Gemailla Gea, Pakai Kopi dan Tanah untuk Efek Perang di Film 'Night Bus' Gemailla Gea Geriantiana. (Foto: Istimewa)

KREATIVITAS Gemailla Gea Geriantiana dalam menyiapkan busana para pemain film layar lebar tak diragukan lagi. Wanita kelahiran Bandung, 6 Oktober 1976, ini sudah tiga kali masuk nominasi penata busana terbaik Festival Film Indonesia (FFI). Terakhir, Gea, panggilan akrabnya, menjadi salah satu dari lima nominator Perancang Busana terbaik FFI 2017 lewat film Night Bus.

Awal diberitahu lolos sebagai nominasi, anak kedua dari tiga bersaudara ini merasa bahagia. Informasi itu ia ketahui satu hari jelang ulang tahunnya. Saat itu Gea mendapat info dirinya masuk nominasi dari teman-temannya.

“Temen-temen pada WhatsApp saya soal ini. Alhamdulilah hasil kerja keras saya diapresiasi orang. Jadi pas aku ultah dapet dua ucapan selamat,” kata Gea di rumahnya di Jalan Mantrigawen Kidul, Kecamatan Kraton, Yogyakarta.

Night Bus adalah sebuah film laga yang dibintangi Teuku Rifnu, Wikana dan Yayu AW Unru. Film ini menceritakan pertikaian di daerah konflik. Cerita bermula dari sekelompok orang yang menumpang sebuah bus yang menuju daerah konflik bernama Sampar. Tanpa disadari di dalamnya ada seorang penyusup yang dikirim untuk menjalankan sebuah misi. Penyusup inilah yang memegang kunci alur cerita.

Untuk film ini, Gea bersama timnya harus menyiapkan sekitar 300-400 buah pakaian. Baju ini terdiri dari baju utama dan beberapa baju duplikat. Ia diberi waktu hanya tiga bulan untuk menyiapkan semuanya.

“Sebenarnya enggak sulit menyediakan baju. Tapi aku harus hati-hati memilih warna, bahan baju dan cutting-annya. Karena ini kan film perang, ada adegan tembak-tembakan dan waktu syuting kebanyakan di malam hari. Terus para pemainnya juga sudah berhari-hari di dalam bus enggak mandi,” tuturnya.

Tantangan terbesar

Hal tersulit yang ia rasakan adalah ketika harus membuat dan mencari detail dari kostum tokoh tentara. Di film ini, tokoh tentara yang tampil cukup banyak. Sang produser, Darius Sinathrya, menginginkan corak dan warna kostum tentaranya berbeda dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

“Aku bikin baju tentara agak gaul sedikit. Warnanya jadi cokelat. Susahnya itu mencari emblem atau logo pangkat tentaranya. Takut salah nanti diprotes,” katanya sambil tertawa.

Agar efek perang semakin terasa, ia banyak melakukan riset dan berdiskusi ke berbagai pihak. Ia harus putar otak memanfaatkan barang-barang di sekitar untuk bisa menonjolkan efek darah, tembakan, robekan perang. “Aku pake cat tekstil buat ciptain efek darah. Terus pakai tanah atau kopi buat ciptain efek kotor dan perangnya. Pokoknya bahan apapun bisa dipakai untuk menghidupkan efek,” kata Gea.

Kerja kerasnya diganjar dengan penghargaan. Dirinya selangkah lagi mendapatkan piala FFI 2017. Bulan depan, Gea dan beberapa kru film lainnya akan terbang ke Manado untuk menghadiri malam puncak FFI 2017. Ia akan berkompetisi dengan Anggia Kharisma (Filosofi Kopi 2), Dara Asvia (Sweet 20), Isabelle Patrice (Pengabdi Setan) dan Retno Ratih Damayanti (Kartini) memperebutkan piala FFI. (*)

Berita ini merupakan laporan Teresa Ika, kontributor Merahputih.com, untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Anda juga bisa baca Warga Yogyakarta Gelar Kenduri Rayakan Pelantikan Gubernur DIY.



Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH