Fisik Mereka Menua tapi Tetap Berkarakter Muda The Rolling Stones, anggotanya sudah bukan anak muda tapi masih diterima oleh generasi muda. (Foto: billboard)

MELIHAT Bob Dylan, Mick Jagger, Paul McCartney, Rod Stewart, Tina Turner, Aretha Franklin, Eric Clapton atau legenda-legenda dalam dunia musik, masih mampu berada di panggung seolah panggung mereka dahulu, jaman muda.

Bahkan masih menjalani serangkaian tur ke berbagai kota atau negara tanpa terlihat keletihan. Bisa jadi mereka memang menyiapkan diri lebih baik sebelum melakukan aksi panggungnya. Secara fisik musisi-musisi ini terlihat tua, bahkan seusia kakek nenek penontonnya yang muda. Mereka seolah menolak beristirahat di usia uzurnya, duduk menikmati hari pada properti yang mewah.

Musisi-musisi itu adalah produk generasi setelah perang dunia 2. Generasi yang membuat revolusi budaya pop yang meletakan budaya modern saat ini. Revolusi yang mereka buat tidak hanya pada musik dan segala hal yang berhubungan dengan itu. Melainkan mengubah pola pikiran generasi saat itu dan meninggalkan pola-pola pikir lawas. Alhasil semua bidang kehidupan terpengaruh untuk berubah.

Agaknya fisik yang menua tak meberikan efek yang sama pada pemikiran dan karakter mereka. Konsep muda bukan tentang fisik, namun lebih pada pola pikir dan karakter yang tak henti untuk terus berkreasi. Usia muda adalah ide bagi mereka untuk memberikan segala kemampuannya seperti jaman dahulu ketika fisik masih sangat kuat.

Bisa jadi mereka memang menolak jadi tua. Para pendobrak kebudayaan lawas ini tak pernah menempatkan diri sebagai seseorang yang memiliki usia tua. Tidak pernah merasa dirinya berbeda dengan generasi di bawahnya. Kesetaraan menjadi hal yang selalu ada di kepala mereka. Tak mengherankan berbagai kreasi musiknya masih dianggap relevan pada era ini. (psr)



Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH