Gigitan Ular 'Berhadiah' Modal Uang Rp1,4 Triliun Ular berbisa jenis Pit Viper. (Foto: Associated Press)

KASUS Gigitan ular yang setiap tahun menewas 120.000 orang setiap tahun dan membuat cacat ribuan orang lainnya menggeraknya sebuah yayasan untuk memberikan hadiah modal proyek 80 juta poundsterling, atau setara Rp1,4 triliun.

Proyek yang diluncurkan lembaga amal kesehatan Wellcome Trust, Kamis (16/5), bertujuan untuk menemukan pengobatan lebih efektif bagi gigitan ular. Yayasan Kesehatan yang bermarkas di Inggris itu berharap dapat meningkatkan pasokan antiracun dunia dan mengembangkan pengobatan baru dan lebih efektif untuk masa depan. Saat ini, pemberian antiracun merupakan satu-satunya cara untuk mengobati gigitan ular.

"Pengobatan gigitan ular pada dasarnya mengandalkan proses yang berusia 100 tahun," kata David Lalloo, profesor dan Direktur Liverpool School of Tropical Medicine, Inggris.

Ratusan Ribu Orang Jadi 'Tumbal'

Cobra
Ular Kobra (AFP/Adek Berry)

Lalloo mengungkapkan kekurangan dana bagi penelitian ilmiah telah sangat membatasi kemajuan di bidang obat tersebut, sehingga ratusan ribu orang meninggal sia-sia, demikian maklumat Lalloo, sebagaimana dilansir Antara.

Philip Price, ahli di Wellcome Trust dalam ilmu pengetahuan gigitan ular, mengatakan gigitan ular berbisa menewaskan sebanyak 120.000 orang per tahun. Kebanyakan kasus kematian ini terjadi pada masyarakat paling miskin di pedesaan Afrika, Asia dan Amerika Selatan.

Peta Jalan Gigitan Ular

WHO
Aksi World Health Organization (WHO) di Afrika. (Twitter @WHO)

Wellcome Trust menyebut keadaan ini sebagai "krisis kesehatan tersembunyi". Sebanyak 400.000 orang lagi menderita dampak luka-luka yang mengubah hidup mereka, seperti amputasi. Kondisi itu dapat mendorong keluarga yang sudah susah ke dalam kemiskinan yang lebih parah, kata Price dalam taklimat tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dijadwalkan pada akhir Mei menerbitkan "Peta Jalan Gigitan Ular", yang bertujuan mengurangi kematian dan cacat akibat gigitan ular sampai 2030.


Teknik Kuno

teknik antiracun
Teknik membuat penawar racun bisa ular. (Rtr/ANT)

Pengobatan saat ini, yaitu pemberian antiracun, diproduksi dengan menyuntikkan racun yang relatif tidak berbahaya ke badan kuda lalu mengambil darah kuda untuk digunakan dalam pengobatan manusia. Teknik itu sudah digunakan sejak abad ke-19 tanpa standar umum keefektifan dan keselamatan.

Teknik itu juga membawa risiko pencemaran dan efek samping, kata ahli, dan berarti korban harus dirawat di rumah sakit, yang kadang-kala jauh dari lokasi desa tempat gigitan ular paling sering terjadi. Pengobatan sering kali terlalu mahal buat korban dan sudah sangat terlambat dilakukan untuk menyelamatkan nyawa.

Masalah terbesar, pasokan antiracun dunia malah belum sanggup menjangkau kalangan penduduk yang paling berisiko. Terutama, di Afrika misalnya, sebanyak 90 persen antiracun yang tersedia mungkin tidak efektif.

"Gigitan ular adalah kondisi yang bisa atau harus bisa diobati," kata Direktur Sains Wellcome Trust Mike Turner. "Meskipun orang akan selalu mungkin digigit ular berbisa, tak ada alasan demikian banyak orang mesti menemui ajal." (*)


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH