Ganjil Genap DKI Kembali Berlaku di Tengah Banjir Kritik, Ini Imbasnya ke KRL Ilustrasi warga antre naik KRL. (Foto: Antara)

MerahPutih.com - Penerapan ganjil genap (gage) di 25 titik ibu kota Jakarta mengundang kritikan. Sejumlah pengamat menilai kebijakan Pemprov DKI dan Polda Metro Jaya yang kembali mulai diberlakukan itu tak sejalan dengan upaya menekan virus COVID-19.

"Dalam kondisi darurat harusnya yang dilakukan adalah langkah untuk menyelamatkan warganya. Bukan membuka peluang terhadap kondisi dan situasi yang potensi terjadinya ancaman terhadap keselamatan jiwa, seperti Ganjil genap," kata Pengamat transportasi Edison Siahaan kepada Merahputih.com di Jakarta, Senin (3/8).

Baca Juga:

Selama Tiga Hari, Pelanggar Ganjil Genap Belum Ditilang

Menurut Edison, penerapan gage tidaklah begitu mendesak atau demi kepentingan masyarakat. Apalagi, lanjut dia, penerapan kembali gage sama artinya memaksa publik menggunakan transportasi angkutan umum massal yang malah memicu kerumunan.

Lebih jauh, Edison justru curiga ada tujuan lain dari penerapan gage untuk mendapatkan pemasukan dari denda pelanggarnya yang cukup besar bagi pemasukan daerah. "Meskipun penerapan gage bukan dosa, tetapi azas kemanfaatan dan kelayakan juga harus dipertimbangkan," tutup Koordinator Indonesia Traffic Watch itu.

Sejumlah kendaraan berhenti saat lampu merah di dekat kawasan aturan ganjil-genap, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Sabtu (6/6/2020). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp).
Sejumlah kendaraan berhenti saat lampu merah di dekat kawasan aturan ganjil-genap, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Sabtu (6/6/2020). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp).

Pengamat Kebijakan Transportasi Azas Tigor Nainggolan berpendapat penerapan kembali gage oleh Pemprov DKI Jakarta tak ada hubungannya dengan upaya menekan pergerakan warga Jakarta di tengah pandemi.

Apalagi, kata dia, kebijakan ganjil-genap dilahirkan pada situasi normal, sehingga memang tidak dirancang untuk menyiasati keadaan di luar normal seperti saat pandemi sekarang.

"Jadi, menurut saya salah jika Pemprov DKI Jakarta ingin tetap menerapkan kebijakan ganjil-genap pada masa pandemi COVID-19," sesal dia.


Baca Juga:

Ganjil Genap Berlaku Lagi, DKI Jakarta Optimalkan Angkutan Umum

Sementara itu, pengguna kereta rel listrik Commuter Line Senin (3/8) di sejumlah stasiun dialporkan relatif stabil. Padahal, kebijakan Ganjil Genap baru saja diberlakukan. Ditambah perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi dan pengaturan jam kerja.

Humas PT KCI Anne Purba mengatakan, dari data tiket elektronik PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) hingga pukul 07.00 WIB, jumlah pengguna KRL secara keseluruhan tercatat 71.325 pengguna.

"Angka ini tidak jauh berbeda dari Senin pekan lalu pada waktu yang sama dimana terdapat 72.529 pengguna," kata Anne dalam keteranganya, Senin (3/8).

ganjil genap
Caption

Berdasarkan data KCI, sejumlah stasiun yang hingga pukul 07.00 WIB pagi ini meningkat penggunanya antara lain stasiun Bogor, Bojonggede, dan Rangkasbitung.

Di Stasiun Bogor pagi ini terdapat 6.919 pengguna (naik 6% dibanding waktu yang sama pekan lalu), di Stasiun Bojonggede 5.529 pengguna (naik 3%), dan di Stasiun Rangkasbitung tercatat 2.301 pengguna (naik 27%). Untuk stasiun-stasiun lainnya jumlah pengguna cenderung stabil tidak ada lonjakan penumpang. .

"Sehingga situasi di stasiun pagi ini tetap tertib, tidak terdapat lonjakan jumlah pengguna maupun antrean yang melebihi hari-hari sebelumnya," tutup pejabat KCI itu. (Knu)

Baca Juga:

PSI: Buat Apa Maksakan Ganjil Genap?


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH