Fenomena di Era Digital: Anak Lebih Percaya Informasi di Internet daripada Informasi Dari Orang Tua Anak terpapar internet (Sumber: Monitorulcj))

KEMAJUAN teknologi yang begitu cepat dan masif tak bisa terelakkan. Setiap inovasi yang diciptakan bertujuan untuk memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Tak hanya manfaat, teknologi yang saat ini berkembang ternyata juga membawa dampak negatif. Dampak tersebut bisa saja mengancam anak-anak yang belum bisa mengklasifikasikan hal positif dan negatif.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi menuturkan bahwa teknolgi bak dua mata pisau dimana ada efek positif dan negatif. "Penggunaannya tergantung dari seberapa kritis anak dan seberapa besar upaya orang tua dalam monitoring," tuturnya.

Keberadaan teknologi tentu saja menjadi tantangan orang tua dalam menerapkan pola asuh tertentu. Menurut Psikolog, Saskhya Aulia Prima empat tantangan utama dalam parenting saat ini adalah kesibukan orang tua, orang tua tidak mampu mengawasi anak 24 jam, mudahnya anak terpapar informasi di internet, anak menjadi tidak mudah percaya akan informasi yang disampaikan orang tua.

Anak percaya internet
Anak percaya informasi di internet (Sumber: Better Parenting Instutite)

Bisakah kamu membayangkan bagaimana jika anak lebih percaya pada orang asing yang dilihat di internet daripada orang tuanya? Itu tentu berbahaya bagi tumbuh kembang serta pergaulan anak. Psikolog Anak, Rena Masri membeberkan ada sejumlah faktor yang membuat anak mudah percaya pada informasi di media sosial. "Faktor yang bisa mempengaruhi anak antara lain informasi yang dikemas menarik bagi anak. kurang luasnya pengetahuan anak, banyak teman-temannya yang juga mempercayai informasi tersebut, dan kurangnya kedekatan antara anak dan orang tua," bebernya ditemui di Q Consulting, Pondok Pinang, Minggu (11/8).

Hoax pada anak
Anak percaya informasi di internet (Sumber: Home BT)

Untuk menetralisir hal tersebut, Psikolog Anak, Rena Masri menuturkan bahwa kepercayaan anak terhadap orang tua harus terbentuk sejak dini. Rena menilai jika kepercayaan anak kepada orang tua sudah tertanam dan terjaga, maka tidak mudah bagi anak terpengaruh berbagai informasi dari media sosial. "Kalaupun informasi yang diterima di internet sudah kuat, biasanya anak anak menanyakan hal itu kepada orang tua. Disitulah kesempatan orang tua untuk berdiskusi apakah informasi yang diterima benar atau tidak," ucapnya.

Anak percaya informasi di internet
Anak lebih percaya internet (Sumber: Digi Aware)

Ada berbagai hal yang bisa dilakukan oleh orang tua agar anak lebih percaya pada informasi dari orang tua daripada dari internet. "Misalnya, saat bayi menangis dan orang tua memberi reaksi dan respon yang cepat," ucapnya. Reaksi dan respon yang dimaksud bukan berarti orang tua harus langsung memenuhi keinginan anak tetapi memberi tanggapan agar anak merasa tenang.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah dengan selalu menepati janji pada anak. "Jika tidak dapat menepati janji, beri penjelasan kepada anak dan jangan lupa untuk meminta maaf," ucapnya.

Ketiga, dampingi dan suport anak saat mencoba hal baru. Selain itu, dengan mendengarkan mereka secara aktif dan memberikan rasa aman anak akan lebih percaya pada orang tua daripada internet atau lingkungan.

"Upaya tersebut membuat anak memiliki fondasi yang kuat dalam menyaring banyaknya informasi yang masuk," tukasnya.

Kredit : iftinavia


Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH