Festival Ancol Kampoeng Minangkabau: Suasana Adat di Tanah Rantau Tari Pasambahan di acara Festival Ancol Kampoeng Minangkabau 2018. (Foto/MP: Zaimul Haq Elfan Habib)

BUNYI gendang menggaung di bibir pantai Taman Impian Jaya Ancol. 20 orang berpakaian adat berwarna terang gelap berjalan gontai mengikuti para petinggi Sumatera Barat yang menghadiri pada acara Festival Ancol Kampoeng Minangkabau 2018.

Mereka membuat formasi dua berbanjar. Empat orang dari belakang terlihat begitu bersemangat memukul gendang atau yang mereka sebut tabua tansa. Dentuman gendang dan rentakan kaki mereka mengantar para tamu hingga tempat yang telah disediakan.

Acara arak-arakan di Festival Ancol Kampoeng Minangkabau 2018. (Foto/MP: Zaimul Haq Elfan Habib)
Acara arak-arakan di Festival Ancol Kampoeng Minangkabau 2018. (Foto/MP: Zaimul Haq Elfan Habib)

Tamu kehormatan itu tiba di kursi jamuan. Tak berselang lama muncul sekelompok laki-laki pakaian merah dan celana galembong khas para penari Minangkabau. Mereka meloncat bernari dengan gerakan silat seirama dengan musik semangat penyambutan.

Tak lama musik perlahan mendayu, datang lagi 4 orang wanita berpakaian adat berbaris sambil berlenggak-lenggok memegang sebuah baki yang mereka sebut carano. Dengan tarian khas-nya para penari menghampiri tamu kehormatan tersebut. Orang Minang menyebutnya dengan tari pasambahan atau persembahan yang dilakukan saat menyambut tamu kehormatan saja.

Para tamu terkagum-kagum. Sambut berganti, tari piriang khas Minang juga disuguhkan kepada para tamu tersebut. "Bagus. Luar biasa hebat sekali. Inilah keinginan kami yang tua-tua di kampung. Anak muda Minang di rantau harus tampil di pentas nasional," kata Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi senjakala menjawab pertanyaan merahputih.com, Kamis (10/5).

Dalam acara tersebut turut hadir Sekretaris Daerah Sumatera Barat Ali Asmar, Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi, Badan Penghubung Sumatera Barat Andre Setiawan, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, C. Paul Tehusijarana, dan Wali Kota Jakarta Utara Junaidi.

Acara penyambutan adat rampung. Para tamu diajak berkeliling dan berbaur bersama perantau yang hadir untuk menikmati sajian-sajian makanan khas Minangkabau. Di sana banyak bisa kita temui makanan khas yang jarang ada di jakarta di antaranya, itiak lado hijau, Sate Danguang-Danguang, Nasi Kapau.

"Setelah 7 tahun tak pulang. Akhirnya bisa makan lamak (enak) di sini dan menikmati seni budaya Minangkabau. Rindu sedikit terobati," kata Rono (35) mencurah kegembiraannya.

Usai berkeliling, acara puncak bagi tamu datang yakni makan Bajamba atau makan bersama tradisi tua masyarakat Minangkabau yang masih terjaga setiap melakukan pesta. Sama dengan tradisi makan bersama daerah lain, tradisi ini akan memunculkan rasa kebersamaan tanpa melihat perbedaan status sosial.

Makan Bajamba tradisi Minangkabau. (Foto/MP: Zaimul Haq Elfan Habib)
Makan Bajamba tradisi Minangkabau. (Foto/MP: Zaimul Haq Elfan Habib)

Usai makan bajamba, para perantau menikmati hiburan hingga jam 21:00 WIB yang dimeriahkan artis-artis Minang kenamaan. Acara lawak dan nyanyi akan dimeriahkan oleh seperti Mak Pono, Piak Unyuik. Penyanyi Alfina juga akan turut mengibut. Dayukoto rapper Minang pun tak akan ketinggalan.

Sebagai informasi, Festival Ancol Kampoeng Minangkabau 2018 masih akan berlanjut hingga 13 Mei 2018 nanti. Masih banyak pertunjukan seni budaya dan kuliner-kuliner khas minangkabau akan dipertunjukkan di festival ini.

Yang paling ditunggu adalah penampilan Randai. Kesenian yang kompleks menggabungkan banyak unsur ini biasanya ditampilkan 14-25 orang. Namun kali ini kesenian randai akan dimainkan oleh 1000 orang. (Zai)

Baca juga berita terkait di: Agama dan Kesempurnaan Seni dalam Pertunjukan Randai

Kredit : zaimul


Zaimul Haq Elfan Habib