Gelar Pahlawan Nasional untuk Moehammad Jasin Komjen Pol (Purn) Moehammad Jasin (Foto/akun facebook Divisi Humas Mabes Polri)

MerahPutih Peristiwa - Komisaris Jenderal Polisi (purn) Dr, H. Moehammad Jasin mendapat gelar sebagai pahlawan nasional. Pemberian gelar tersebut sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015 tanggal 4 November 2015.

Dilansir dari akun facebook resmi Divisi Humas Polri, seseorang bisa menyadang gelar pahlawan nasional jika memenuhi syarat. Berdasarkan pasal 25 UU Nomor 20 tahun 2009, syarat untuk memperoleh gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan terdiri atas Warga Negara Indonesia (WNI) yang berjuang dan tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kemudian memiliki integritas moral, memiliki etika baik, setia kepada bangsa dan negara dan tidak pernah dipidana berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah memperoleh kekuatan hukum tetap atau pidana penjara paling singkat 5 tahun.

Syarat lain yang harus dipenuhi sesuai dengan pasal 26 Undang-Undang No.20 tahun 2009 gelar pahlawanan nasional pantas disematkan kepada mereka atau seorang yang sudah meninggal dunia atau semasa hidupnya pernah memimpin perjuangan bersenjata atau perjuangan politik untuk meraih, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan bangsa.

Kemudian orang tersebut tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan. Selanjutnya melakukan pengabdian dan perjuangan sepanjang hidupnya, pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara. Kemudia pernah melahirkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas.

Semua ketentuan dan syarat tersebut sudah dipenuhi oleh Purnawiranan polisi bintang tiga tersebut. Komjen Pol Moehammad Jasin lahir di Bau-Bau, Buton, Sulawes Tenggara pada tanggal 9 Juni 1920 dan meninggal pada tanggal 3 Mei 2012. Ia meninggalkan seorang istri Almarhum Siti Aliyah Kessing dan 4 orang putra. Mereka adalah Rubyanti Jasin, Djauhar Jasin, Djuanda Jasin (almarhum) dan Djuwaita Jasin.

Lantas apa yang sudah diperbuat Jasin untuk negara hingga ia mendapat gelar pahlawan nasional?

Jasin dikenal sebagai salah satu polisi yang aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 21 Agustus 1945 ia mengeluarkan pernyataan bersejarah yaitu memproklamirkan polisi istimewa menjadi Polisi Indonesia. Proklamasi tersebut juga menegaskan bahwa kedudukan polisi istimewa menjadi polisi merdeka. Polisi miik Republik Indonesia, bukan polisi milik kolonial Jepang.

Maksud lain dari proklamasi tersebut adalah sebagai antisipasi terhadap kemungkinan Jepang melucuti senjata Polisi Istimewa seperti yang dilakukan Jepang terhadap tentara Pembela Tanah Air (Peta).

Hermawan Sulistyo dalam bukunya berjudul "Derap Langkah Polri" membeberkan sepak terjang Jasin dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Begitu masuk dan bergabung dalam Polisi Indonesia, polisi istimewa kemudian berubah namanya menjadi Mobile Brigade (Mobrig) yang kemudian disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia menjadi Brigade Mobil (Brimob).

Hermawan menambahkan dalam sejarah pertempuran di Surabaya, Kepolisian Indonesia adalah satuan bersenjata pertama yang terorganisis dengan baik dan satu-satunya satuan bersenjata yang relatif lebih lengkap peralatan persenjataanya pada saat kemerdekaan.

"Hal ini merupakan fakta Sejarah yang jarang di ungkap," tulis Hermawan dalam bukunya.

Mantan peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melanjutkan, saat itu Jasin masih berpangkat Inspektur Satu atau setara denga Letnan Satu dalam dunia militer. Bersama dengan anak buahnya ia mulai membagi-bagikan senjata rampasan Jepang kepada pejuang Republik Indonesia.

Selama pertemuran di Surabaya yang mencapai puncaknya pada tanggal 10 November 1945, pasukan Mobrig di bawah komando Jasin juga berjuang gigih mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Jasin mengumumkan lewat radio bahwa polisi istimewa atau Mobrig atau Brimob sudah dimiliterisasi, karena itu tidak ada alasan baginya untuk tidak ikut dalam perang melawan Belanda yang membonceng sekutu.

Saat agresi militer pertama dan kedua terjadi, Jasin bersama dengan anggotanya juga bergerilya masuk ke hutan-hutan. Meski menggunakan peratan sederhana dan dalam kondisi terbatas ia tetap berjuang. Jasin sendiri bergerilya di sekitar Gunung Wilis dan ia menjadi Komandan Militer Sektor Madiun Timur.

"Pada periode 1945-1949 itu, banyak sekali anggota polisi yang meninggalkan tugas dan ikut bergerilya di hutan-hutan," demikian Hermawan.

BACA JUGA: 

  1. Brimob Salat di Medan Tempur Tuai Pujian Netizen
  2. Dua Anggota Brimob Gugur Di Papua, Kompolnas Prihatin
  3. Panglima TNI: Tanpa Resolusi Jihad Tidak Ada Hari Pahlawan
  4. Ziarah Peringati Hari Pahlawan di Berbagai Kota

 

 



Bahaudin Marcopolo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH