Gel Pemutih Gigi dari Asam Jawa Karya Mahasiswi Universitas Brawijaya Tiga mahasiswa lintas fakultas Universitas Brawijaya (UB) Malang yang membuat gel pemutih gigi alami berbahan asam jawa bersama dosen pembimbingnya (ANTARA/HO/UNIVERSITAS BRAWIJAYA/End)

MerahPutih.com - Trio mahasiswi Universitas Brawijaya (Unibraw) membuat karya gel dari asam jawa untuk memutihkan gigi secara alami. Ketiga mahasiswi itu adalah Ririn Lutvita Sari (FKG), Afina Muti’ah Tuhepaly (FKG), dan Kharisma Ghanyysyafira (FT)

Ririn Lutvita Sari menjelaskan gigi yang mengalami perubahan warna secara ekstrinsik sulit dihilangkan dengan cara menggosok gigi maupun scalling, dan salah satu cara yang selama ini dilakukan adalah dengan pemutihan gigi atau bleaching.

Baca Juga

TikTok Batasi Iklan Aplikasi dan Suplemen Diet

Namun, bahan pemutih gigi itu memberikan efek meningkatnya porositas atau penurunan kekuatan gigi, sehingga menurunkan kekerasan enamel. Oleh karena itu, ke tiga mahasiswa tersebut mencoba memaksimalkan potensi asam jawa sebagai bahan pemutih gigi.

"Bahan alami yang mempunyai kemampuan untuk mengubah warna gigi atau menghilangkan noda gigi, yaitu asam malat (malic acid). Salah satu buah yang mengandung asam malat adalah buah asam jawa (Tamarindus indica L)," ungkap Ririn dilansir Antara, Kamis (24/9).

Ketiga mahasiswa itu kemudian mengubah asam jawa menjadi gel untuk menjadi produk pemutih gigi dan bisa diaplikasikan ke gigi selama kurang lebih 10-20 menit dan dilakukan 2-3 kali dalam satu hari.

Produk pemutih gigi berbentuk gel dari asam jawa lebih efektif dan aman karena memiliki ukuran nanopartikel dan menggunakan bahan-bahan alami.

Sedangkan asam malat memiliki berat molekul sangat rendah, sehingga mampu berdifusi ke dalam email dan dentin. Selain itu, dapat mengoksidasi permukaan email gigi dengan cara melepaskan oksigen yang bebas pada ikatan rangkap dari senyawa organik dan anorganik dalam gigi.

Dalam proses kerjanya akan terjadi proses oksidasi melibatkan oksigen dan hilangnya hidrogen. Pada proses oksidasi terjadi pemecahan rantai zat chromofor pada gigi yang sebelumnya berikatan pada pelikal, sehingga menyebabkan warna gigi menjadi lebih gelap dan terjadi reaksi reduksi yang membuat warna gigi menjadi lebih terang.

Dosen pembimbing ketiga mahasiswa tersebut, Feni Istikharoh menjelaskan hampir 90 persen material kedokteran gigi merupakan produk impor, sehingga tidak heran jika material kedokteran gigi saat ini relatif mahal.

"Kita tahu bahwa sumber daya alam di Indonesia sangatlah melimpah, salah satunya adalah asam jawa. Asam jawa memiliki kandungan asam malat dan asam oksalat yang cukup tinggi," ujar Feni.

Adanya penelitian mengenai asam jawa yang nantinya dikembangkan menjadi produk nanogel dapat berpotensi untuk digunakan sebagai produk material pemutih gigi yang aman, serta memiliki kemampuan untuk memutihkan gigi yang tidak kalah dengan produk luar negeri.

Baca Juga

Pemkab Cirebon Siap Fasilitasi Pilkades Berbasis Digital

Feni berharap melalui produk tersebut dokter gigi tidak perlu mengimpor material pemutih gigi dari luar negeri lagi.

"Jika kita dapat mengolah sumber daya alam kita yang begitu melimpah, ke depan harapannya kita dapat mengurangi ketergantungan untuk mengimpor material kedokteran gigi," kata Feni Istikharoh. (*)

Penulis : Andika Pratama Andika Pratama
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
 Larangan Mudik Kurang Ampuh, Ratusan Kendaraan Masih Berupaya Keluar dari Jabodetabek
Indonesia
Larangan Mudik Kurang Ampuh, Ratusan Kendaraan Masih Berupaya Keluar dari Jabodetabek

"Itu termasuk kendaraan mobil pribadi, kendaraan umum dan sepeda motor yang diputarbalikkan di jalan arteri," kata Sambodo saat dikonfirmasi, Rabu (13/5).

Karyawan Garuda Diminta Mundur Jika Terlibat Penyelundupan Onderdil Harley
Indonesia
Menkeu Akui Belanja Pusat dan Daerah Tidak Sinkron
Indonesia
Menkeu Akui Belanja Pusat dan Daerah Tidak Sinkron

Alasan pemda tidak mau menerima karena barang atau infrastruktur tersebut, karena program pemerintah pusat sehingga mereka beranggapan tidak memiliki kewajiban untuk memelihara.

CFD di 30 Titik, Pemprov DKI Sebut tak Ada Kerumunan
Indonesia
CFD di 30 Titik, Pemprov DKI Sebut tak Ada Kerumunan

"Pesepeda memang banyak dan mereka terus bergerak dan tidak menimbulkan kerumunan," ujar Syafrin

KPK-Kemenkes Fasilitasi 50 Tahanan Tes SWAB
Indonesia
KPK-Kemenkes Fasilitasi 50 Tahanan Tes SWAB

50 tahanan KPK yang melakukan uji ini berasal dari tiga rumah tahanan

 Polisi Buru Anggota Suporter yang Keroyok Dua Polisi di Senayan
Indonesia
Polisi Buru Anggota Suporter yang Keroyok Dua Polisi di Senayan

Humas Gelora Bung Karno, Diah Kumala Sari menceritakan kronologis pemukulan yang dilakukan oknum suporter. Menurut Diah, ada dua polisi yang ikut menyaksikan laga yang berakhir untuk kemenangan Persebaya 2-1.

Virus Corona Merebak, Harga Masker Bikin Masyarakat Mengeluh
Indonesia
Virus Corona Merebak, Harga Masker Bikin Masyarakat Mengeluh

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta pemerintah untuk melakukan operasi pasar terkait melonjaknya harga masker.

2 Kecamatan di Bogor Ini Masih Steril dari COVID-19
Indonesia
2 Kecamatan di Bogor Ini Masih Steril dari COVID-19

Hingga Senin (20/4) malam, Pemerintah Kabupaten Bogor mencatat jumlah pasien positif terinfeksi virus corona atau COVID-19 di Kabupaten Bogor sebanyak 58 pasien

Ratusan Ribu Orang Tandatangani Petisi Tolak UU Cipta Kerja
Indonesia
Ratusan Ribu Orang Tandatangani Petisi Tolak UU Cipta Kerja

"Omnibus Law adalah ancaman untuk kita semua. Ancaman untuk demokrasi Indonesia. Kami bersuara dengan petisi ini, untuk mengajak teman-teman menyuarakan keadilan," mengutip deskripsi petisi.

Mendagri: Pemda Bisa Tetapkan Darurat Bencana COVID-19
Indonesia
Mendagri: Pemda Bisa Tetapkan Darurat Bencana COVID-19

"Sebagaimana UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana bahwa untuk penetapan status darurat bencana di daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah," ujarnya