Fotografi, Media Ekspresi Anak Berkebutuhan Khusus Direktur GFJA Oscar Motuloh (kanan) bersama Direktur Sekolah ABK Spectrum Tisna Chandra (tengah). (foto: Antara/Galih Pradipta)

MASYARAKAT umum hingga kini masih belum memahami benar apa yang disebut dengan anak berkebutuhan khusus. Bahkan masih ada ekspresi miring, negatif, dari dunia luar yang ditujukan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK).

Demikian diungkapkan pendiri Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus Spectrum Tisna Chandra saat berbicara dalam acara bincang-bincang Fotografi Sebagai Media Ekspresi bagi Anak Berkebutuhan Khusus yang digelar di Museum dan Galeri Jurnalistik Antara (GFJA), Kamis (12/4). Acara bincang-bincang itu merupakan rangkaian pameran foto yang digelar Spectrum bekerja sama dengan Galeri Foto Jurnalistik Antara.

"Banyak orang yang beranggapan anak berkebutuhan khusus belajarnya cuma activity daily living saja. Yang penting bisa mandiri, tidak marah-marah, tidak berputar-putar di mal," ujar Tisna yang merupakan sarjana psikologi.

Anak-anak berkebutuhan khusus memang berbeda dari orang kebanyakan. Yang termasuk ABK antara lain anak dengan autisme, asperger, dan ADHD.

Anggapan minus itulah yang kemudian membuat Tisna bergerak mendirikan Spectrum Treatment and Education Centre pada 1998. Saat pertama kali didirikan, menurut Tisna, Spectrum merupakan sebuah tempat rehabilitasi yang menangani anak berkebutuhan khusus. Namun, seiring berjalan waktu, banyak anak yang telah ia tangani di Spectrum malah tidak diterima, menjadi bahan perundungan, bahkan dijadikan kelinci percobaan sosial di sekolah umum.

Dari sanalah, ia mengembangkan Spectrum menjadi sekolah terpadu bagi anak berkebutuhan khusus bersama dokter spesialis kejiwaan dan psikiater Dahlia Almatsier dan Sandra Talogo, Msc.

"Saya berkeyakinan bahwa anak lahir dengan potensi. Selain itu, setiap anak juga punya hak belajar. Tugas kita untuk membantu mengembangkan potensi tersebut," ujarnya.

Keyakinan itu benar adanya. Meskipun punya keterbatasan dalam beberapa hal, anak-anak berkebutuhan khusus juga punya potensi. Hal itulah yang digali pihak Spectrum. Para ABK diperkenalkan tak hanya pada pendidikan formal, tapi juga bidang-bidang kejuruan. Dalam hal ini, bidang yang paling mudah digali dan dikembangkan untuk potensi ABK, yaitu melukis, art & craft, menari, menyanyi, bermain musik, dan yang belakangan dicoba ialah fotografi.

Para ABK mengekspresikan diri lewat berbagai jepretan di kehidupan sehari-hari mereka. (foto: MP/Dwi Astarini)

Potensi fotografi para ABK di Spectrum mulai digali sejak tahun lalu. Alasan pemilihan fotografi muncul karena melihat banyaknya ABK yang gemar memotret dengan memanfaatkan ponsel.

Dalam bimbingan dua guru, para ABK tersebut belajar tentang fotografi. Namun, tak mudah memberikan materi fotografi kepada para ABK.

"Saat pertama kali dikasi pegang kamera, ada yang taruh kamera di dahi. Ada juga yang tertarik dengan bunyi shutter. Lebih susah lagi, ada yang ngumpet di bawah meja," ujar Zulfa, salah seorang pembimbing workshop fotografi Spectrum.

Namun, tantangan dalam mengajar itu tak mematahkan semangat para pembimbing. Mereka pun mengubah cara menyampaikan materi. Caranya ialah mengikuti flow atau minat anak. Dari sana kemudian para ABK mulai tertarik, apalagi setelah mereka melihat foto yang mereka hasilkan.

"Mungkin banyak yang menyangka hasil foto yang dipamerkan hari ini dibuat dengan arahan atau bantuan pengajar. Nyatanya, foto-foto ini murni hasil karya anak-anak," ujar Tisna.

'Aldo Datang' karya Taha. (foto: MP/ Dwi Astarini)

Sebanyak 24 foto hasil karya para ABK ditampilkan dalam pameran foto Selamat Datang di Duniaku di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, 12-22 April 2018. Kurator pameran yang juga Direktur Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara Oscar Motuloh mengatakan karya foto para ABK punya orisinalitas.

"Hasil karya dalam bentuk coretan ataupun potret terlihat tanpa beban. Ini berbeda dengan orang lain yang berkarya dengan beban. Para ABK ini memotret ya hanya merekam apa yang mereka suka dan lihat, tanpa beban harus dinilai bagus," ujar Oscar saat berbicara di acara yang sama.

Foto-foto dan lukisan yang dipamerkan merupakan hasil workshop seni rupa yang diadakan di Sekolah Spectrum dua kali seminggu. Khusus untuk fotografi, ABK di Spectrum mendapat pelatihan sebanyak 5-6 kali pertemuan di bawah bimbingan pengajar dari GFJA, yaitu Danny Wijaya dan Mosista Pambudi.

"Dari workshop itu, para ABK ini menghasilkan karya yang ekspresif. Mereka punya orisinalitas dan kemerdekaan dalam berkarya," kata Oscar.

Ia juga menyebut tak sekadar jadi media ekspresi bagi ABK, fotografi juga berlaku sebagai sisi terapi yang amat diharapkan berlanjut setelah pameran usai.

Memang, hal itulah yang nampak dalam karya-karya yang dipamerkan. Salah satunya dalam karya foto hasil jepretan Taha. Anak kelas 2 SMU itu dengan jujur memotret seorang kawannya yang tengah berjalan memasuki sekolah. Lain lagi dengan karya Reyhan yang menampilkan sosok guru saat beraktivitas di lingkungan sekolah.

"Ini yang berbeda dari anak berkebutuhan khusus. Mereka bisa memotret lingkungan sekitar, yang dekat dengan mereka. Lain halnya dengan orang lain yang justru ingin motret yang jauh. Malah bingung saat disuruh motret lingkungan sekitarnya," ujar fotografer senior tersebut.

Guru dan lingkungan sekolah jadi arena fotografi bagi para ABK, seperti pada foto 'Ibu Guruku' karya Reyhan. (foto: MP/Dwi Astarini)

Kemerdekaan, kejujuran, juga orisinalitas itulah yang menjadi kekuatan dalam setiap foto karya para siswa Spectrum yang ditampilkan di GFJA tersebut. Yang membuat foto-foto itu makin menyentuh ialah adanya kutipan pendamping yang merupakan ungkapan isi hati para ABK tentang fotografi.

Para ABK tersebut mungkin punya tantangan dalam mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tapi foto-foto yang mereka hsilkan lewat rana dengan jelas mengundang semua orang untuk melihat lebih dalam ke dunia mereka, dunia yang penuh warna.

Seolah, lewat gambar, mereka menyambut, "Selamat datang di duniaku."(dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH