Fatal, saat Jurnalis Alami Permasalahan Mental Meliput di daerah konflik atau bencana membuat jurnalis rentan menyimpan trauma. (foto: ABC news)

JURNALIS layaknya pekerjaan hidup dan mati. Demi menyajikan informasi faktual para jurnalis rela mencurahkan waktu, jiwa dan raganya. Terkadang nyawa pun menjadi taruhannya.

Ketika jurnalis sedang bertugas di lapangan, berbagai hal bisa terjadi kepada mereka. Mulai dari berisiko cedera dan luka-luka hingga mendapat intimidasi dari pihak ketiga yang merasa terancam atas karya mereka. "Dalam situasi tertentu, mereka juga terpapar emosi dari peristiwa negatif seperti bencana, konflik, kejahatan politik, hingga kasus kriminal," ucap psikolog klinis Sustriana Saragih M.Psi.

BACA JUGA: Psikolog Ungkap Jurnalis Rentan Alami Depresi dan Kecemasan

Ketika menyaksikan hal-hal yang menggugah nurani, secara otomatis tubuh mereka memprosesnya dan menimbulkan secondary trauma. "Secondary trauma merupakan trauma yang muncul dari paparan sekunder misalnya peristiwa traumatis yang terkait dengan pekerjaan," jelas Sustriana. Kebutuhan untuk menyajikan berita membuat mereka mengabaikan trauma tersebut.

jurnalis
Psikolog klinis Sustriana Saragih M.Psi.(foto: dok pribadi)

Terus-menerus menyimpan peristiwa negatif membuat alam bawah sadar mereka menumpuk sampah bagi kejiwaan. Lama kelamaan akan menimbulkan gangguan psikologis seperti kecemasan, stres hingga depresi.

Sayangnya, penanganan kesehatan jiwa para pewarta ini seringkali terabaikan. Perusahaan hingga diri mereka sendiri mengabaikan permasalahan yang berkaitan dengan kejiwaan. Padahal, dalam UU Kesehatan Jiwa Nomor 18 tahun 2014 disebutkan menjamin setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik, menikmati kehidupan kejiwaan yang sehary, bebas dari ketakutan, tekanan dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa.

Selain itu, jurnalis merupakan salah satu pekerjaan yang menuntut produktivitas. Masalah kejiwaan seperti kecemasan, stres, dan depresi dapat membuat mereka tidak bersemangat dan berakibat pada penurunan produktivitas. Ketika produktivitas menurun, jurnalis tersebut sulit memenuhi target dan tenggat waktu.

jurnalis
Saat mengalami permasalahan mental, jurnalis jadi subjektif dalam melaporkan. (foto: the big smoke)

Sustriana juga menyebutkan bahwa pada saat jurnalis mengalami permasalahan mental yang dahsyat, mereka akan subjektif dalam menangkap informasi. "Fakta penting terabaikan dan mereka cenderung menulis sensasional," tuturnya. Akibatnya, informasi yang disajikan pun kurang maksimal. Mereka cenderung melupakan sisi positif dan solusi dari peristiwa yang diliput. Tak hanya itu, mereka pun akan kurang berempati dengan subyek atau narasumber yang ditulis.

Selain itu, stres dan depresi yang dialami membuat para jurnalis kehilangan motivasi diri dan tidak senang dalam pekerjaannya. Kalau demikian, mereka akan menarik diri dari lingkungan kerja dan sering bolos.

"Dalam situasi paling ekstrem akan membuat mereka burnout (putus asa) dan turn over," tutup Sustriana.(avia)

Kredit : iftinavia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH