Gatholoco, Sang Pangeran Kelana Mencari Ilmu Sejati Ilutrasi tokoh Gatholoco

GATHOLOCO, pangeran kerajaan Jajar (allegori) meninggalkan keraton untuk bertualang. Sang raja tak lupa berpesan agar dia berhati-hati terhadap lawan kelak akan dihadapi: Perjitawati (berarti “berhubungan seks dengan alat kelaminnya”) tinggal di Gua Terusan.

Sang pangeran pun memahami pesan ayahnya. Gatholoco kemudian hidup mengembara bersama seorang rekan bernama Dermagandhul (berarti buah zakar). Sehari-hari mereka manghabiskan waktu dengan madat, minum, dan berjudi.

Suatu hari, mereka bertemu tiga guru pesantren bernama Ngabdul Jabar, Ngabdul Manab, dan Amat Ngarib (dalam versi lain bernama Abdul Djabar, Kiai Hasan Besari, dan Kiai Ahmad Arif), sedang mengajarkan ilmu agama kepada murid-murid mereka. Para kiai ini meremehkan penampilan Gatholoco.

Gatholoco digambarkan bertubuh pendek, berpakaian compang-camping, dengan bau tak sedap. Wajahnya jelek. Rambut keriting, muka kotor, mata celong, alis putih, hidung kecil, mulut kecil, bergigi gingsul dan putih, bibir tebal berwarna biru, dagu panjang, pipi turun, telinga besar, serta leher pendek. Ketika tahu nama sang tamu, ketiga kiai itu tertawa, menganggap nama itu jorok dan haram.

“Badanku ini memang rusak, hidupku mengetahui badan yang bergerakkan ini, yaitu Rasulullah yang memperbaiki, sebab diri ini adalah kekasih yang menciptakan, Allah ta’alla, dengan seluruh sifat-Nya, menghidupkan penyatuan badan, yaitu saya ini ya Allah ya Muhammad”.

“Berani betul engkau mengakui wujudmu adalah Allah, apa kekuasaanmu?,” ujar ketiga kiai itu.

Gatholoco bercerita bahwa dirinya telah lebur atas kehendak Allah Yang Maha Suci, dan dirinya pun tak memiliki kekuasaan apa-apa. Hanya rasa yang dimilikinya, itu pun jika ada kehendak Tuhan. Bila Maha Pengasih-Nya tidak ada, maka diri ini hanya sepi, suwung atau kosong, tidak mengetahui apa-apa.

Dia lantas mengajukan tebak-tebakan kepada ketiga kiai mengenai asal-usul siapa lebih tua antara dalang, wayang, kelir, dan blencong. Ketiga kiai itu jawabannya salah. Akhirnya Gatholoco memenangi perdebatan.

Bagi Ben Anderson, Indonesianis dari Universitas Cornell-Amerika Serikat, aktivitas seksual dalam Suluk Gatholoco memiliki tujuan tunggal: “prokreasi dari Gatholoco baru, Lelaki Sempurna dalam embrio, siap satu hari menggantikan ayahnya dalam perang agama di Jawa,” tulisnya dalam "Suluk Gatoloco", dimuat di jurnal Indonesia, tahun 1981.(*) Vishal Rand



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH