Film Anak di Indonesia Langka, Petualangan Sherina masih Diputar Riri Riza (tiga dari kiri), Mira Lesmana (empat dari kiri) dan Ketua Barekraf Triawan Munaf (lima dari kiri) bersama RAN di Galeri Indonesia Kaya. (foto: MP/Albi)

PERFILMAN Indonesia berkembang dengan pesat. Setiap minggunya, selalu ada judul baru yang ditawarkan ke masyarakat. Tema dan genrenya pun semakin beragam. Sayangnya, film yang beredar di masyarakat tak satu pun film anak-anak.

"Dari 500 judul film yang beredar selama lima tahun terakhir, hanya ada 15 film anak-anak," tutur produser Mira Lesmana. Ia menyebut film anak-anak tak mengalami regenerasi yang baik sejak 2000-an.

Hal tersebut diakui pula oleh Ketua Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf. Kelangkaan film anak-anak membuat para orangtua terpaksa memutar kembali film anak-anak yang sempat hits di era 2000-an seperti Petualangan Sherina atau Joshua Oh Joshua.

"Suatu hari saya bertemu orangtua muda dan dia berkata ke saya, 'Pak saya masih putar film Petualangan Sherina lo ke anak saya'. Jujur. Bukannya bangga, saya justru prihatin karena itu menunjukkan betapa langkanya film anak-anak di Indonesia," jelas pria yang juga merupakan ayah dari Sherina Munaf tersebut.

Lucunya, ketika anak tersebut dipertemukan dengan Sherina yang telah dewasa, anak tersebut kecewa.

"Waktu ketemu Sherina, anaknya komplain bilang bukan yang ini Sherina. Jelas saja Sherina sudah berbeda, wong itu film 18 tahun lalu," ujarnya dengan nada prihatin.

Tak ingin melihat kondisi tersebut terjadi berlama-lama, Bekraf mengajak Miles Production untuk bersama-sama membuat film anak-anak. Triawan mengaku bahwa langkah tersebut pertama kali justru dicetuskan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

"Beliau memberi mandat ke saya untuk menghidupkan kembali film anak-anak," ucapnya. Kala mendapat tugas tersebut, ia terpikirkan sosok Mira Lesmana yang terbukti mampu menghasilkan sejumlah film anak-anak berkualitas seperti Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi. Keinginan Triawan untuk mengajak Mira memproduksi film sejalan dengan harapan Mira. Sebagai insan perfilman Tanah Air, ia merasa bertanggung jawab atas kelangkaan film anak-anak.

Sebagai seorang produser yang peduli terhadap film anak-anak, ia mencoba kembali memproduksi satu judul film anak-anak.

"Di antara keramaian film-film yang beredar saat ini, sudah saatnya saya kembali membuat film anak-anak," imbuh Mira saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya, Senin (16/4). Ia pun mengajak partner sejatinya, Riri Riza, untuk membuat film anak-anak berjudul Kulari ke Pantai.

riri riza-mira lesmana
Riri Riza dan Mira Lesmana kembali garap film anak-anak. (foto: MP/Albi)

Mira merasa membuat film anak-anak di era milenial bukan perkara mudah. Ia mengaku tantangannya jauh lebih berat daripada sebelumnya. Hal tersebut terjadi lantaran menurutnya anak-anak saat ini jauh lebih kritis.

"Kunci membuat film anak-anak ialah tidak menggurui karena jika sudah demikian, anak-anak akan langsung turn off," urainya.

Senada dengan Mira, Triawan pun menyampaikan hal serupa. Ia mengungkapkan ketika ingin menggarap film anak-anak, para orangtua menuntutnya untuk membuat film yang mendidik.

"Semua orangtua menuntut hal yang sama. Menurut saya, film yang bagus sudah pasti mendidik. Kita percayakan saja pada Mira dan Riri," tukasnya.

Supaya film yang akan diputar pada 28 Juni 2018 tersebut diterima, Triawan menambahkan bahwa film harus menyentuh pop culture yang saat ini disukai dan dekat dengan dunia anak-anak.

Untuk membuat film yang dekat dengan anak-anak, Mira melibatkan anak-anak untuk melihat skenario yang dibuat, salah satunya anak dari Riri Riza.

"Kami minta anak-anak di sekeliling kami untuk melihat naskahnya, apakah sudah sesuai apa belum," jelas Mira.

Tantangan lain yang dihadapi Mira selaku produser adalah mengajak sejumlah stasiun TV untuk mempromosikan film tersebut. Ia mengaku beberapa kali ditolak oleh pihak stasiun TV.

"Saya hanya bisa menelepon dan menelepon," tukasnya.(Avi)

Kredit : iftinavia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH