Gatot Subroto, Putra Priayi Sersan KNIL Gatot Subroto. (Kiri) (Foto/kotatoea.com)

BENDERA merah putih setengah tiang berkibar di hampir seluruh kota-kota besar, hari ini, 56 tahun silam. Indonesia berkabung. Letjen Gatot Subroto, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, meninggal lantaran serangan jantungan di usia 54 tahun, pada 11 Juni 1962.

Meski berumur singkat, jasa Gatot tak sedikit untuk perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sekitar seabad silam, putra Sayid Yudoyuwono tersebut menyelesaikan pendidikan kanak-kanak di Frobelschool. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah dasar Europe Lagere School (ELS) Banyumas.

Gatot kecil tergolong bocah bengal. Ia tercatat pernah dikeluarkan sekolah karena memukul anak Belanda. Tak tanggung-tanggung, Gatot berkelahi dengan anak Residen Banyumas, saat duduk di tingkat IV. Gatot pun terpaksa pindah sekolah dan menyelesaikan pendidikannya di sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS), Cilacap.

Jenderal Gatot Subroto (kiri) Soviet Memorial War, Tiergarten, Berlin, 1961. (Foto/Ist)
Jenderal Gatot Subroto (kiri) Soviet Memorial War, Tiergarten, Berlin, 1961. (Foto/Ist)

Pada 1927, Gatot lulus HIS. Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Gatot memilih bekerja kantoran, namun tak berjalan lama. Memasuki akhir 1928, bocah bandel ini masuk sekolah militer di Kaderschool Malang. Sebagai lulusan HIS, Gatot bisa jadi kopral atau Sersan.

Meski begitu, keputusan Gatot tak beroleh restu kedua orang tuanya. Ayahnya tak suka dengan pilihan Gatot masuk militer kolonial Koninklijk Nederladsch Indiesche Leger (KNIL), lantaran profesi militer dianggap miring di zaman kolonial ketimbang menjadi ambtenaar.

Dua tahun berselang, Gatot menyelesaikan pendidikan militernya dan mendapat pangkat Sersan Dua. Ia kemudian dikirim ke Padang Panjang, Sumatera Barat, selama lebih kurang 5 tahun. Sekitar tahun 1934, Gatot mendapat latihan kepolisian, lalu ditempatkan di unit Marsose di Jatinegara.

Gatot mendapat penempatan di Ambon, Maluku. Di sana gempuran tentara Jepang begitu kuat. Dalam tempo singkat KNIL hancur lebur. Gatot dan serdadu pribumi lain kabur dari pos mereka, karena Belanda sudah kalah.

Dari Ambon, Gatot pulang ke kampung halaman. Di sana, Sersan Dua itu menjadi vrijman. Gatot kemudian diangkat menjadi Kepala Polisi. Dari situlah ia mulai fokus lagi pada karirnya.

Di masa pendudukan Jepang, Gatot bergabung dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) pada 1943. Setelah mengikuti latihan enam bulan sebagai Chudanco (komandan kompi), dia kembali ke tanah kelahirannya lagi.Di Daidan (Batalyon) PETA Sumpyuh, Banyumas. Kolonel Soesalit, anak tunggal Pahlawan Nasional Kartini, jadi komandan Daidan tersebut. Setelah menjalani masa menjadi Chudanco, Gatot pun naik menjadi Daidanco (komandan batalyon) juga.

Di awal kemerdekaan, batalyon PETA yang dipimpinnya ikut masuk ke Tentara Keamanan Rakyat. Gatot pernah menjadi Panglima Divisi 2/Gunung Jati. Dia pernah menjadi Panglima di Indonesia Timur. Di masa Revolusi, dia pernah berpangkat Jenderal Mayor, tetapi karena turun lagi menjadi Kolonel, ketika ada penurunan pangkat besar-besaran bagi semua anggota TNI.

Pada 1953, Gatot mundur dari ketentaraan dan tinggal di Ungaran. Dia sering pergi berburu di hutan. Namun, Gatot dipanggil kembali pada 1956 untuk menjadi Wakil KSAD. Pangkat Terakhirnya Letnan Jenderal. Gatot dikenal sebagai komandan yang dekat dengan bawahan. Ada kalanya dia suka memanggil bawahannya denga sebutan "monyet".

Kredit : zaimul


Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH