Gua Binsari, Destinasi Wisata Sejarah di Ujung Barat Papua Helm baja sisa Perang Dunia II yang saat ini masih berada di Pulau Biak. (Foto: Antara)

DI penghujung Perang Dunia II, aroma mesiu masih menyengit baunya. Ledakan senjata di mana-mana. Pihak sekutu dan lawannya masih tarik-menarik daerah kekuasaan. Di Nusantara pun begitu.

Pada 1944, di ujung barat Pulau Papua terjadi pertempuran sengit antara tentara sekutu dan tentara Jepang. Keduanya baku perang demi memperebutkan kawasan Pulau Biak.

Sisa-sisa tragedi berdarah tersebut masih tersimpan di sana. Salah satunya terdapat di Gua Binsari, atau Gua Nenek, yang kini sudah berubah menjadi destinasi wisata sejarah Perang Dunia II.

1. Sejarah Panjang di Gua Binsari

Pertempuran Biak 1944. (Foto: Hulton-Deutsch Collection/Corbis)
Pertempuran Biak 1944. (Foto: Hulton-Deutsch Collection/Corbis)

Konon, gua ini pernah dihuni nenek bernama Abyab Binsari. Ia lama menetap di sana sebelum Jepang masuk dan mengambil alih gua itu sebagai tempat penyimpan logistik dan persembunyian dari tentara sekutu.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 1944, gua yang sudah dikuasai tentara Jepang hancur dibombardir tentara sekutu di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mcarthur. Dalam peristiwa itu, sekitar 6.000 tentara Jepang tewas, terkubur hidup-hidup di sana.

Dikutip dari Bleakley, Jack The Eavesdroppers (AGPS Canberra, 1991), pertempuran sadis perebutan Pulau Biak di Perang Dunia II ini memakan korban 474 orang tewas dan 2.428 luka-luka pada kubu tentara sekutu, sekitar 6.000 orang tewas, 450 orang tertawan, serta 4.000 tentara Jepang lainnya tak diketahui nasibnya, atau hilang dalam tugas dan diasumsikan tewas.

2. Gua Binsari sebagai Destinasi Wisata

Mulut Gua Binsari sisa Perang Dunia II di Pulau Biak. (FOTO Antara)
Mulut Gua Binsari sisa Perang Dunia II di Pulau Biak. (Foto; Antara)

Saat ini, kawasan Gua Binsari menjadi salah satu destinasi wisata paling favorit di Pulau Biak. Di kawasan ini, pengunjung juga bisa melihat sisa-sisa pertemputan sadis antara tentara Jepang melawan sekutu.

Barang-barang yang bisa disaksikan hingga kini beragam, mulai dari berbagai jenis amunisi, helm tentara, serta berbagai jenis benda peninggalan lainnya. Bahkan, sisa-sisa tulang belulang tentara Jepang yang terletak di kawasan di sekitar gua.

3. Lokasi Gua Bansari

Menuju Pulau Biak. (Instagram/@karabazh)
Menuju Pulau Biak. (Foto: Instagram@karabazh)

Sebelum sampai ke gua ini, terlebih dahulu kamu harus menuju Pulau Biak. Untuk transportasi ke sana ada banyak opsi transportasi, baik melalui jalur Laut dan Jalur Udara. Untuk Jalur Laut pilin pelayaran yang melayani Rute Jayapura – Biak dengan kapal Pelni atau melalui kapal Fery dengan Rute Nabire – Serui – Biak.

Untuk rute udara, kamu bisa menggunakan rute Jayapura biak atau bagi kalian yang jauh dari Jayapura, rute menuju biak juga tersedia di Makassar. Dari Biak, kamu tinggal 30 menit perjalanan saja menuju Gua Bansari. (*)

Baca Juga: Unik, Pasar Mama-Mama Papua akan Jadi Destinasi Wisata

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH