Gereja Tua Sikka, Perpaduan Budaya Lokal dan Eropa Gereja Tua Sikka memiliki nilai histori yang tinggi. (Foto: MP/Suryo)

MENYEBUT Sikka berarti menyebut pula Gereja tua St. Ignatius Loyola dan keindahan alam yang meliputinya.

Gereja tua Sikka memiliki makna sejarah yang dalam, selain gereja tertua di Flores. Gereja ini memiliki perpaduan budaya yang luar biasa antara budaya lokal dengan Eropa. Bentuk dan struktur bangunannya masih seperti dahulu tidak ada perubahan.

Nilai historisnya begitu tinggi menjadi bukti pengaruh Portugis di tanah Flores. Gereja Sikka berada di sebelah barat Maumere, memakan waktu sekitar 30-45 menit berkendara. Lokasinya persis dekat pantai yang memberikan nuansa berbeda terasa sangat tropis.

(Foto: MP/Suryo)

Bangunan dan struktur gereja Sikka masih menampakan wujud aslinya. Strukturnya yang terbuat dari kayu jati terlihat sangat kokoh. Gereja Sikka memiliki luas lebih kurang 500 meter persegi sudah mengalami renovasi untuk menjaga tetap lestari. Tahun 1935 dan 1953 atapnya diganti dari seng tipis ke seng tebal, kemudian berganti menjadi genteng.

Tahun 1999 kembali gereja tua ini dipercantik dengan mencat ulang genteng, kemudian kayu-kayu diperbaiki agar kembali kokoh. Tahun 2014 kembali lagi gereja tua ini mengalami renovasi dengan mempelitur semua kayunya. Renovasi gereja ini memang harus dilakukan mengingat gereja Sikka diresmikan di tahun 1899.

Yang membuat istimewa gereja ini adalah lukisan motif tenun ikat Sikka yang sudah ada sejak awal gereja ini diresmikan. Motif yang dilukisakan adalah motif Gabar, yakni motif tenun khusus pakian raja, berbentuk belah ketupat. Kemudian bagian lainnya dengan motif Wenda yakni buah kapas yang merupakan motif tenun kebanyakan yang dipakai masyarakat. (psr)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH