Photojournalist Mentorship 2020

Foto: Binar di Pesara

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

  • Hari terasa cepat berlalu bagi Nadi Bin Eji alias Amang (47). Sudah hampir 18 jenazah ia makamkan sore itu. Bukan sembarang jenazah, namun jenazah korban Covid-19, virus yang kini tengah menghantui seluruh penjuru dunia. Amang dan para penggali kubur di Pondok Ranggon, Jakarta Timur pun gelisah, sebab mereka yakin esok atau lusa masih akan banyak lagi jenazah dengan virus yang sama yang harus mereka kebumikan. Tak jarang banyaknya jenazah yang datang menyebabkan Amang harus pulang larut malam, pulang ketika saat buah hati sudah terlelap. Sebelum memasuki rumah, ia harus memastikan dirinya bersih dengan cairan disinfektan yang disiapkan sang istri, Amang juga wajib untuk mandi di komplek pemakaman dulu sebelum beranjak pulang. Selama pandemi ini, dalam sehari Amang pernah menggali kubur untuk 32 jenazah, sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi bagi dirinya pada bulan Mei lalu. Semua itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menjadi garda terakhir, sekaligus garda terdepan untuk keluarganya.

Bertahan ala Kupu-Kupu Malam
Tradisi
Foto: Kampung yang Terkubur
Foto
Memotret Kampung yang Terkubur
Tradisi
Bertahan ala Kupu-Kupu Malam
Tradisi
Foto: Kampung yang Terkubur
Foto
Memotret Kampung yang Terkubur
Tradisi
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Jokowi Larang Mudik, Terminal Kalideres Ramai Pemudik Pulang Kampung
Foto
Jokowi Larang Mudik, Terminal Kalideres Ramai Pemudik Pulang Kampung

Suasana terminal Kalideres ramai akan pemudik yang tetap ingin kembali ke kampung halaman pasca penyataan larangan mudik Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah oleh Presiden Joko Widodo

Tangerang Raya Terapkan PSBB, KRL Tetap Beroperasi
Foto
Tangerang Raya Terapkan PSBB, KRL Tetap Beroperasi

Kementerian Perhubungan memutuskan tidak memberhentikan sementara kegiatan operasional KRL Commuter Line Jabodetabek saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

Balai Latihan Kerja Bantu Pembuatan APD Untuk Tenaga Medis Lawan Corona
Foto
Balai Latihan Kerja Bantu Pembuatan APD Untuk Tenaga Medis Lawan Corona

Siswa pelatihan menyelesaikan pembuatan alat perlindungan diri (APD) untuk tenaga medis di Balai Latihan Kerja Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Banten

Ribuan Mahasiswa Kepung Tugu Adipura Tangerang
Foto
Ribuan Mahasiswa Kepung Tugu Adipura Tangerang

Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Tangerang menggelar unjuk rasa menolak penetapan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja yang disahkan DPR-RI dengan mengepung Tugu Adipura, Jalan Veteran, Kota Tangerang, Banten

Kemenhub Gelar Rapid Test Untuk Pengemudi Angkutan Umum
Foto
Kemenhub Gelar Rapid Test Untuk Pengemudi Angkutan Umum

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melakukan rapid test secara drive thru untuk para pengemudi angkutan umum

Pelaksanaan Protokol Kesehatan di Pusat Perbelanjaan
Foto
Pelaksanaan Protokol Kesehatan di Pusat Perbelanjaan

Pusat perbelanjaan AEON Mall telah melakukan penerapan protokol kesehatan berupa physical distancing untuk mengantisipasi penularan Covid-19