Gawai dan Buku Harus Berkolaborasi Buku masih memiliki kedalaman membaca ketimbang gawai. (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

SEMAKIN pesatnya teknologi, minat membaca buku menjadi menurun. Bagaimana tidak, melalui gawai berbagai informasi mudah didapat. Baik itu berupa artikel daring hingga buku elektronik.

Namun, Pendiri Pustaka Bergerak, Nirwan Arsuka menolak hal itu. Menurutnya, minat membaca orang Indonesia tidak menurun, hanya saja fasilitas membaca seperti pendistribusian buku yang kurang memadai.

"Minat membaca orang Indonesia rendah, itu hoax. Belakangan mereka yg mengejar untuk membaca. Anak-anak kalau dapat buku menagih kapan buku baru datang," ujarnya saat ditemui merahputih.com di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam acara Litbeat Festival 2018, Senin (10/11).

litbeat nirwan arsuka
Nirwan Arsuka, minat baca orang di Indonesia tinggi. (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Bahkan kata Nirwan, ketika ia mengunjungi beberapa tempat di Indonesia bersama pustaka bergerak, para anak-anak nampak ketagihan membaca. Mereka selalu meminta durasi membaca lebih lama lagi. "Selalu saja adik-adik itu meminta (waktu) lebih. Di tempat-tempat itu kebiasaan membaca sudah semakin besar," ceritanya.

Lebih lanjut, menurut Nirwan tingkat membaca buku rendah namun tingkat keterlibatan di digital sangat tinggi. Akan tetapi hal tersebut sebenarnya tidak dipermasalahkan karena gawai dan buku bisa saja berkolaborasi. Maksudnya baik buku dan gawai tidak bisa dipisahkan di zaman modern ini.

Gawai dapat berfungsi sebagai alat yang dapat mencari informasi dengan cepat. Tapi harus kembali lagi, untuk mengupas suatu isu harus melalui sebuah buku. Sebab buku merupakan sumber informasi yang sudah jelas. Sebuah buku telah melewati berbagai tahapan penyuntingan. "Sebenarnya kalau tidak ada gawai kita tidak lincah juga. Kalau gawai itu jenis bacaan banyak tapi kedalamannya tidak seperti buku," imbuhnya.

litbeat festival
Perlunya bimbingan orangtua dalam perkembangan anak-anak membaca buku. (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Dengan demikian, semakin sering membaca buku dengan sendirinya gawai pun akan ikut terlepas. Ditambah, orangtua sebagai generasi yang lebih berpengalaman juga harus bisa menjadi contoh agar anak semakin suka dengan membaca. "Sulit meminta anak membaca kalau bapak ibunya masih bermain handphone," paparnya.

Kembali lagi ia mengingatkan kebiasaan membaca akan muncul secara spontan jika memang ada fasiltas dan bahan bacaan yang memadai dan bermutu. Bahkan ia sendiri membolehkan konten apapun dijadikan sebuah buku agar seseorang tertarik membaca. Dengan catatan harus melalui bimbingan dan arahan. "Diperbanyak saja jenis buku. Tentang buku apa tidak penting yang penting ditulis dengan baik. Bahkan bacaan yang disensor itu enggak apa-apa tapi nanti ada yang memandu," tukasnya.(ikh)

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH