Ferdy Sambo Curhat Keluarganya Dihujani Caci Maki di Hadapan Majelis Hakim Ferdy Sambo (kedua kanan) berjalan menuju ruang sidang di Pengadian Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (17/1). ANTARA FOTO/Fauzan

MerahPutih.com - Terdakwa kasus pembunuhan Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo membacakan pleidoi atau nota pembelaan dari tuntutan jaksa atas kasus pembunuhan berencana.

Pleidoi dibacakan dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam pledoi tersebut, terdakwa pembunuhan berencana Brigadir Yosua itu memberi judul 'Setitik Harapan Dalam Ruang sesak Pengadilan'.

Baca Juga:

Ferdy Sambo dan 2 Anak Buahnya Jalani Sidang Pledoi Hari Ini

Sambo mengatakan, dirinya dan keluarga menerima hinaan, caci-maki, olok-olok serta tekanan luar biasa dari semua pihak selama menjalani pemeriksaan dan persidangan perkara ini. Sambo merasa, tidak ada ruang sedikit pun untuk menyampaikan pembelaan.

"Berbagai tuduhan bahkan vonis telah dijatuhkan kepada saya sebelum adanya putusan dari Majelis Hakim," ujar Sambo saat membacakan pleidoi, Selasa (24/1).

Menurutnya, selama bertugas 28 tahun sebagai anggota Polri ia tidak pernah melihat adanya tekanan yang begitu besar terhadap seorang terdakwa sebagaimana perkara yang diklaim telah merenggut haknya sebagai terdakwa.

Dia merasa, tidak ada ruang sedikitpun untuk menyampaikan pembelaan dan bahkan sepotong katapun.

"Berbagai tuduhan bahkan vonis telah dijatuhkan kepada saya sebelum adanya putusan dari Majelis Hakim," ujar Sambo yang mengenakan kemeja putih ini dengan nada tinggi.

Ia merasa dianggap telah bersalah sejak awal pemeriksaan dan haruslah dihukum berat tanpa perlu mempertimbangkan alasan apa pun dari dirinya sebagai terdakwa.

Tak hanya itu media framing dan produksi hoax terhadap dirinya sebagai terdakwa dan keluarga secara intens terus dilancarkan sepanjang pemeriksaan.

Ditambah tekanan massa baik di dalam maupun di luar persidangan yang kemudian telah memengaruhi persepsi publik.

Baca Juga:

[HOAKS atau FAKTA]: Ferdy Sambo Ngamuk di Ruang Sidang

"Bahkan mungkin memengaruhi arah pemeriksaan perkara ini mengikuti kemauan sebagian pihak, termasuk juga mereka yang mencari popularitas dari perkara yang tengah saya hadapi," ujar Sambo.

Sambo menyatakan dalam pembacaan pleidoi ini dirinya tepat 165 hari berada dalam tahanan untuk menjalani pemeriksaan perkara ini.

Berada dalam tahanan berarti kehilangan kemerdekaan dalam hidup sebagai manusia yang selama ini dia nikmati, jauh dari berbagai fasilitas, kehilangan kehangatan keluarga, sahabat dan handai tolan.

Tak pernah terbayangkan jika sebelumnya kehidupannya begitu terhormat dalam sekejap terperosok dalam nestapa dan kesulitan yang tidak terperikan.

"Demikianlah penyesalan tiba belakangan, tertinggal oleh amarah dan murka yang mendahului," ujar Sambo dengan suara sedikit terbata-bata.

Dalam pleidoinya Sambo memohon majelis hakim dapat memberikan keputusan yang adil berdasarkan hukum dan penilaian yang objektif atas fakta dan bukti yang telah dihadirkan di persidangan.

Sambo menyatakan sedari awal ia tidak merencanakan pembunuhan terhadap Brigadir Yosua karena peristiwa tersebut terjadi begitu singkat dan diliputi emosi.

"Mengingat hancurnya martabat saya, juga istri saya yang telah menjadi korban perkosaan, saya telah menyesali perbuatan saya, meminta maaf dan siap bertanggung jawab sesuai perbuatan dan kesalahan saya," ujar Sambo

Ia menyesal atas perbuatannya yang menimbulkan korban yaitu Brigadir Yosua. Akibat perbuatan tersebut, ia juga menyesal telah memberikan luka bagi keluarga Brigadir Yosua. (Knu)

Baca Juga:

[HOAKS atau FAKTA]: Pengacara Ferdy Sambo Diusir Paksa dari Persidangan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Kemenkeu Minta Daerah Sediakan Anggaran Hadapi Dampak Kenaikan BBM Bersubsidi
Indonesia
Kemenkeu Minta Daerah Sediakan Anggaran Hadapi Dampak Kenaikan BBM Bersubsidi

Penyaluran tambahan bansos senilai Rp 24,17 triliun akan dilakukan melalui program yang didesain dan diberi nama oleh masing-masing pemerintah daerah.

Kapolri akan Temui Sinta Aulia, Penderita Tumor yang Ingin Menjadi Polwan
Indonesia
Kapolri akan Temui Sinta Aulia, Penderita Tumor yang Ingin Menjadi Polwan

"Nanti, kalau saya sudah sampai Jakarta, saya akan langsung menengok mba Sinta," kata Listyo melalui sambungan video (video call) bersama Sinta Aulia, seperti dikutip dari video di Instagram @divisihumaspolri, Minggu (20/2).

Hasil Survei Poltraking: Prabowo dan Anies Jadi Capres Paling Dikenal Publik
Indonesia
Hasil Survei Poltraking: Prabowo dan Anies Jadi Capres Paling Dikenal Publik

Publik menginginkan capres-cawapres peduli dan perhatian kepada rakyat sekitar 16,8 persen.

Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Khalifa bin Zayed Meninggal Dunia
Dunia
Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Khalifa bin Zayed Meninggal Dunia

Rakyat Uni Emirat Arab diminta menaikkan bendera setengah tiang selama empat puluh hari sebagai tanda berkabung.

 [HOAKS atau FAKTA]: Pemerintah Wajibkan Laki-Laki Berpoligami
Lainnya
[HOAKS atau FAKTA]: Pemerintah Wajibkan Laki-Laki Berpoligami

Negara juga mengatur adanya mekanisme yang harus ditempuh bagi seorang suami jika ingin menikah lagi namun dengan ketentuan yang ketat.

Penambahan Kasus Harian COVID-19 di Atas Angka 2 Ribu
Indonesia
Penambahan Kasus Harian COVID-19 di Atas Angka 2 Ribu

Kasus baru positif harian COVID-19 di Indonesia hari ini, Rabu (12/10), dilaporkan bertambah 2.028.

Antisipasi Kenaikan Kasus Pasca Libur Panjang, Kemenkes Siapkan Fasyankes hingga Obat
Indonesia
Antisipasi Kenaikan Kasus Pasca Libur Panjang, Kemenkes Siapkan Fasyankes hingga Obat

"(Langkah antisipasinya) penyediaan ruang perawatan COVID-19 di rumah sakit, obat-obatan dan oksigen medis," ujar Nadia dari keteranganya di Jakarta, Jumat (4/3).

KPK Sebut Lukas Enembe Perlu Dirawat di RSPAD Gatot Soebroto
Indonesia
KPK Sebut Lukas Enembe Perlu Dirawat di RSPAD Gatot Soebroto

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan tim dokter Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) bersama dokter KPK telah memeriksa kesehatan Gubernur Papua Lukas Enembe.

Menghina DPR, Polisi, Kejaksaan dan Pemda Dipenjara 1 Tahun 6 Bulan
Indonesia
Menghina DPR, Polisi, Kejaksaan dan Pemda Dipenjara 1 Tahun 6 Bulan

Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) juga mengatur soal tindak pidana terhadap kekuasaan umum dan lembaga negara.

Siapkan SPI 2022, KPK Ajak Instansi Tindak Lanjuti Rekomendasi Sebelumnya
Indonesia
Siapkan SPI 2022, KPK Ajak Instansi Tindak Lanjuti Rekomendasi Sebelumnya

KPK kembali mengajak kementerian/lembaga, pemerintah pusat dan daerah (KLPD) segera menindaklanjuti rekomendasi hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) tahun 2021.