Menyimak Cara Gus Dur Mengulas Pertandingan Piala Dunia Gus Dur sedang menulis di Kantor Tempo. (Foto/gusdurian.net)

DI halaman belakang rumah terdengar suara orang berlari dan sesekali bunyi tendangan bola. Setelah ditengok, terlihat seorang anak bersama orangtuanya sedang asik bermain sepak bola.

Bocah itu bernama Abdurrahman Wahid, kelak dikenal dengan nama Gus Dur, dan bersamanya sang ayah, Wahid Hasyim.

Wahid Hasyim memang sedikit agak menjaga jarak dengan anaknya. Namun, berkat sepakbola, hubungan keduanya menjadi hangat.

Bahkan dalam "Biografi Gus Dur" yang ditulis Greg Barton, sepakbolanya menjadi faktor penting kedekatan antara Gus Dur dan Hasyim.

Seiring berjalannya waktu Gus Dur tumbuh menjadi remaja penggila sepak bola.

Olahraga tersebut menjadi candu tersendiri baginya. Bahkan, ia harus tinggal kelas karena kecanduan untuk bermain dan menyaksikan pertandingan mengolah 'Si Kulit Bundar'.

Gus Dur muda. (Dokumen Istimewa)
Gus Dur muda. (Dokumen Istimewa)

Gagal naik kelas di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), Ibundanya, Siti Sholehah memindahkannya ke pesantren di Jombang.

Di sanalah Gus Dur mulai meninggalkan hobi bermain bola. Di pesantren, ia hanya bisa menonton sepak bola dan menganalisa pertandingan.

Setelah menyelesaikan studi di pesantren, Gus Dur melanjukkan pendidikan ke Kairo, Mesir pada 1960.

Masih belum berubah, sepak bola masih menjadi favoritnya, bahkan saat jenuh dengan proses pendidikan formalnya Gus Dur sering menghabiskan waktu keluar masuk stadion.

Masuk tahun 1980-an, keterlibatan Gus Dur terhadap sepak bola makin mendalam. Ia sering menganalisa pertandingan sepak bola.

Bahkan, sepak bola juga pernah dijadikannya sebagai persamaan untuk mengulas masalah lain. Dalam buku 'Melawan Melalui Lelucon', Gus Dur menulis satu subjudul "Piala Dunia '82 dan Landreform".

Di buku tersebut, ia mengulas strategi 'sabun' Jerman Barat yang lolos ke final dengan selisih gol dengan tim menengah Aljazair. Selain itu Gus Dur juga membahas tentang permainan negatif Italia yang cenderung menunggu kesalahan lawannya.

"Demikianlah, siapa yang menjadi juara 'Mondial 1982' tidak akan mampu mengangkat keharuman sepak bola sebagai seni. Piala Dunia menurun kualitasnya menjadi industri pertukangan," tulisnya dalam buku 'Melawan Melalui Lelucon'. Kemudian Gus Dur menyamakan kedua strategi tersebut dengan strategi tuan tanah.

Tak sampai di situ saja, tulisan analisa pertandingan sepak bola Gus Dur pada tahun 1990-an juga banyak dimuat di media cetak. Tak jarang pula ia menjadi komentator di televisi. Selama hobinya dengan sepak bola sudah ratusan artikel ia tulis tentang sepak bola saat membahas World Cup 1982, 1986, 1990, 1994, hingga 1998. (*)

Baca juga: Deretan Bapak Bangsa Indonesia yang Hebat Bermain Bola



Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH