Gelar Perayaan Imlek, MATAKIN Kenang Jasa Gus Dur Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) kembali menyelenggarakan Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional. Foto: Humas Matakin

MerahPutih.com - Sejak Khonghucu diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, tahun 2000 silam, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) kembali menyelenggarakan Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional.

Pada tahun 2019, Perayaan Imlek Nasional memasuki tahun ke-20 yang diadakan di Theater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (10/2).

Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) kembali menyelenggarakan Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional di Theater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (10/2). Foto: Humas MATAKIN

Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pimpinan Pusat MATAKIN, Ws. Budi Santoso Tanuwibowo yang juga merupakan Ketua Panitia Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional pertama ini mengatakan bahwa dirinya masih mengenang momen ketika Presiden Republik Indonesia ke -4, KH. Abdurrahman Wahid mengakui agama Khonghucu.

"Saya masih sangat terharu mengenang momen itu. Gus Dur tidak saja begitu baik buat umat Khonghucu, tetapi sekaligus membuat sebuah sejarah baru dengan mendukung penyelenggaraan Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional yang pertama, dan yang orang jarang mengetahuinya juga Perayaan Capgomeh yang pertama. Kita harus tetap mengingat jasa beliau dan mengenangnya, meski sekarang sudah banyak orang yang lupa atau malah mengaburkan. Tanpa Gus Dur tidak ada cerita soal Imlek seperti hari-hari ini," kata Budi dalam rilis yang diterima MerahPutih.com, Senin (11/2)

Dilanjutkannya, pada Perayaan Imlek Nasional selanjutnya juga dihadiri oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan diteruskan kala Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden RI. Sayangnya, sampai sekarang Presiden Jokowi tidak pernah hadir di Perayaan Imlek Nasional.

Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional ke -20 ini juga mengusung tema "Penimbunan kekayaan akan menimbulkan perpecahan diantara rakyat, tersebarnya kekayaan akan menyatukan rakyat"

Tema kali, kata Budi, terinspirasi oleh masih tingginya jumlah penduduk yang masih di bawah garis kemiskinan. Mmenurut data BPS September 2018 masih 9,66% dari populasi. Ini artinya ada 25 jutaan yang hidup dengan penghasilan Rp 470 ribu per bulan/per kapita. Ini jelas persoalan serius dan bukan persoalan yang ringan dan mudah diatasi.

Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) kembali menyelenggarakan Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional di Theater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (10/2). Foto: Humas MATAKIN

Terkait hal itu, MATAKIN ingin mengimbau dan mengingatkan kita semua untuk lebih peduli dan saling bantu-membantu. Budaya gotong-royong harus digalakkan kembali, tentu dengan variasi disana-sini.

Para tokoh agama sebagai pimpinan informal, wajib membantu penyelesaian masalah ini dalam arti tidak jemu-jemunya untuk selalu mengingatkan masyarakat. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH