Gerakan Warga Lawan Terorisme  Ajak Masyarakat Amalkan Bhinneka Tunggal Ika Warga dari berbagai elemen masyarakat melakukan aksi solidaritas menolak radikalisme dan terorisme di Pekanbaru, Riau, Selasa (15/5) malam. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

MerahPutih.Com - Rangkaian aksi kejahatan teror yang terjadi di Rutan Mako Brimob Depok hingga bom bunuh diri di Surabaya, Rusunawa Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya, Jawa Timur telah melampaui batas kemanusiaan.

Sebanyak 31 orang yang terdiri dari anak-anak warga dan juga aparat yang meninggal dunia. Bahkan, pelaku mengorbankan anak-anaknya sendiri dalam aksi teror tersebut. Selain itu, lebih dari 10 orang luka-luka.

Gerakan Warga Lawan Terorisme yang terdiri dari tokoh lintas iman, lintas profesi mengutuk keras tindak kejahatan terorisme. Mereka juga menyampaikan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga.

Ibu Sinta Nuriyah
Ibu Sinta Nuriyah aktif dalam Gerakan Warga Lawan Terorisme (MP/Ponco Sulaksono)

Istri Presiden ke-4, Abdurahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah menyatakan, Gerakan Warga Lawan Terorisme memiliki tekad bersama untuk melawan aksi terorisme yang sengaja dilakukan untuk menyebarkan rasa ketakutan dan memecah belah bangsa.

"Kami percaya bahwa persaudaraan anak bangsa akan terus menjadi lebih kokoh dalam menghadapi tantangan ini guna mempertahankan Indonesia yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan penghormatan kepada kebhinekaan bangsa," ujar Sinta Nuriyah, di Griya Gus Dur, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).

Gerakan ini, kata Sinta, mendukung penuh sikap aparat penegak hukum dan pemerintah untuk segera menghentikan teror dan menindak tegas para pelaku dan pihak-pihak yang terlibat dalam aksi-aksi teror tersebut.

"Kami mendorong pemerintah untuk memastikan pemulihan yang efektif kepada para korban dan keluarganya," tuturnya.

Pemuda Ansor tolak radikalisme
Sejumlah anggota Gerakan Pemuda Ansor menandatangani petisi terorisme dan radikalisme di Tugu Adipura, Tasikmalaya, Jawa Barat (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Gerakan ini, menyerukan kepada masyarakat luas untuk menjaga dan memperkuat bangunan persatuan dan harmoni serta mempererat ikatan antar suku, agama atau kepercayaan, ras dan antar golongan (SARA) agar tidak mudah diadu domba oleh teroris.

"Memperkuat kohesi sosial dengan merawat dan menghidupkan semangat Bhinneka Tinggal Ika," ucapnya.

Menurut Sinta Nuriyah, masyarakat juga harus terlibat aktif mengawasi lingkungannya dan bekerjasama dengan aparat untuk melaporkan jika ada hal-hal yang mencurigakan.

"Melindungi keluarga dari paham dan berbagai anasir yang terkait dengan gagasan sikap maupun tindakan radikalisme," tandasnya.

Diskusi bersama di Wahid Foundation
Diskusi bersama lintas agama, profesi dan organisasi di Wahid Foundation (MP/Ponco Sulaksono)

Sementara itu, Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan Gerakan Warga Lawan Terorisme merupakan gerakan moral yang dilakukan warga masyarakat.

”Kami ingin memperlihatkan bahwa kami tidak takut. kami mengajak masyarakat umum untuk tidak takut terhadap teror ini. Teror tidak bisa menguasai kita," ujar Hendardi.

Sebagai informasi, selain Sinta Nuriyah dan Hendardi, beberapa perwakilan yang hadir dalam pernyataan sikap ini antara lain Saparinah Sadli, Musdah Mulia, Henny Supolo serta Hadad Alwi. Dari perwakilan tokoh agama lintas-iman hadir pengurus MUI, PGI, KWI serta perwakilan umat Budha, Hindu, Konghucu serta Pengkhayat Kepercayaan.(Pon)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Doa dan Duka dari Solo untuk Korban Bom Bunuh Diri di Surabaya

Kredit : ponco


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH