Geliat Tan Malaka di Sekitar Proklamasi Sukarno dan Tan Malaka. (Foto/DokumenIstimewa)

KEKALAHAN Jepang atas Sekutu sampai ke telinga para tokoh-tokoh bangsa, termasuk si "Zwerver" Tan Malaka.

Dari Banten, Tan datang ke Batavia menggunakan nama samaran Iljas Hussein.

Para tokoh-tokoh berpengaruh pada masa itu ia temui dan diajak berunding mengenai gagasannya.

Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan Tan Malaka sempat menemui Soekarni, tokoh pergerakan dari kalangan pemuda. Soekarni tak tahu sedang berbicara dengan Tan Malaka meminta Hussein untuk pulang ke Banten dan menyambut proklamasi.

Tan Malaka. (Foto/Istimewa)
Tan Malaka. (Foto/Istimewa)

Selain Soekarni, Hussein (Tan Malaka) juga menemui Chaerul Saleh. Chaerul dan Soekarni paham benar dengan semua gagasan dan pemikiran Hussein. Mereka menyadari Hussein sedang mengemukakan ide-ide Tan Malaka. Tapi sungguh keduanya tidak menduga Hussein itulah Tan Malaka.

Seminggu usai Indonesia merdeka Tan masih di Batavia. Ia sempat berkunjung dan menginap di kediaman Achmad Soebardjo. Dalam buku Autobiografi Soebardjo Kesadaran Nasional diceritakan Tan datang mengetuk pintu rumahnya di Cikini.

"Ketika saya menemuinya, saya kaget. Wah, kau Tan Malaka," tulis Subardjo. "Saya kira kau sudah mati, sebab saya baca di surat kabar bahwa kau terbunuh dikerusuhan Birma. Selain itu, surat kabar lain juga mengatakan kau terbunuh di Yerusalem," Katanya melanjutkan.

Tan menjawab dengan bahasa Belanda sambil tertawa. "Onkruid vergaat toch niet, (Alang-alang tak dapat musnah kalau tak dicabut dari akarnya)".

Tan Malaka. (Foto/Istimewa)
Tan Malaka. (Foto/Istimewa)

Dalam pertemuan itu, Tan menceritakan kisah panjang perjalanan hidupnya. Ia kemudian sempat bersua dengan Bung Karno dan Bung Hatta di rumah Soebardjo.

Tan, menurut Harry A. Poeze, menyinggung pula pembacaan proklamasi kemerdekaan di kediaman Sukarno.

“Rupanya, sejarah Proklamasi 17 Agustus tiada mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tiada memedulikan penyesalan seseorang manusia atau pun segolongan manusia,” kata Tan.

Menelaah kata tersebut, seorang penggiat Tan Malaka dari Payakumbuh, Habib Dt. Mounti mengatakan Tan sangat tidak setuju dengan pembacaan proklamasi terlalu dini tersebut.

"Tan adalah orang yang ingin merdeka 100 persen. Semua aset asing harus di hilangkan dari Nusantara ini," katanya senja kala dihubungi merahputih.com.

Ia melanjutkan, bahwa terbukti sampai saat ini, aset-aset orang asing masih menjamur di Indonesia. Karena memang Indonesia merdeka dengan persiapan yang belum matang.

Ia menganggap, jika saja kala itu Indonesia merdeka 100 persen dan para penjajah diusir dari bumiputera ini, pasti serangan baik seperti agresi militer 3 tahun bersselang tak akan muncul dalam sejarah Indonesia.

Habib yakin betul, jika saja Tan diajak terlibat dalam proklamasi 17 Agustus 1945 pasti ia akana menolak. "Karena sebelumnya dia juga pernah menolak mentah-mentah ajakan Sjahrir untuk membacakan teks proklamasi," lanjutnya.

Dikutip dari buku karangan Rudolf Mrazek, Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Diceritakan di dalamnya bahwa setelah pencarian lamanya Sjahrir berhasil menemukan Tan. Tapi upaya Sjahrir gagal, Tan merasa tidak siap untuk membacakan teks proklamasi.

Meski demikian, bukan berarti dia tidak mempunyai peran penting. Beberapa literatur mengatakan, bahwa tokoh yang menggerakkan Sukarni dan rekan-rekannya, adalah Tan Malaka. (*)



Zaimul Haq Elfan Habib