Gelora Bung Karno: Harapan Palsu Amerika Hingga Angin Segar Moskow Hotel Indonesia dan Bundaran HI sedang dalam Pembangunan untuk Asian Games 1962. (Foto/Dokumen Istimewa)

LIMA tahu pascakemerdekaan, Indonesia mulai menggeliat di kancah internasional. Sukarno sebagai pucuk pimpinan sangat berambisi memamerkan kebesaran Bumi Pertiwi di khalayak internasional.

Sekitar 1950-an, kesempatan unjuk gigi muncul. Asia berencana menghelat pesta olahraga terbesar (Asian Games) pertama di New Delhi, India. Dalam rancangannya, Asian Games akan rutin dilaksanakan setiap 4 tahun sekali dengan menunjuk satu negara sebagai tuan rumah.

Mengetahui hal itu, Indonesia beraksi. Proposal pengajuan sebagai tuan rumah Asian Games selanjutnya dikirim. Namun, merujuk kondisi Indonesia nan terlalu muda sebagai sebuah negara, dan alasan perekonomian membuat mimpi itu baru terkabul pada tahun 1962.

Presiden Sukarno sedang merancang sketsa lapangan Asian Games ke-4. (Foto/Dokumen Istimewa)

Sukarno tak patah arang. Pada perhelatan Asian Games kedua di Manila, Filipina, permintaan serupa diulang. Hasilnya tetap nihil. Alasan serupa kembali menghambat niat Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games.

Kesempatan itu tiba. Pada perhelatan ketiga, yang diselenggarakan di Jepang, Federasi Asian Games (Asian Games Federation) mengusulkan Indonesia sebagai tuan rumah selanjutnya. "Indonesia menyanggupinya," tulis buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, halaman 7.

Tantangan Indonesia Baru

Suasana gembira melanda Presiden beserta rakyatnya. Dengan keadaan ekonomi kurang baik, Indonesia diminta membangun stadion bertaraf internasional dan fasilitas penunjang lainnya. Pemimpin putar otak.

Bung Karno langsung menemui Duta Besar Amerika di Jakarta, Howard Jones demi menjajaki kemungkinan USA membantu pembangunan stadion tersebut. Komunikasi berjalan lancar dan permohonan dikirim ke negeri Paman Sam tersebut.

Tiga bulan berjalan, Bung Karno belum juga menerima jawaban dari Washingthon. Indonesia mengubur dalam harapan kepada Amerika.

Angin Segar dari Moskow

Waktu yang mendesak, Sukarno langsung menemui Mr. Zukov di Kedutaan Besar Uni Soviet untuk Indonesia. Bung Karno mengharapkan jawaban cepat dengan tempo satu bulan saja.

"Baru dua minggu sejak pembicaraan di Jakarta, sudah tiba telegram dari Kremlin, Moskow bahwa Uni Soviet menyetujui permohonan tersebut," tulis buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66.

Bahkan, dalam untuk membangun stadion tersebut para arsitek dan teknisi Soviet ikut membantu pembangunan sarana dan prasarana olahraga untuk Asian Games.

"Sesuatu yang juga bisa dimaklumi, oleh karena proyek pembangunan stadion tersebut memperoleh bantuan dukungan kredit lunak sebesar 12,5 Juta dolar AS yang disediakan pemerintah Uni Soviet," tulis Julius Pour dalam Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno (2004), halaman 37. (*)

Baca Juga: Kisah di Balik Sejarah Maskot Asian Games



Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH