Photojournalist Mentorship 2020

Foto: Bertahan ala Kupu-Kupu Malam

  • Pandemi Covid-19 membuat para pekerja seks komersial harus mengisolasi diri guna menghindari penyebaran virus. Seperti yang dialami salah satu pekerja seks komersial di Jakarta, sebut saja Alen (21). Ia merasa dirinya tidak dapat perhatian dari pemerintah. Untuk menyambung hidup, perempuan berambut pirang ini sekarang terpaksa beralih profesi sebagai kuli cuci pakaian. Meski belum dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tetap berjuang dan bekerja keras. Berbagai cara juga ia lakukan untuk bertahan hidup, ia juga menawarkan jasa via daring atau yang acap dikenal dengan sebutan Video Call Sex (VCS). Dari telepon genggamnya, Alen mulai bisa menyambung hidup.

  • Pandemi Covid-19 membuat para pekerja seks komersial harus mengisolasi diri guna menghindari penyebaran virus. Seperti yang dialami salah satu pekerja seks komersial di Jakarta, sebut saja Alen (21). Ia merasa dirinya tidak dapat perhatian dari pemerintah. Untuk menyambung hidup, perempuan berambut pirang ini sekarang terpaksa beralih profesi sebagai kuli cuci pakaian. Meski belum dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tetap berjuang dan bekerja keras. Berbagai cara juga ia lakukan untuk bertahan hidup, ia juga menawarkan jasa via daring atau yang acap dikenal dengan sebutan Video Call Sex (VCS). Dari telepon genggamnya, Alen mulai bisa menyambung hidup.

  • Pandemi Covid-19 membuat para pekerja seks komersial harus mengisolasi diri guna menghindari penyebaran virus. Seperti yang dialami salah satu pekerja seks komersial di Jakarta, sebut saja Alen (21). Ia merasa dirinya tidak dapat perhatian dari pemerintah. Untuk menyambung hidup, perempuan berambut pirang ini sekarang terpaksa beralih profesi sebagai kuli cuci pakaian. Meski belum dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tetap berjuang dan bekerja keras. Berbagai cara juga ia lakukan untuk bertahan hidup, ia juga menawarkan jasa via daring atau yang acap dikenal dengan sebutan Video Call Sex (VCS). Dari telepon genggamnya, Alen mulai bisa menyambung hidup.

  • Pandemi Covid-19 membuat para pekerja seks komersial harus mengisolasi diri guna menghindari penyebaran virus. Seperti yang dialami salah satu pekerja seks komersial di Jakarta, sebut saja Alen (21). Ia merasa dirinya tidak dapat perhatian dari pemerintah. Untuk menyambung hidup, perempuan berambut pirang ini sekarang terpaksa beralih profesi sebagai kuli cuci pakaian. Meski belum dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tetap berjuang dan bekerja keras. Berbagai cara juga ia lakukan untuk bertahan hidup, ia juga menawarkan jasa via daring atau yang acap dikenal dengan sebutan Video Call Sex (VCS). Dari telepon genggamnya, Alen mulai bisa menyambung hidup.

  • Pandemi Covid-19 membuat para pekerja seks komersial harus mengisolasi diri guna menghindari penyebaran virus. Seperti yang dialami salah satu pekerja seks komersial di Jakarta, sebut saja Alen (21). Ia merasa dirinya tidak dapat perhatian dari pemerintah. Untuk menyambung hidup, perempuan berambut pirang ini sekarang terpaksa beralih profesi sebagai kuli cuci pakaian. Meski belum dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tetap berjuang dan bekerja keras. Berbagai cara juga ia lakukan untuk bertahan hidup, ia juga menawarkan jasa via daring atau yang acap dikenal dengan sebutan Video Call Sex (VCS). Dari telepon genggamnya, Alen mulai bisa menyambung hidup.

  • Pandemi Covid-19 membuat para pekerja seks komersial harus mengisolasi diri guna menghindari penyebaran virus. Seperti yang dialami salah satu pekerja seks komersial di Jakarta, sebut saja Alen (21). Ia merasa dirinya tidak dapat perhatian dari pemerintah. Untuk menyambung hidup, perempuan berambut pirang ini sekarang terpaksa beralih profesi sebagai kuli cuci pakaian. Meski belum dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tetap berjuang dan bekerja keras. Berbagai cara juga ia lakukan untuk bertahan hidup, ia juga menawarkan jasa via daring atau yang acap dikenal dengan sebutan Video Call Sex (VCS). Dari telepon genggamnya, Alen mulai bisa menyambung hidup.

  • Pandemi Covid-19 membuat para pekerja seks komersial harus mengisolasi diri guna menghindari penyebaran virus. Seperti yang dialami salah satu pekerja seks komersial di Jakarta, sebut saja Alen (21). Ia merasa dirinya tidak dapat perhatian dari pemerintah. Untuk menyambung hidup, perempuan berambut pirang ini sekarang terpaksa beralih profesi sebagai kuli cuci pakaian. Meski belum dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tetap berjuang dan bekerja keras. Berbagai cara juga ia lakukan untuk bertahan hidup, ia juga menawarkan jasa via daring atau yang acap dikenal dengan sebutan Video Call Sex (VCS). Dari telepon genggamnya, Alen mulai bisa menyambung hidup.

Bertahan ala Kupu-Kupu Malam
Tradisi
Foto: Kampung yang Terkubur
Foto
Memotret Kampung yang Terkubur
Tradisi
Bertahan ala Kupu-Kupu Malam
Tradisi
Foto: Kampung yang Terkubur
Foto
Memotret Kampung yang Terkubur
Tradisi
  • LAINNYA DARI MERAH PUTIH
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Wisata Gua Pindul di Masa Kenormalan Baru
Travel
Wisata Gua Pindul di Masa Kenormalan Baru

Wisatawan wajib mengenakan masker saat menjelajahi wisata alam di Gua Pindul, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Vaksinasi Pedagang Pasar di Kabupaten Tangerang
Foto
Vaksinasi Pedagang Pasar di Kabupaten Tangerang

Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pedagang saat vaksinasi di Summarecon Mall Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten

Vaksin Massal Covid-19 Pelajar di Kota Tangerang
Foto
Vaksin Massal Covid-19 Pelajar di Kota Tangerang

Vaksinator menyuntikan vaksin Covid-19 Sinovac kepada pelajar saat Vaksinasi Massal Pelajar Serentak di 14 Provinsi di SMAN 1 Kota Tangerang.

Pocong Sosialiasikan Protokol Kesehatan di Tangerang
Foto
Pocong Sosialiasikan Protokol Kesehatan di Tangerang

Petugas mensosialisasikan protokol kesehatan Covid-19 menggunakan sosok pocong di Pasar Kreo, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, Banten

Foto: Kampung yang Terkubur
Foto
Foto: Kampung yang Terkubur

bencana banjir bandang terparah sepanjang sejarah desa. Lebih dari 500 rumah kondisinya rusak parah tertimbun material dari pengunungan.