'Gula Jawa Berubah Jadi Gula Pasir', Awal Kisah Cinta Habibie dan Ainun BJ Habibie dan Ainun. (foto: popbela)

SELAIN sebagai sosok cerdas nan brilian, BJ Habibie bisa dikenali dari kisah cintanya bersama sang istri, Hasri Ainun Besari. Pasangan ini menjadi panutan bagi pasangan di Indonesia. Keduanya punya kisah panjang dalam menjalani hidup rumah tangga.

Namun, cinta dan kasih sayang keduanya tak tumbuh begitu saja. Dalam wawancara bersama Rosiana Silalahi dalam acara Rosi Spesial Kemerdekaan: Habibie, Kemerdekaan dan Cinta di Kompas TV, Kamis (17/8/2017), Presiden ketiga Indonesia ini bercerita bahwa pada awalnya ia sama sekali tak tertarik dengan sosok Ainun.

BACA JUGA: BJ Habibie Meninggal Dunia

Keduanya memang tumbuh besar bersama. Rumah mereka di Bandung berdekatan. Habibie kerap bertandang ke rumah Ainun untuk belajar dari ayahnya. "Ayah Ainun itu pintar banget," kenangnya.

Ainun dan Habibie sama-sama merupakan anak cerdas. Di kelas masing-masing, keduanya kerap jadi yang paling muda dan cemerlang. Karena kesamaan itu, mereka kerap diledek dan dijodohkan kawan-kawan. Ketika itu, Habibie yang tak tertarik pada Ainun justru merasa malu dan kesal. Ia malah meledek Ainun. "Kamu Jawa, gendut, jelek. Hitam kayak gula jawa," kenangnya.

Namun, ejekan itu justru tidak digubris Ainun. Ia tak marah.

Cinta Habibie Ainun
BJ Habibie wafat pada Rabu (11/9). (foto: Instagram @habibiecenter)

Habibie kemudian berkuliah di ITB pada 1954. Tak sampai setahun, ia pindah studi ke Jerman. Setelah sewindu di Jerman, mantan menristek di era Soeharto ini kembali ke Indonesia. Atas ajakan ibunda, ia diajak berkunjung ke rumah orangtua Ainun.

Ketika bertemu kembali dengan perempuan yang dulu ia ledek, Habibie malah kaget. "Gula jawa sudah berubah jadi gula pasir," kenangnya.

Hal itu mengacu pada perubahan penampilan Ainun yang jadi lebih putih dan cantik. Enam bulan setelah pertemuan itu, mereka menikah. Tepat pada 12 Mei 1962.

Ainun bukanlah perempuan biasa. Ia menjadi benteng, kekuatan, dan kawan hidup Habibie. Kecerdasannya sanggup mengimbangi kecemerlangan Habibie. Awal pernikahan mereka lewati di Jerman. Dalam buku Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di Mata Orang-Orang Terdekat, Ainun mengenang bagaimana masa sulit di negara asing itu mereka lewati bersama.

Namun, buat Ainun, hal itulah yang menguatkan hubungan mereka. Ainun berusaha sekuat tenaga mengurus rumah tangga dan anak agar sang suami bisa fokus menyelesaikan tugas kuliah dan bekerja. Namun, di kala malam, mereka akan menghabiskan waktu bersama. Melakukan hal yang disukai di ruangan yang sama. "Hidup kala itu berat, tapi manis," kenang Ainun.

Dengan Ainun di sisi, Habibie mencapai banyak hal. Itulah yang membuat kehilangan Ainun di 22 Mei 2010 begitu mengguncang jiwa Habibie. Ia kehilangan sosok teman, pelindung, dan kekasih. Bapak dua anak ini bahkan sempat menderita psikosomatis akibat kesedihan mendalam. “Saya merasa bersalah. Saya bisa membantu orang lain tetapi tidak bisa menolong istri sendiri,” katanya kepada Rosiana Silalahi, tujuh tahun setelah sang istri meninggal.

Teguran dokter akhirnya menyadarkan Habibie. Ia disarankan menuliskan kesedihannya dalam sebuah catatan. Dalam dua bulan, catatan itu rampung. Pada November 2010, terbitlah buku Habibie & Ainun. Buku itu sukses besar bahkan hingga difilmkan oleh Hanung Bramantyo.

Hari ini, sembilan tahun setelah ditinggalkan sang kekasih, Habibie berpulang ke Rahmatullah pada pukul 18.05. Cinta mereka tetap abadi meski dipisahkan ajal. Selamat jalan, Pak BJ Habibie.(dwi)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH