Grafiti, Dari Hobi Hingga Menghasilkan Pundi-Pundi Uang Karya Grafiti WBS Crew (Foto: Istimewa)

SAMBIL menjadi seorang Writer (pelukis grafiti) Lukas juga pernah bekerja di sebuah kantor. Tapi enggak bertahan lama. Bagi dia bekerja kantoran kurang bebas. Bukan masalah diatur. Tapi ia merasa ide karyanya enggak tersalurkan.

Sampai pada akhirnya, Folker, panggilan Lukas, memutuskan resign. Bahkan sampai dua kali resign dari kerja kantoran. "Di dunia kerja jadi merasa kayak ada banyak idealis yang 'kebunuh' gitu," ujarnya saat ditemui merahputih.com di kediamannya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (7/8).

Baca juga:

Yuk, Mengenal Vandalisme, Grafiti dan Mural

Folker juga sempat bimbang setelah memutuskan resign. Karena profesinya sebagai freelancer desain. Serta dibekali kemampuan menggambar grafiti dan mural. Orangtuanya juga sempat enggak nyaman dengan hobi yang ditekuni Lukas itu. "Awalnya jelas orangtua ngelarang banget karena kan selalu keluar tengah malam," tambahnya.

Grafiti masih dipandang negatif karena dianggap mengotori tembok (Foto: Istimewa)

Namun, akhirnya dia bisa membuktikan. Menjadi seorang writer bukan lagi sekadar hobi yang ia suka. Pundi-pundi uang bisa ia hasilkan. Meskipun penghasilannya bukan murni langsung dari coretan-coretan font keren di tembok-tembok jalanan itu.

Dia bercerita, melalui menggambar grafiti dia bisa mendapatkan banyak koneksi. Dari situlah akhirnya ia bisa membuka peluang untuk mendapatkan penghasilan. "Pas lagi gambar nanti suka ada orang lewat dan nanya nomor telepon dan menanyakan 'boleh nih rumah saya digambar'," tuturnya

Folker juga pintar mengambil kesempatan. Dia memiliki pekerjaan sampingan. Hal ini yang akhirnya membuat orangtuanya yakin bahwa dirinya bisa memiliki penghasilan lebih melalui pekerjaan sampingan. "Seperti mural jasa lukis dan produk-produk kayak kanvas, merchandise baju, kaos, totebag," imbuhnya.

Stigma yang muncul di tengah masyarakat, pelaku-pelaku grafiti masih dipandang secara negatif. Bahkan kata Folker sebanyak 70% masyarakat masih menganggap writer ialah sosok yang nakal.

Baca juga:

Seni Grafiti Menakjubkan Spesial Musim Semi

Pandangan masyarakat tentu salah mengenai grafiti. Meskipun terlihat hanya seperti coretan yang enggak jelas. Tapi fontnya begitu keren. Sebenarnya, nilai dari sebuah grafiti bukan dari fontnya itu. Tapi dari makna yang terkandung di dalam pesan itu.

WBS Crew (Foto: Istimewa)

Biasanya, dibuatnya sebuah grafiti karena untuk menebar pesan ke masyarakat luas. Terutama yang berisi tentang pesan sosial. Itulah yang membuat para writer bangga. Karya mereka bukan sekadar hiasan tapi menitipkan pesan berharga.

Folker merupakan anggota komunitas Grafiti bernama WBS Crew. Komunitas tersebut sudah berdiri sejak tahun 2007 dan memiliki anggota lebih kurang 20 orang dari berbagai latar belakang. Siapa saja bisa bergabung di komunitasnya itu. Modalnya bukan kemampuan, tapi kemauan.

Menurut pria yang sudah menekuni grafiti selama 13 tahun itu kemauan menjadi modal penting yang harus dimiliki grafiti writer. Masalah kemampuan bisa dikembangkan seiring berjalannya waktu. "Yang penting Kita lihat dari kemampuannya, kalau skill bisa diolah sih," paparnya.

Namun, di sisi lain, mental seorang grafiti writer juga harus ditempa. Bukan masalah ditegur oleh masyarakat. Atau dikejar-kejar oleh petugas keamanan karena mencoret di tempat yang enggak diperbolehkan. Tapi seorang writer harus tahan banting ketika karyanya dinilai kurang bagus oleh sesama writer.

Semakin banyak warna semakin mahal pula (Foto: Istimewa)

Ukuran-ukuran font grafiti ini juga memiliki harga yang beda. Biasanya, untuk menggambar grafiti ukuran 5x3 (paling kecil) bisa menghabiskan modal Rp500 ribu sampai satu juta rupiah Itupun tergantung kombinasi warna yang ingin dimainkan. Semakin banyak warnanya maka semakin mahal pula.

Grafiti memang terlihat susah untuk dipelajari. Nyatanya, kata Folker setahun saja sudah cukup bagi pemula untuk menguasai beberapa teknik di bidang grafiti. Terutama untuk menggambar sketch. Makanya kembali lagi semua ke kemauan seseorang yang ingin bergabung.

Memang, profesi writer agak langka. Tapi begitulah, setiap profesi pasti bisa menghasilkan uang jika memang serius dikerjakan . Kamu bebas memilih profesi apapun itu. "Bagi kita ini (grafiti) hidup sih," tukas Folker. (ikh)

Baca juga:

Mau Foto Romantis dengan Dia? Selandia Baru Tempatnya

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH