Ganja Kembali Jadi Komoditas Binaan Tanaman Obat Kementan Ilustrasi Ganja. Foto: Pixabay/rexmedlen).

MerahPutih.com - Kementerian Pertanian sejak awal tahun lalu, telah mengeluarkan aturan anyar Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sejak 3 Februari lalu.

Dalam lampiran keputusan tersebut, Tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian, dibagian Direktorat Jenderal Holtikltura untuk komoditas tanaman obat Ganja yang memiliki nama latin Cannabis Sativa menjadi salah satu dari 66 komoditas tamanan obat yang jadi binaan Kementerian Pertanian.

Aturan Komoditas Binaan Kementerian Pertanian meliputi komoditas binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Baca Juga:

Negara yang Melegalkan Ganja untuk Medis. Turki Salah Satunya

Dalam aturan sebelumnya, Kepmentan No. 141 Tahun 2019 tentang Jenis Komoditas Tanaman Binaan Lingkup Kementerian Pertanian tamanan Ganja juga masuk dalam komoditas binaan tamanan obat. Dengan nomor 12 dari 65 komoditas tamanan obat yang jadi binaan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian.

Dalam UU Narkotika No. 35 Tahun 2009, ganja termasuk ke dalam narkotika golongan 1 dan tidak digunakan dalam pengobatan. Badan Narkotika Nasional secara tegas menolak upaya legalisasi ganja.

Ilustrasi barang bukti ganja
Ilustrasi barang bukti ganja. (Foto: Kanugrahana).

Sebelumnya, Kepala Bidang Mutu dan Riset Pusat Laboratorium Narkotika Badan Narkotika Nasional (BNN), Rieska Dwi Widayati,mengatakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah Aceh ini mengandung lebih dari 500 zat kimia termasuk 100 komponen yang terkait dengan delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) yang disebut dengan cannabinoids.

THC adalah psikotropika yang merupakan senyawa utama dari ganja yang bertanggungjawab atas sebagian besar efek psikologis ganja. Euforia dan halusinasi yang ditimbulkan dari penggunaan ganja dapat merusak cara kerja syaraf pusat manusia hingga menyebabkan ganguan jiwa.

“Ganja itu kenapa berbahaya, karena memang ganja itu efeknya dapat menyebabkan gila dan yang jelas lagi dapat merusak organ, salah satunya paru-paru”, ujar Riska dilansir bnn.go.id. (Pon)

Baca Juga:

Wacana Legalisasi Ganja, Peneliti Siap Buka Pintu Diskusi dengan Semua Kalangan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Delapan Orang Jadi Tersangka Kebakaran Kejagung, Mayoritas Tukang dan Mandor
Indonesia
Delapan Orang Jadi Tersangka Kebakaran Kejagung, Mayoritas Tukang dan Mandor

Penetapan tersangka ini diperkuat dengan keterangan 10 saksi ahli

Usai Tertembak, Anggota TGPF Kasus Intan Jaya Diterbangkan ke Jakarta
Indonesia
Usai Tertembak, Anggota TGPF Kasus Intan Jaya Diterbangkan ke Jakarta

Korban yang terluka dievakuasi dengan Helikopter Caracal TNI AU dari Sugapa, Intan Jaya jam 07.00 WIT

Kata Maaf Terakhir Kapten Afwan, Eks Skuadron TNI AU Pilot Sriwijaya Air SJ-182
Indonesia
Wagub DKI Jawab Penilaian BPK Soal Anggaran Formula E
Indonesia
Wagub DKI Jawab Penilaian BPK Soal Anggaran Formula E

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menegaskan bahwa fee untuk penyelenggaraan Formula E yang sudah dicairkan Pemprov DKI Jakarta masih aman.

Konsekuensi Jika KPK Tak Transparan Soal TWK
Indonesia
Konsekuensi Jika KPK Tak Transparan Soal TWK

Padahal ini bukan rekrutmen pegawai atau ASN baru

Debat dengan Penyidik, Kakak Penyuap Nurhadi Minta Hakim Buka Rekaman Suara dan CCTV
Indonesia
Debat dengan Penyidik, Kakak Penyuap Nurhadi Minta Hakim Buka Rekaman Suara dan CCTV

Pengadilan Tipikor Jakarta kembali menggelar sidang lanjutan kasus suap dan gratifikasi mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono, Kamis (18/2).

Cuitan 'Paha Calon Wawalkot Tangsel' Dinilai Rendahkan Martabat Perempuan
Indonesia
Cuitan 'Paha Calon Wawalkot Tangsel' Dinilai Rendahkan Martabat Perempuan

Hal tersebut lantaran, cuitan tersebut mengarah pada satu-satunya calon Wakil Wali kota perempuan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Revisi UU ITE Masuk Prolegnas 2021?
Indonesia
Revisi UU ITE Masuk Prolegnas 2021?

Presiden menekankan bahwa penerapan UU ITE harus tetap menjunjung tinggi prinsip keadilan

Kepatuhan Prokes di Tempat Wisata Jakarta Paling Rendah
Indonesia
Kepatuhan Prokes di Tempat Wisata Jakarta Paling Rendah

"Yaitu hanya sebesar 27% orang yang patuh untuk menjaga jarak di tempat wisata," ungkapnya.

 Mobilitas Masyarakat di Bandung Turun 10 Persen Selama PPKM Darurat
Indonesia