Fakta Sejarah Panjang Penamaan Teh Teh punya sejarah panjang (Pixabay/dungthuyvunguyen)

BERABAD-abad lamanya teh sudah akrab dengan manusia. Di beberapa negara minum teh sudah menjadi tradisi. Di Jepang misalnya. Di sana ada upacara minum teh di ruangan bernama chaishitsu.

Sementara di Rusia, teh biasa disajikan menggunakan zavarka (poci teh khas Rusia). Lain lagi dengan Belanda yang senang meminum teh sebelum makan siang atau setelah makan malam yang disajikan dengan kepingan biskuit.

Namun terlepas dari tradisi hingga cara penyajiannya di setiap negara. Meminum teh merupakan salah satu cara untuk membangun kedekatan keluarga, kerabat atau teman.

1. Berawal dari Tiongkok

Teh berawal dari Thiongkok (Pixabay/Skitterphoto)
Teh berawal dari Thiongkok (Pixabay/Skitterphoto)

Tak kalah dengan kopi, teh juga memiliki asal usul yang panjang. Dilansir dari Antara, teh mulai dikonsumsi pada dinasti Zhou (1115 Sebelum Masehi). Saat itu teh dikenal sebagai ramuan obat dan belum memiliki nama resmi.

2. Baru punya nama ratusan tahun setelahnya

Teh dulu tidak punya nama (Pixabay/TerriC)
Teh dulu tidak punya nama (Pixabay/TerriC)

Praktisi teh Prowoto Indarto mengatakan nama teh kemudian baru dieja secara lisan pada Dinasti Han (206 SM - 220 SM) dengan sebutan 'jia' yang artinya minuman dengan rasa pahit. "Pada masa itu, teh jadi minuman nasional di China," katanya di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, Minggu (25/11).

3. Dibawa oleh pendeta ke Jepang

Teh dibawa ke Jepang oleh pendeta (pixabay/Pexels)
Teh dibawa ke Jepang oleh pendeta (pixabay/Pexels)

Seiring berkembangnya zaman, tepatnya pada masa Dinasti Tang, 'jia' berganti nama menjadi 'cha'. Saat itu teh berkembang di biara Zen Budha, tempat para pendeta Jepang mempelajari teh. Kemudian mereka membawa tradisi itu ke negara asalnya. Itu juga yang menjadi alasan mengapa sebutan 'cha' untuk teh masih ada di Jepang hingga sekarang.

4. Asal usul sebutan teh

Teh punya sejarah panjang (Pixabay/ThoughtCatalog)
Teh punya sejarah panjang (Pixabay/ThoughtCatalog)

Lebih lanjut Prawoto menjelaskan 'cha' dalam dialek Fujian dilafalkan sebagai 'Tey'. Istilah itu kemudian berganti menjadi tee setelah bangsa Portugis datang ke sana. Kemudian Inggris menyebutnya dengan 'tea' sementara di Belanda menjadi 'Thee'. Setelah menjajah Indonesia 'thee' kemudian berubah menjadi teh.


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH