MerahPutih.com - Taktik bola mati merupakan bagian penting dari sepak bola modern, khususnya di Premier League.
Hal itu ternyata menjadi alasan mengapa FIFA dan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), bergerak cepat untuk memperkenalkan aturan "anti-blocking", yang juga disebut sebagai "anti-Arsenal", menjelang Piala Dunia 2026.
Peraturan baru ini akan menghukum pemain yang menghalangi atau mencegah lawan saat momen tendangan bebas dan tendangan sudut.
Diambil dari prinsip-prinsip bola basket, aturan ini melarang pemain bertindak sebagai penghalang atau penahan untuk menciptakan ruang bagi rekan satu tim.
Baca juga:
Prediksi Mengejutkan Piala Dunia 2026: Belanda Disebut Jadi Juara, Portugal Harus Gigit Jari
Aturan 'Anti-Arsenal' Diterapkan di Piala Dunia 2026 dan Semua Kompetisi

Aturan 'Anti-Arsenal' mulai berlaku 1 Juli 2026 di semua kompetisi. Foto: Dok. West Ham United
Nantinya, petugas VAR akan diizinkan untuk campur tangan jika tindakan tersebut terjadi sebelum tembakan dilakukan, bahkan saat bola belum dimainkan. Perubahan ini akan berlaku di Piala Dunia 2026 dan semua kompetisi sepak bola mulai 1 Juli 2026.
Salah satu contoh yang digunakan selama diskusi adalah gol Ben White dalam pertandingan persahabatan antara Inggris dan Uruguay.
Berdasarkan aturan baru ini, gol tersebut akan dianulir karena Adam Wharton dan Harvey Barnes, terbukti menghalangi pemain bertahan selama tendangan sudut.
Baca juga:
Langkah ini diperkirakan akan berdampak signifikan pada klub-klub Premier League, terutama Arsenal. The Gunners telah mendapatkan perhatian luas musim ini, karena pendekatan fisik mereka dalam situasi bola mati.
Mereka bahkan sudah mencetak 24 gol dari situasi bola mati (tidak termasuk penalti) di Premier League.
Tutup Mulut saat Adu Argumen Bisa Kena Kartu Merah

Gianluca Prestianni bantah tuduhan rasis ke Vinicius Junior. Foto: Dok. Real Madrid
Aturan anti-blocking hanyalah salah satu dari beberapa perubahan yang diperkenalkan untuk Piala Dunia 2026. Hal itu juga menyusul kontroversi yang melibatkan dugaan pernyataan rasis antara pemain Benfica, Gianluca Prestianni dan pemain Real Madrid, Vinicius Junior.
Jadi, setiap pemain yang menutupi mulutnya dengan tangan, lengan, atau jersey selama konfrontasi, secara otomatis akan diberi kartu merah. Lalu, tidak ada sanksi yang akan diterapkan jika gestur tersebut terjadi selama percakapan.
Melalui aturan baru ini, VAR memiliki tujuh situasi untuk ikut campur tangan, yakni: tinjauan gol, pemeriksaan penalti, kartu merah langsung, kartu kuning kedua yang mengakibatkan pengusiran, kasus salah identitas, tendangan sudut yang diberikan kepada tim yang salah, dan pelanggaran menyerang yang dilakukan sebelum gol dicetak. (sof)