Fenomena Aphelion Membuat Suhu Bumi Lebih Dingin? Embun Dieng yang menjadi es (Instagram/WonosoboHitz)

PASTI banyak yang merasa kalau belakangan ini cuacanya sangat dingin terutama pada malam hari. Saking dinginnya, di beberapa daerah embun yang biasa muncul pada pagi hari berubah menjadi es. Di Dataran Tinggi Dieng embun es muncul lebih tebal dibandingkan sebelumnya.

Cuaca yang cukup membuat orang menggigil ini ternyata terjadi karena fenomena aphelion. Fenomena aphelion adalah fenomena tahunan dimana posisi Bumi berada pada titik terjauh dari matahari. Di tahun 2018 aphelion jatuh pada tanggal 6 Juli.

Sebelum ini kita sudah merasakan fenomena perihelion di tanggal 3 Januari. Fenomena itu adalah saat Bumi berada pada titik terdekat dengan matahari. Efeknya kebalikan dari fenomena aphelion yakni hawa yang lebih panas dari biasanya.

embun Dieng yang menjadi es (Instagram/annaforeko)
Embun Dieng yang menjadi es (Instagram@annaforeko)

Seperti yang diketahui bentuk orbit antara bumi dengan matahari adalah oval. Setiap tahunnya kita akan merasakan fenomena perihelion dan aphelion secara bergantian.

Suhu yang dingin ini juga berkaitan dengan puncak musim kemarau. Melalui Twitternya, BMKG menjelaskan kalau pada bulan Juli hingga Agustus Indonesia terutaa di sebelah selatan garis khatulistiwa mendapatkan pengaruh aliran massa dingin dari Australia menuju Asia.

Daerah tersebut diantaranya NTT, Bali, seluruh Pulau Jawa, Lampung dan Sumatera Selatan. Puncak musim kemarau ini menyebabkan suhu menjadi lebih dingin dan angin yang lebih kencang.

Seperti yang dikutip dari ANTARA, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyatakan fenomena "aphelion" tidak berpengaruh besar terhadap penurunan suhu di sejumlah wilayah di Indonesia.

"Penurunan suhu bulan Juli 2018 lebih dominan disebabkan karena dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo dalam keterangan diterima di Jakarta, Jumat.

Rendahnya kandungan uap di atmosfer menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.

Oleh sebab itu kemudian menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan.

dieng
Embun es di Dataran tinggi Dieng. (Foto: denbaguztgroup)

Banyak tersiar kabar di tengah masyarakat hari ini (Jumat,6/7) bahwa suhu udara di wilayah Indonesia akan mengalami penurunan drastis akibat fenomena aphelion.

Sebenarnya fenomena aphelion adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli 2018. Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia.

Selain itu, pada Juli wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia dingin dan kering.

Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Berdasarkan pengamatan BMKG di seluruh wilayah Indonesia selama 1 hingga 5 Juli 2018, suhu udara kurang dari 15 derajat Celcius tercatat di beberapa wilayah yang seluruhnya memang berada di dataran tinggi/kaki gunung. (*)

Kredit : yani

Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH