Hadapi Cuaca Buruk, Ini yang Dilakukan Nelayan Pacitan Ilustrasi nelayan tradisional. (MP/Rizki FItrianto)

MerahPutih.com - Mayoritas nelayan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, memilih menghentikan aktivitas melaut sejak terjadinya badai siklon tropis yang memicu banjir bandang dan tanah longsor di wilayah tersebut, sepekan lalu.

Seperti dilansir dari Antara di Pelabuhan Perikanan Indonesia Tamperan, nyaris tak ada kapal yang keluar dari area kolam labuh.

Aktivitas penurunan ikan ataupun jual-beli hasil tangkapan laut di tempat pelelangan ikan yang berada berhadapan persis dengan kolam labuh utama juga tidak ada.

Akibatnya, sejumlah warga atau pedagang yang datang ke PPI Tamperan sekadar mencari dagangan ikan ataupun untuk lauk pribadi, nihil karena tak satu pun nelayan yang menjual ikan.

"Kita nelayan tahu cuaca belum menentu. Rawan jika memaksa melaut," kata salah seorang nelayan Andi Saifudin, Selasa (5/12).

Menurut dia, kalaupun ada kapal yang berani keluar dan berburu ikan biasanya tidak jauh dari garis batas pantai.

Kendati cuaca sudah tidak se-ekstrem beberapa hari sebelumnya saat badai siklon tropis melanda wilayah pesisir selatan Jawa pada Senin (27/12) hingga Selasa (28/11), ketinggian ombak masih membahayakan untuk pergerakan kapal.

"Kalau duit nanti masih bisa dicari, nyawa tidak ada gantinya," kata Said, panggilan Andi Saifudin.

Apalagi, kata dia, kebanyakan kapal dari pesisir Pacitan, khususnya yang stand by di PPI Tamperan terbiasa melaut berhari-hari. Dengan kondisi ombak yang masih pada kisaran empat meter, katanya, risiko kecelakaan di laut sangat besar.

Belum lagi sediaan bahan bakar yang menjadi lebih banyak dan potensi tangkapan ikan yang tidak menjanjikan.

"Sebagian nelayan sini juga masih kena musibah banjir bandang dan tanah longsor kemarin, sehingga belum bisa melaut. Tapi yang jelas cuaca belum mendukung, bahkan hingga beberapa pekan ke depan," katanya. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH