Geger Pacinan 1740, Hikayat Tionghoa di Tanah Sunda Ilustrasi peristiwa Geger Pacinan 1740. (Istimewa)

SEBUAH pogrom yang diberlakukan pemimpin Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) kala itu, Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, membuat etnis Tionghoa bersama penduduk lokal Batavia (Jakarta) angkat senjata. Peristiwa tersebut dikenal dengan nama Geger Pacinan, dalam bahasa Belanda disebut Chinezenmoord (pembunuhan orang Tionghoa), yang terjadi pada Oktober 1740.

Menurut Daradjadi Gondodiprodjo dalam buku Geger Pacinan—Perang Tionghoa-Jawa Melawan VOC 1740-1743, setidaknya 10.000 orang Tionghoa tewas. Sedangkan mereka yang selamat, melarikan diri ke berbagai tempat seperti Lao Sam (Lasem, Rembang), Sampotoalang (Semarang), dan Buitenzorg (Bogor).

Pelarian Orang Tionghoa ke Tanah Sunda

Jika bicara tentang Jalan Suryakencana, Bogor, mungkin yang tebersit dalam pikiran adalah Tionghoa dan jejak mereka. Dengan gapura yang di depannya bercokol dua macan yang menjadi khas Kerajaan Siliwangi, terang saja masyarakat Bogor tetap tidak melupakan markah dari Bumi Pasundan.

Gapura Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Pada gapura tersebut, tersemat tulisan Lawang Suryakencana, Kampung Tengah - Buitenzorg, Dayeuh Bogor yang berarti Pintu masuk atau gerbang Suryakencana.

Di sepanjang jalan itu, para pelancong akan merasakan suasana yang bukan layaknya Kota Bogor, melainkan berada di Negeri Tirai Bambu, Tiongkok. Dari mulai makanan yang tersaji seperti Kedai Ngo Hiang (Pangsit Penganten), dan juga kios seperti Toko Naga Mas yang menjual pernak-pernik Tionghoa.

Selain itu, bangunan menarik lainnya yang berada di sana adalah Vihara Dhanagun yang memiliki nilai historis tersendiri. Bahkan, salah seorang pengurus tempat ibadah tersebut, Ayung dengan lihai menceritakan jejak sejarah Tionghoa di tanah Bogor.

Menurut pemaparannya yang didapat dari cerita turun-menurun, waktu zaman dulu para pedagang dari Belanda dan Tiongkok datang ke Batavia. Kalah persaingan dengan Tionghoa, pedagang dari Belanda tak terima.

Ketika itu, pedagang Belanda didukung oleh pemerintahan kolonial. Untuk mengendalikan situasi, pemerintahan kolonial Belanda mendirikan kampung-kampung etnis agar mudah diawasi. Ada istilah Chinese Town, Kampung Arab.

Oleh Belanda, kata Ayung, semua etnis itu dikotak-kotakan untuk mencapai tujuan mereka, politik adu domba agar satu sama yang lain tidak ada kerukunan. Namun, kekecewaan terus ditelan pedagang Belanda dan pemerintah kolonial. Pembantaian besar-besaran pun akhirnya terjadi terhadap keturunan Tionghoa pada Oktober 1740.

"Pada Oktober 1740, terjadi pembantaian hebat yang dilakukan Valckenier terhadap keturunan Tionghoa. Mereka yang selamat melarikan diri ke Bogor dan beberapa tempat lainnya di Indonesia," kata Ayung kepada Merahputih.com beberapa waktu lalu, di Vihara Dhanagun, Jalan Suryakencana, Bogor.

Setelah diterima dengan baik oleh penduduk lokal, masyarakat Sunda, Ayung menjelaskan bahwa kehidupan keturunan Tionghoa berangsur pulih seperti sedia kala. Kemudian, kata Ayung, mereka pun mendirikan sebuah kelenteng yang menjadi identitas sebagai peranakan Tionghoa, pada 1746.

"Jadi, di Tiongkok Selatan ada satu nama Provinsi Fujian. Nah, Hokkian itu adalah penduduk sana. Setelah berbaur dengan masyarakat Sunda, kelenteng ini dibangun. Bahkan, berdasarkan cerita orang tua dulu, penduduk lokal juga turut membantu," katanya.

Pembauran Suku Hokkian dan Masyarakat Sunda

Setelah beberapa tahun berjalan, para pedagang dari Hokkian pun berdatangan. Ayung mengatakan, awalnya kelenteng digunakan sebagai ciri khas Tionghoa. "Di kelenteng menjadi basis sosial masyarakat, juga membicarakan masalah perdagangan," katanya.

Lebih dalam ia menjelaskan, keadaan zaman dulu lokasi tersebut merupakan hutan belantara dengan luas tanah lebih kurang 7.000 meter. Pada masa itu, pemerintah masih dipegang oleh kerajaan. Setelah kolonial Belanda datang, sebagian tanah tersebut diambil untuk dijadikan sebagai tangsi militer.

"Setelah Indonesia merdeka, tangsi ini tidak berguna dan dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi pasar tradisional. Dalam pemahaman kami ada istilah she ai che ni che sung tie, yang namanya 4 penjuru adalah saudara kita. Jadi, kami yakin dengan itu persatuan di Bogor akan terus terjaga, seperti yang leluhur kita lakukan dulu," katanya.

Selain di Jalan Suryakencana, keromantisan juga terjadi di Ciampea, Bogor. Pengurus Hok Tek Bio, Tan Ta Yang menjelaskan, didasari semangat kebersamaan antara masyarakat lokal dan peranakan, salah seorang tokoh Tionghoa muslim pada masa itu, Thung Tiang Mie akhirnya memutuskan untuk membangun sebuah kelenteng.

"Bagi kami, komunitas Tionghoa di Ciampea meyakini, orang yang pertama kali menginisiasi atau founder dari kelenteng ini adalah Kong Co Thung Tiang Mie, sekitar tahun 1800-an. Beliau kebetulan seorang tokoh muslim yang bernama Tubagus Abdullah bin Moestopa," kata Tan di Hok Tek Bio, Ciampea, Bogor.

Baca Juga: Thung Tiang Mie, Sosok Tionghoa Muslim Pendiri Kelenteng di Ciampea Bogor

Meski seorang muslim, kata Tan, Thung tetap menjaga kulturnya sebagai keturunan Tionghoa. "Sehingga tetap memedulikan identitas sebagai peranakan," katanya.

Lebih lanjut, Tan menjelaskan bahwa selain sebagai identitas, landasan dasar Thung Tiang Mie mendirikan kelenteng adalah untuk lembaga sosial masyarakat. Menurutnya, kelenteng adalah komunal senter bagi seluruh manusia.

"Karena pada prinsipnya, Su Khai Cu Lai Ai Ing Te A, semua manusia itu adalah saudara dan saudari kita. Bagi kami ada pemahaman Yin dan Yang, Bumi adalah ibuku dan langit adalah ayahku. Kita hidup dari sumber yang sama, yaitu dari Bumi ini. Dari tanah dan air yang sama, dari ibu yang sama. Maka itu, kita adalah bersaudara," katanya.

Meski demikian, ia pun tak bisa pungkiri bahwasannya politik adu domba yang diterapkan oleh kolonial Belanda, devide et empera, sempat membuat perpecahan antara keturunan Tionghoa dan masyarakat lokal. "Kita menjadi saling mencurigai dan menghakimi karena politik adu domba Belanda," katanya.

Namun kini, ia mengaku bersyukur. Sebab, romantisme yang terjalin justru semakin kuat, terlebih di Ciampea, Bogor. Benih-benih kebencian atau konflik primordialisme tidak terjadi di wilayahnya. (*)



Noer Ardiansjah