Gaya Baru Belanja di Masa Pandemi Gaya belanja tak akan pernah sama setelah pandemi. (foto: unsplash/mike petrucci)

BANYAK hal berubah karena pandemi COVID-19. Hal itu terjadi karena kita diharuskan menyesuaikan diri untuk hidup berdampingan dengan virus corona. Mulai dari cara kita belajar, bekerja, hingga berbelanja pun harus menyesuaikan.

Kepedulian pada penerapan standar kesehatan yang ketat jadi hal yang penting di masa depan. Kenormalan baru setelah pandemi diterapkan dalam berbagai aktivitas harian. Tak terkecuali saat berbelanja. Kamu mungkin sudah mulai terbiasa mengenakan pakaian tertutup, masker, sarung tangan, hingga kaca mata saat berbelanja. Selain itu, kamu juga diharuskan mengikuti arahan alur belanja serta mematuhih tanda penjarakan saat berbelanja di supermarket. Namun, apakah pengalaman berbelanja di masa mendatang akan selalu seperti itu?

BACA JUGA:

Wahai Pembeli Belanja Daring, Budayakan Membaca Dong

Harus diakui bahwa tak mudah menjadi steril saat berada di pasar atau supermarket. Namun, di masa depan, berbelanja mungkin akan lebih daripada sekadar berjalan dan mengambil belanjaan dari rak. Banyak hal yang akan berubah dan memudahkan kita. Seperti dilansir Health, seperti inilah belanja kebutuhan pokok ala kenormalan baru.

1. Cashless Jadi Raja

money
Transaksi cashless diutamakan. (foto: pixabay/jarmoluk)

Para peritel amat diharapkan untuk berfokus menerapkan metode pembayaran tanpa bersentuhan dan kontak langsung. Pilihannya jatuh pada pembayaran nontunai.

Metode nontunai yang diterapkan tak hanya berupa pembayaran dengan debit dan kartu kredit, tapi juga memanfaatkan pembayaran dengan uang digital. CNBC melaporkan Walmart baru-baru ini menambahkan QR code pada aplikasi mereka. Penambahan itu memungkinkan kostumer membayar tanpa menyentuh layar ponsel ataupun menggesekkan kartu.

Contoh lainnya, CEO Starbucks Kevin Johnson menuliskan dalam blog bahwa jaringan toko kopi itu akan membuka kembali gerai mereka dengan fokus pada pengalaman bayar nontunai. Jika Starbucks saja bisa melakukan itu, bukan tak mungkin nantinya pembayaran nontunai dengan uang digital akan berlaku di supermarket.

2. Belanja Daring

belanja
Belanja daring meningkat selama pandemi. (foto: pixabay/mediamodifier)

Selama masa pandemi, terjadi peningkatan belanja daring kebutuhan pokok. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis rabu (3/6) menyebut untuk belanja daring sebanyak 51% merupakan transaksi untuk bahan makanan, kesehatan (20%), pulsa atau paket data (14%), sisanya untuk makanan minuman jadi dan belanja listrik. “Dengan berkumpulnya keluarga di rumah, tingkat belanja makanan baik bahan mentah maupun makanan siap konsumsi menjadi lebih tinggi,” terang BPS.

Meskipun menjadwalkan pengiriman bahan makanan tepat waktu untuk belanja daring cukup tricky, rupanya banyak orang melihat cara daring lebih aman ketimbang pergi sendiri ke supermarket atau pasar. Terlebih ketika belanja bahan makanan daring menawarkan kenyamanan, kemudahan, dan promo menarik.


3. Belanja Cepat

belanja
Antrean dibedakan dalam dua jenis: yang keranjang dan trolley. (foto: pixabay/michael gaida)

Beberapa jaringan supermarket di luar negeri kini menyediakan item yang telah dikemas untuk memudahkan pelanggan dalam membeli. Manajer cabang supermarket asal Denmark, Superbrugsen, Michael Bjerg, mengatakan penjualan buah dan sayur yang telah dikemas meningkat 15% di masa pandemi. "Konsumen menganggap produk yang telah dikemas jauh lebih aman," ujarnya kepada Fyens.dk.

Produk segar yang telah dikemas akan mempersingkat waktu belanja. Semakin cepat belanja, semakin sedikit pula waktu yang dihabiskan di luar rumah. Selain produk yang dikemas, supermarket juga menawarkan antrean kasir khusus.

Jaringan supermarket Morrisons di Inggris, seperti dilansir Health, telah membagi konsumen jadi antrean trolley dan keranjang. Dengan begitu, mereka yang berbelanja dalam jumlah sedikit tak perlu antre lama untuk membayar. Semakin cepat konsumen selesai belanja, makin cepat kecil pula kemungkinan supermarket penuh.


4. Pembelanja Pribadi

belanja
Personal shopper untuk kebutuhan pokok akan makin diminati. (foto: The new york times)

Dulu kamu mungkin hanya mengenal istilah personal shopper untuk urusan belanjan barang mahal, kini hal itu berubah. Jasa pembelanja pribadi untuk kebutuhan pokok seperti sayur, sembako, dan buah kini diminati.

Personal shopper akan memastikan kamu menerima barang pesanan sesuai dengan keinginanmu. Kamu tinggal duduk di rumah, memesan, dan menunggu pesanan kamu datang. Praktis dan memungkinkan kamu tetap di rumah. Selain itu, personal shopper terlatih amat mungkin akan memilihkan barang kebutuhan kamu dengan kualitas baik.

Minat yang makin tinggi terhadap jasa personal shopper membuka peluang bisnis baru. Kamu bisa menerima order lalu membantu membelanjakannya. Sudah pasti, kamu akan mendapat penghasilan dari jasa itu. (dwi)


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH