Fatma Samoura, Sekretaris Jenderal Perempuan Pertama FIFA yang Penuh Inspirasi Fatma Samoura (Foto: forcreativegirls)

SOSOK Fatma Samba Diouf Samoura memang sudah lama bergelut dalam organisasi kemanusiaan. Pada tahun 1995 ia memulai karirnya di PBB sebagai perwira logistik senior. Saat itu ia menjalani tugasnya pada Program Pangan Dunia.

Samoura ialah warga berkebangsaan Senegal. Ia lahir di Senegal pada 9 September 1962. Meskipun berdarah Senegal, ia memiliki Bahasa Ibu Prancis, dan menempuh pendidikan di Universitas Lyon Prancis. Selain itu Somoura juga menguasai Bahasa Prancis, Inggris, Spanyol, dan Italia.

Pengabdiannya di PBB menjalani misi kemanusiaan berlangsung selama 21 tahun. Termasuk pelayanan sebagai wakil negara atau wakil koordinator Kemanusiaan di tujuh negara, Republik Djibouti, Kamerun, Chad, Guinea, Niger, Madagaskar dan Nigeria.

Selama di PBB Samoura berhasil memulai dan memimpin beberapa program pembangunan dan kemanusiaan di seluruh dunia. Negara-negara di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Eropa. Negara-negara tersebut mendapat manfaat dari keahliannya dalam Program dan Manajemen Operasi.

Fatma Samoura dan Gianni Infantino (Foto: si)

Kepemimpinan dan visi Samoura telah membantu memberdayakan wanita dan pemuda, mengubah kehidupan dan melindungi lingkungan. Hingga akhirnya pada Juni 2016 kemarin ia bergabung di FIFA dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal perempuan pertama FIFA.

Di bawah pimpinannya, jumlah wanita dalam administrasi FIFA telah meningkat dari 32% pada tahun 2016 menjadi 48% pada tahun 2018. Termasuk divisi Sepak Bola Wanita yang baru. Sarai Bareman, ialah pimpinan divisi tersebut.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menunjuk Samoura sebagai Sekretaris Jenderal dengan harapan dapat membantu FIFA memperoleh kembali kepercayaan dunia. Seperti diketahui organisasi sepak bola dunia itu kerap dilanda kasus korupsi sebelum Samoura menjabat.

Sebagai pemeluk Agama Islam, wanita 54 tahun itu turut menghargai orang muslim pencinta sepakbola. Pada piala dunia 2018 yang berlangsung di Rusia. Samoura menerapkan peraturan khusus bagi para pendukung negara beragama muslim.

Ia menjamin para suporter dapat menjalani ibadah dengan mudah selama di Rusia. Salah satunya dengan cara memberikan panduan masjid-masjid yang berada di Rusia. Selain itu, suporter muslim juga mendapatkan arahan untuk menemukan tempat makan halal.

"Iman saya adalah bagian dari kehidupan saya sehingga setiap orang yang mengenal saya tahu bahwa saya adalah seorang Muslim dan saya hidup seperti itu," tutur Somoura seperti dikutip malaysiandigest.com.

Terlebih lagi piala dunia tahun ini menghadirkan tujuh negara dengan mayoritas umat muslim. Termasuk, Arab Saudi dan Mesir. Karenanya, bagi Samara kebijakan tersebut harus diwujudkan.

Samoura memberikan kebijakan bagi suporter muslim di piala dunia 2018 (Foto: ghheadlines)

Sebenarnya, kebijakan untuk suporter muslim bukan pertama kalinya diberlakukan. Sebelumnya, saat Piala Dunia 2014 di Brazil. Federasi Asosiasi Muslim di Brasil (FAMBRAS) sebelumnya menerbitkan buku setebal 28 halaman berjudul Pemandu Suporter Muslim.

Ditulis dalam bahasa Inggris, buku tersebut berisi lokasi masjid di masing-masing dari 12 kota Brazil. Selain itu ada waktu sholat, nomor telepon yang relevan dengan Islam (seperti Kedutaan Arab Saudi) dan informasi umum tentang Islam di Brazil pada buku tersebut.

Yang terpenting adalah, ibu tiga anak itu selalu percaya sepak bola dapat mengubah dunia lebih baik lagi. "Anda tidak bisa begitu saja mengabaikan kekuatan olahraga yang memicu gairah jutaan orang di seluruh dunia," ujarnya pada Konferensi FIFA 2018 seperti dikutip qrius.

Dia secara aktif mendukung perdamaian dan memupuk upaya kesetaraan gender di negara-negara yang rawan bencana seperti Chad, Darfur, Madagaskar, dan Nigeria. Madagaskar sendiri, menjadi saksi pertemuan pertama Somoura dengan Gianni. (ikh)

Baca juga: Enggak Cuma Jago Nendang, Pesepakbola Ini Sangat Cerdas, Nomor 3 Setara Profesor

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH