakili 34 provinsi dan seluruh kabupaten dan kota.

"Kami dipilih dalam pemilihan umum melalui jalur peserta pemilu perseorangan. salah satu fungsi dan tugas kami adalah melakukan pengawasan terhadap undang-undang, untuk memastikan bahwa undang-undang tersebut memenuhi tiga unsur hakiki hukum," papar La Nyalla.

Yaitu unsur bahwa UU yang dihasilkan harus predictability atau bisa memprediksi kemungkinan yang terjadi pada masa yang akan datang. Harus bisa menjawab secara utuh sehingga menjadi obat, bukan malah menjadi penyakit atau menimbulkan persoalan.

Lalu UU juga harus bisa menciptakan stability atau keseimbangan, dan berikutnya, UU harus mengandung unsur fairness. Ini mutlak, karena hakikat hukum dan undang-undang adalah keadilan.

“Sehingga, dalam kesempatan ini saya dengan tegas mengatakan bahwa Pasal 222 UU Pemilu tidak memenuhi unsur hakiki dari hukum yang harus ada di negara ini," tegas La Nyalla.

Menurutnya, keberadaan Pasal 222 membuat dirinya dan ratusan juta rakyat Indonesia peserta pemilihan presiden bisa kehilangan hak pilih. Negara pun bisa dan sangat berpeluang berada dalam keadaan stuck, macet dan lumpuh akibat penerapan Pasal 222 itu.

"Hal itu terjadi akibat dari Undang-Undang Pemilu tidak bisa menjawab kemungkinan yang bisa terjadi akibat adanya Pasal 222 tersebut di dalam UU Pemilu itu sendiri," katanya.

Pertama, apabila Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2024 dan selanjutnya masih memberlakukan Pasal 222 UU 7/2017, bukan hanya rakyat Indonesia yang kehilangan hak untuk memilih, tetapi bisa jadi pemilihan capres dan cawapres tidak dapat dilaksanakan.

"Hal itu bisa terjadi apabila gabungan partai politik yang mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden mencapai jumlah kursi DPR 80,01 persen atau 75,01 persen suara sah secara nasional. Sehingga hanya akan ada satu pasangan capres dan cawapres yang memenuhi syarat untuk mendaftar," papar La Nyalla.

Mengapa bisa stuck atau lumpuh? Karena UU Pemilu hanya mengantisipasi apabila salah satu dari dua pasangan capres dan cawapres berhalangan tetap di tengah jalan atau di tengah tahapan. Di mana tahapan dilanjutkan dengan satu pasang melawan kotak kosong.

Tetapi bila sejak awal yang bisa dan yang memenuhi syarat untuk mendaftar hanya satu pasang calon, akibat pasangan tersebut didukung oleh gabungan partai politik yang mencapai angka 76 persen suara sah, sehingga dengan ambang batas 25 suara sah, maka tidak ada lagi pasangan yang bisa didaftarkan, di sini masalah tata negara muncul.

“Ini menunjukkan bahwa Pasal 222 selain melanggar konstitusi, juga berpotensi menimbulkan persoalan yang tidak mampu dijawab oleh UU Pemilu. Karena UU Pemilu sama sekali tidak mengantisipasi potensi tersebut,” tukasnya.

Baca Juga:

Partai Berkarya Ikut Koalisi Partai Nonparlemen Ajukan Judicial Review Presidential Threshold

Karena sangat mungkin terjadi pasangan calon didukung oleh gabungan partai politik yang mencapai jumlah kursi DPR di atas 80 persen atau di atas 75 persen suara sah secara nasional. Sehingga yang tersisa tidak mencapai 20 persen kursi.

“Begitu pendaftar hanya satu pasang dari awal, maka sesuai UU Pemilu Pasal 229 ayat 2 huruf (a) dan (b), maka KPU akan menolak pendaftaran pasangan tersebut. Artinya apa? Artinya macet. Karena tidak bisa dilawankan dengan kotak kosong. Yang bisa dilawankan kotak kosong apabila salah satu dari dua pasangan calon berhalangan tetap di tengah jalan,” jelasnya.

Ditambahakan La Nyalla, situasi tersebut, dapat menjadi dalil untuk melakukan penundaan pemilu. Modusnya dengan kesepakatan dan kongsi antar-partai politik atau gabungan partai politik sehingga hanya bisa terbentuk satu pasang capres dan cawapres sejak awal. Sehingga ditolak oleh KPU. Dan kemudian stuck, macet dan lumpuh.

Pasal 222 tidak mengantisipasi apabila dalam pemilihan legislatif pada tahun 2024 nanti terdapat partai politik yang meraup atau memperoleh suara sebesar 75,01 persen suara sah secara nasional.

Seperti pernah terjadi pada Pemilu tahun 1997, di mana Golongan Karya saat itu memperoleh suara nasional sebesar 74,51 persen. Sedangkan Partai Persatuan Pembangunan memperoleh suara 22,43 persen dan Partai Demokrasi Indonesia memperoleh 3,06 persen suara.

"Lantas, bagaimana dengan Pilpres tahun 2029 mendatang, di mana dengan menggunakan basis suara perolehan Pemilu Legislatif tahun 2024, yang mana hanya ada satu partai politik saja yang dapat mencalonkan pasangan capres dan cawapres?" tanyanya.

Menurut La Nyalla, sangat jelas produk hukum tersebut membahayakan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara serta ketatanegaraan dengan memberi dan membuka kesempatan untuk menimbulkan persoalan tata negara yang sangat serius.

Berangkat dari hal tersebut, lanjutnya, dapat disimpulkan bahwa Pasal 222 UU 7/2017 yang berisi tentang ambang batas pemilihan presiden adalah pasal yang bukan saja bertentangan dengan konstitusi, tetapi dapat berpotensi merusak dan menimbulkan kekacauan tata negara bangsa ini. Dan dapat mengancam tujuan serta cita-cita nasional seperti termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

"Sehingga bukan saja bertentangan dengan konstitusi, tetapi juga bertentangan dengan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara. Sehingga, Pasal 222 tersebut dapat saya sebut sebagai pasal yang membuka peluang untuk melakukan tindakan subversif terhadap negara ini," tegas dia.

La Nyalla juga menyinggung pendapat dua hakim MK yang menyatakan dissenting opinion (pendapat berbeda) yang pada prinsipnya mendukung penghapusan ambang batas atau presidential threshold dalam UU Pemilu.

Dikatakan La Nyalla, apa yang dikatakan Saldi Isra dan Suhartoyo bahwa dengan logika sistem pemerintahan, mempertahankan ambang batas dalam proses pengisian jabatan presiden, jelas memaksakan sebagian logika sistem parlementer ke dalam sistem presidensial. (Pon)

Baca Juga:

PKS Bakal Ajukan Judicial Review Presidential Threshold ke MK

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Syarat PCR dan Antigen Ditiadakan, Okupansi Penumpang Kereta Api Masih Landai
Indonesia
Syarat PCR dan Antigen Ditiadakan, Okupansi Penumpang Kereta Api Masih Landai

Kondisi penumpang kereta api (KA) di Daop 8 Surabaya okupansinya belum melonjak.

Viral Polantas Diduga Minta Nomor Wanita yang Ditilang, Ini Respons Dirlantas Polda Metro
Indonesia
Viral Polantas Diduga Minta Nomor Wanita yang Ditilang, Ini Respons Dirlantas Polda Metro

RNA mendapatkan notifikasi WhatsApp yang masuk setiba di kosan sekitar pukul 03.00 WIB

Presiden Jokowi Lantik Anggota KPU dan Bawaslu Hari Ini
Indonesia
Presiden Jokowi Lantik Anggota KPU dan Bawaslu Hari Ini

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan bakal ,melantikan tujuh anggota Komisi Pemilihan Umum dan lima Anggota Bawaslu yang baru terpilih pada Selasa (12/4) pukul 13.30 WIB.

48 Nama Lolos Seleksi Tes Tahap II Calon Pimpinan KPU dan Bawaslu
Indonesia
48 Nama Lolos Seleksi Tes Tahap II Calon Pimpinan KPU dan Bawaslu

Sebanyak 48 orang dinyatakan lolos ke tahap berikutnya. Mereka terdiri atas 28 bakal calon anggota KPU dan 20 bakal calon anggota Bawaslu.

Serikat Karyawan Minta Erick Thohir Selamatkan Garuda Indonesia
Indonesia
Serikat Karyawan Minta Erick Thohir Selamatkan Garuda Indonesia

Manajemen tidak fokus pada masalah fundamental

Syarat Mendapatkan Vaksin Moderna di RS Hasan Sadikin Bandung
Indonesia
Syarat Mendapatkan Vaksin Moderna di RS Hasan Sadikin Bandung

Bagi masyarakat yang ingin mendapat vaksin Moderna, berikut ini persyaratannya

Kabar Baik, Tak Ada Lagi Daerah Terapkan PPKM Level 4
Indonesia
Kabar Baik, Tak Ada Lagi Daerah Terapkan PPKM Level 4

Penanganan COVID-19 di tanah air makin menunjukkan kabar baik.

Mantan Gubernur Riau Annas Maamun Segera Hadapi Sidang Suap
Indonesia
Mantan Gubernur Riau Annas Maamun Segera Hadapi Sidang Suap

Persidangan diagendakan akan dilaksanakan di Pengadilan Tipikor pada PN Pekanbaru.

Kasus Aktif di Jakarta Turun 175 Pasien
Indonesia
Kasus Aktif di Jakarta Turun 175 Pasien

Hari ini, kasus aktif COVID-19 DKI turun dan kesembuhan warga yang terpapar corona di atas 90 persen.

Soal Aturan Makan 20 Menit, Puan: Jangan Sampai Jadi Lelucon
Indonesia
Soal Aturan Makan 20 Menit, Puan: Jangan Sampai Jadi Lelucon

Puan khawatir apabila aturan tersebut hanya sekadar dibuat tanpa penjelasan lanjutan maka akan dianggap sebagai lelucon semata. Imbasnya akan membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan turun.