Gaya Pemuda Nakal Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia Pejuang KRIS. (Foto: IPPHOS)

MENTERI Penerangan Ali Sastroamidjojo beroleh pemandangan unik Yogyakarta di tengah revolusi, 1946. Ia menjumpai para pemuda berpakaian compang-camping. Berambut gondrong. Menenteng senjata. Berkeliaran. Bertingkah seperti pejuang-pejuang baru menang perang.

“Pemuda-pemuda rambut panjang, pejuang-pejuang bersenjata tak kenal nama-namanya itu, dengan tingkah laku serba-serampangan, merupakan kekuatan revolusi kita,” kata Bung Ali pada biografinya bertajuk Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Tampilan para pemuda pejuang itu memang jauh dari kesan kesatuan ketentaraan modern. Tak tampak seragam. Tanda kepangkatan acak-acakan. Senjata hasil rampasan. Terkadang, beberapa pistol pun sudah karatan. Justru, lanjut Ali Sastroamidjojo, pemandangan itu menjadi jiwa jaman dan kekuatan revolusi Indonesia.

Mereka memang tidak menerima pendidikan militer secara utuh. Kebanyakan para pejuang, terutama di tingkat pimpinan, beroleh pendidikan militer dari dua arus besar, Belanda lewat KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) dan Jepang melalui PETA (Pembela Tanah Air). Jumlah mereka sesungguhnya cukup besar, tapi sedikit dari KNIL ketimbang PETA, kemudian membelot membela Indonesia.

Kekurangan pasukan itu kemudian diperkuat orang-orang dari “Dunia Hitam”. Mereka menjadi pasukan paling radikal di garis depan pertempuran.

Baca Juga: Desas-Desus Petrus, Saat Orang Bertato Ditarget Mati

Pasukan Bandit

pejuang
Laskar Pejuang. (Foto: Nationaal Archief)

Usai proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Sukarno-Hatta selaku presiden dan wakil presiden meminta kepada rakyat di Jakarta untuk menghentikan aksi-aksi konfrontratif, seperti perebutan dan pelucutan senjata tentara Jepang.

Strategi pasif itu, menurut Robert cribb pada Para Jago dan Kaum Revolusioner di Jakarta, 1945-1949, bertujuan untuk diplomasi internasional, tapi tidak disetujui rakyat Jakarta. Mereka pun bertindak atas inisiatif masing-masing.

Tanggal 18 Oktober 1945, H Achmad Chaerun di sisi barat daya Tangerang menghimpun para jago mengobarkan pemberontakan rakyat untuk menumbangkan aparat pemerintahan tersisa.

Sementara, di sepanjang jalur Jatinegara, Klender, dan Bekasi kelompok Haji Darip terus melakukan aksi-aksi perampokan terhadap orang-orang Tionghoa, Indo, Eropa dan Ambon (pasukan NICA).

Rasa frustasi akibat tekanan Belanda, lanjut Cribb, kemungkinan jadi faktor penentu penyebab aktor-aktor "Dunia Hitam" Jakarta tertarik dengan pergerakan kaum nasionalis.

Saat para pemuda radikal Menteng 31 melahirkan Angkatan Pemuda Indonesia (API), berbondong jago atau bandit bergabung. "Dunia Hitam Jakarta, setidaknya bagian memiliki kesadaran politik, elemen alamiah para pengikut API," tulis Cribb.

Hubungan para pemuda dan jago sesungguhnya telah terjalin pada masa pendudukan Jepang. Para Jago berperan mengamankan kegiatan bawah tanah para pemuda dari incaran Kempetai. Masing-masing jago kemudian membentuk badan perjuangan.

Laskar Pejuang

laskar
Laskar pejuang. (Foto: Nationaal Archief)

Haji Darip membentuk Barisan Rakyat Indonesia (BRI) di Klender, Jakarta Timur. Dalam aksi-aksinya, ia memiliki tangan kanan seorang kecu bernama Panji untuk memimpin pasukan berani mati. BRI kemudian berafiliasi dengan Barisan Rakyat (Bara) pimpinan Maruto Nitimihardjo.

Ketika seluruh badan perjuangan keluar dari Jakarta seturut perintah Perdana Menteri Sjahrir, H Darip memilih menetap mengambil peran sebagai tameng terakhir pertahanan ibukota.

Pasukan H Darip terus mendapat serangan sengit NICA hingga. Mereka terdesak dan terus mundur ke timur, hingga akhirnya H Darip tertangkap di Cirebon dan dijebloskan ke dalam pejara Glodok.

Sekondan H Darip, Imam Syafi`i atau tersohor disebut Bang Pi`i bersama pasukannya berisi garong, copet, bromocorah, dan kecu wilayah Senen, Jakarta Pusat, tergabung dalam Oesaha Pemoeda Indonesia (OPI), Jakarta Pusat, memilih meninggalkan Jakarta bersama Laskar Rakjat Djakarta Raja (LRDR).

Bang Pi`i kemudian terpilih menjadi bagian tentara reguler Divisi Siliwangi. Karirnya moncer. Di kemudian hari, Bang Pi`i dipercaya Bung Karno mengampu tugas sebagai Menteri Negara Urusan Keamanan Kabinet Dwikora II. Ia pun beroleh julukan "Menteri Copet".

Baca Juga: Adu Keras Pemuda Radikal Versus Sukarno-Hatta

Lambang Perlawanan

laskar
Laskar pejuang berpose di depan kediaman Bung Karno. (Foto: NIOD)

Di Bandung masa revolusi, seorang petinggi daerah bergaya eksentrik. Ia dikenal dengan sebutan "Camat Perjuangan". Tak seperti pamong pada umumnya, seturut John RW Smail pada Bandung Awal Rrevolusi 1945-1946, camat tersebut menanggalkan segala atribut pamong praja. Ia membiarkan rambutnya gondrong terurai. Mengenakan pakaian militer. Mengait pistol di pinggang. Bicara blak-blakan.

Camat Perjuangan menjadi cermin terbelah dari gambaran umum ambtenaar atau pejabat struktural di masa kolonial. Pemerintah Belanda mengajarkan keteraturan dan kerapihan penampilan kepada calon pejabat bumiputera lewat pendidikan di sekolah-sekolah.

Tiap calon pejabat atau birokrat harus mengikuti sekolah khusus sesuai bidang jabatan. Bila ingin menjadi pangreh praja misalnya, seorang bumiputera harus mendapat pendidikan di MOSVIA (Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren).

Di sana, mereka akan mendapat pelajaran berbahasa Belanda, keterampilan administrasi, hingga hal-hal remeh-temeh seperti cara berpakaian dan etiket makan (table manner).

Kemunculan pejabat dan para pemuda urakan, berambut gondrong, slang, merupakan bentuk perlawan terhadap tatanan kolonial. Pada periode revolusi, menurut William H Frederick, "THe Appearance of The Revolution: Cloth, Uniforms, and The Pemuda Style in East Java, 1945-1949" dalam Outward Appearances: Dressing State and Society in Indonesia, Belanda melihat 'buah karya' serta tatanan sosial menjadi latarnya tersebut telah hilang.

"Orang-orang muda memilih membiarkan rambutnya memanjang sampai akhirnya kemerdekaan dapat diraih, meski tidak semuanya bersikap demikian," tulis Frederick. (*)

Baca Juga: Jatuh-Bangun Kenakalan Pemuda Menculik Sukarno-Hatta



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH