Gaya Hidup dan Pola Pikir Generasi Milennial Mengubah Perekonomian Dunia Gaya hidup milennial mengubah perekonomian dunia. (foto: cmo.com)

GENERASI milennial menjadi pengubah tradisi. Saat menjadi mayoritas di dalam dunia pekerjaan saat ini, milennial menunjukkan perilaku yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Perbedaan gaya hidup dan pola pikir milennial tentunya membutuhkan pendekatan ekonomi yang juga berbeda-beda. Apa saja pola pikir dan gaya hidup generasi milennial yang mampu memengaruhi perekonomian dunia?

Baca Juga : 5 Hal ini Lebih Diinginkan dan Disukai Para Milenial saat Hari Ulang Tahunnya

1. Berinvestasi pada Pengalaman, bukan Benda

Gaya Hidup Milennial
Lebih suka 'membeli' pengalaman ketimbang barang. (foto: billboard.com)

Selamat datang di Millennial Experience Economy (MME), sebutan yang menjelaskan tentang fenomena besar terkait dengan revolusi permintaan konsumen generasi milennial yang sangat menguntungkan para ekonom dunia.

Menurut penelitian yang dilakukan Eventbrite, milennial (kelahiran 1980-1996) merupakan generasi yang sangat menghargai pengalaman hidup. Tidak jarang mereka menghabiskan waktu serta uang mereka demi pengalaman. Mulai dari konser musik, acara sosial, kegiatan atletik, sampai acara budaya. Kebahagiaan mereka tidak terfokus pada status sosial atau kepemilikan.

Taraf bahagia di mata milennial lebih kepada bagaimana menjalani kehidupan yang bermakna lewat berbagi pengalaman bersama. Investing in experiences, not things. Memang benar adanya milenial cenderung lebih suka menghabiskan uangnya untuk sesuatu yang tidak kasatmata. Tentunya itu menjadi pendorong terbesar dalam pertumbuhan pengalaman eknomi.

2. Pengalaman mampu mempermudah pencarian jati diri

Pola Pikir Milennial
Lebih mudah menemukan diri lewat pengalaman. (foto: man's world india)


Seperti diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan Eventbrite, delapan dari sepuluh (77%) generasi milenial mengakui bahwa kenangan terbaik mereka selama masa hidup berasal dari suatu event atau dari peristiwa yang mereka hadiri atau ikuti. Dari penelitian itu, dapat disimpulkan bahwa pengalaman mampu memberikan nilai-nilai berarti yang terkenang sepanjang hidup.

Tidak hanya itu, 69% milennial percaya bahwa menghadiri suatu acara dapat membuat mereka lebih terkoneksi dengan dunia, orang banyak, dan berbagai komunitas tertentu. Bisa dibilang, milennial menganggap pengalaman merupakan aspek besar dan penting yang mampu membantu mereka menemukan serta membentuk identitas mereka.

Sebanyak 69% milenial mengatakan bahwa mereka lebih suka quality time diluar bersama keluarga dan teman-teman ketimbang menghabiskan malam di rumah.

Dari berbagai survei, dapat disimpulkan bahwa pengalaman menghadiri acara-acara bagi milennial mampu membentuk identitas, cara berpikir, serta pengetahuan mereka. Itu menjadi hal terpenting bagi milenial saat ini.

3. Bukan Pencinta Barang Mewah

Pola Pikir Generasi Milennial
Rumah dan mobil mewah bukan lagi ukuran. (foto: level1techforum)

Mobil mewah dan rumah hasil keringat sendiri merupakan tanda pencapaian. Milestones itu pernah menjadi sesuatu yang penting bagi generasi sebelumnya ketika pada usia milennial saat ini. Namun, mobil dan rumah bukan lagi menjadi tanda pencapaian bagi generasi milennial.

Sebanyak 3 dari 4 (78%) milennial akan memilih menghabiskan uang untuk pengalaman atau acara ketimbang membeli barang diinginkan. Tidak hanya itu, sejak 1987, total pengeluaran konsumen terhadap pengalaman dan acara-acara di Amerika Serikat meningkat 70%.

Sebagai salah satu generasi milennial di Indonesia, apakah kamu memiliki prinsip dan pemikiran yang sama?


4. Andil Pencitraan di Media Sosial

Gaya Hidup Milennial
Aktif pamer di medsos. (foto: steemit)


Mulai dari berpesta, nonton konser, traveling, dan kuliner, milennial menjadi generasi yang menunjukkan perilaku konsumerisme paling parah jika dibandingkan dengan generasi lainnya. Dilansir Boston Consulting Group, pengeluaran konsumen tahunan generasi milennial tercatat sebanyak US$1,3 triliun pada 2014.

Meski tidak ingin menyalahkan teknologi, kehadiran ponsel pintar memang menjadi pengaruh besar dalam meningkatnya pencitraan para generasi milennial. Jika dipikir secara logika, 'pengalaman' yang dijadikan tameng bagi para milennial ini akan lebih menarik jika diabadikan, juga disebarkan ke media sosial.

Menurut survei yang dilakukan Eventbrite terhadap 2.000 orang di Amerika Serikat pada 2014, disimpulkan bahwa presentasi tertinggi diraih generasi milennial, yaitu 60%, dalam rangka menyebarkan kegiatan dan pengalaman mereka, baik di platform Facebook, Instagram, maupun Twitter.(shn)

Baca Juga : 7 Hal Penting yang Dibutuhkan Generasi Milenial untuk Bisa Hidup, Apa Benar?


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH