Ganjar Pranowo Usul Santri Pakai Sarung dan Peci Batik Lasem Ganjar Pranowo saat menghadiri acara malam Imlek di Lasem. (MP/Widi Hatmoko)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut, batik tulis Lasem mencerminkan keragaman budaya, serta simbol harmonisasi antara masyarakat Jawa, santri, dan warga Tionghoa. Keharmoniasan masyarakat Jawa, santri, dan Tionghoa ini juga, menurut Ganjar Pranowo, menunjukkan sejarah Lasem yang sangat luar biasa.

"Lasem ini kota yang sangat luar biasa, perpaduan menyatu tanpa ada skat, antara masyarakat Jawa, santri dan Tionghoa. Saya berharap ini akan menjadi cermin," ujar Ganjar Pranowo saat menghadiri acara malam Imlek di Balai Gedung Kedamaian, Klenteng Poo An Bio, Lasem, Kabupaten Rembang, Jumat (27/1) malam.

Ganjar juga mengusulkan, agar perajin batik tulis Lasem ini bisa mendesain batik khusus untuk para santri. Sehingga keberagaman budaya ini semakin berbaur, dan menjadikan kota Lasem menjadi kota yang khas.

"Untuk santri didesainkan sarung batik yang khas, atau pecinya, itu akan luar biasa. Karena saya pernah dikirimi foto, lagi umroh pakai baju Jawa, blangkonan, pakai jarik. Dan ini menunjukkan bahwa baju bisa dipakai siapapun, di manapun dan untuk apapun," paparnya.

Salah seorang sesepuh masyarakat Tionghoa Lasem, Sie Hwie Djan atau Pak Gandor mengungkapkan, harmonisasi masyarakat Jawa, santri, dan Tionghoa Lasem ini sudah terjalin sejak dulu, jauh sebelum penjajah Belanda masuk di Indonesia. Menurutnya, masyarakat Tionghoa yang ada di Lasem, umumnya adalah masyarakat Tionghoa Peranakan, perkawinan silang antara orang-orang Tionghoa dari Cina daratan yang datang ke Lasem pada sekitar abad ke XIV silam.

"Sekitar tahun 1400-an itu, sekitar 7.000 orang Tionghoa mendarat ke Lasem, di Binangun sana, dan semuanya laki-laki. Karena mereka orang-orang yang normal, secara biologis, otomatis ya menikah, ya dengan orang-orang sini (pribumi-red)," katanya.



Widi Hatmoko

LAINNYA DARI MERAH PUTIH