Fakta-Fakta Unik Barapen, Tradisi Tua Paling Terkenal di Papua Masyarakat Papua sedang melakukan tradisi tari. (Foto: Pixabay/Samathey)

PAPUA tak hanya terkenal dengan kekayaan dan keindahan alamnya, tapi juga memiliki ragam tradisi yang banyak menarik minat para pelancong. Provinsi paling timur Indonesia tersebut kini merupakan destinasi wisata alam dan budaya yang mulai berkembang bersama daerah-daerah lain.

Salah satu yang bisa kamu saksikan yaitu tradisi barapen atau bakar batu. Tradisi bakar makanan seperti umbi-umbian dan daging-dagingan tersebut merupakan bagian dari masyarakat yang diadakan ketika ada acara adat atau hari-hari spesial.


1. Barapen sebagai untuk mempererat persaudaraan masyarakat

Masyarakat saling bekerja sama dalam tradisi barapen. (Foto: Pinstagram.com/arkhipelagos)
Masyarakat saling bekerja sama dalam tradisi barapen. (Foto: instagram@arkhipelagos)


Barapen merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Papua khususnya di kawasan pegunungan. Tradisi itu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus mempererat persaudaraan.

Barapen merupakan tradisi membakar makanan beramai-ramai dan kemudian disantap bersama. Butuh proses panjang untuk mempersiapkan pembakaran hingga makanan siap santap. Tahapannya mulai dari menggali lubang, memanaskan batu, hingga membakar bahan makanan.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Indahnya Gua Batu Cermin, Destinasi Wisata yang Ngehits di Labuan Bajo


2. Proses panjang selama pembakaran berlangsung

Penduduk sedang mengangkat hewan dalam tradisi barapen. (Foto: Pixabay/bima_.sakti)
Penduduk sedang membakar daging ternak dalam tradisi barapen. (Foto: Pixabay/bima_.sakti)

Dikutip Arah Destinasi, proses membakar makanan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam sampai makanan siap santap. Namun, selama proses itu berlangsung, komunikasi, kerja sama dan rasa persaudaraan kian erat terjalin. Mereka menutup tradisi barapen dengan upacara makan bersama.

3. Bagaimana proses Barapen dilaksanakan?

Batu-batu yang digunakan dalam tradisi barapen. (Foto: instagram.com/genpi_papuabarat)
Batu-batu yang digunakan dalam tradisi barapen. (Foto: instagram@genpi_papuabarat)

Pertama, salah seorang penduduk akan menggali tanah, selanjutnya disebut kolam. Dalamnya kolam tergantung seberapa banyak makanan yang akan dibakar. Sambil menunggu, batu mulai dibakar di atas kayu bakar hingga merah membara.

Setelah kolam siap, di bagian dasar dialasi semacam alang-alang kemudian ditutup daun pisang , di atasnya ditata daging, kemudian ditutup lagi dengan daun pisang.

Di atas daun pisang diletakan lagi batu membara, ditutup lagi dengan daun pisang, baru ditata jagung, umbi-umbian, dan sayuran. Seperti sebelumnya, di atas sayur dan umbi-umbian, ditutup daun dan ditindih dengan batu membara. Selanjutnya ditutup lagi dengan kayu bakar untuk menjaga panas di dalam bisa bertahan lama.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Bingung Liburan ke Mana? Curug Ngebul yang Tranding di Media Sosial Ini Bisa Jadi Pilihan


4. Barapen mengajarkan kebersamaan

Umbi-umbian dalam tradisi barapen. (Foto: Pixabay/instagram.com/kianus_m1rib)
Umbi-umbian dalam tradisi barapen. (Foto: Pixabay/instagram.com/kianus_m1rib)


Walaupun dimasak dengan cara yang berbeda, namun ternyata rasa makanannya khas dan nikmat. Menariknya lagi, lemak daging yang dibakar bersama makanan lain hilang.

Barapen merupakan tradisi yang mengajarkan bagaimana cara menciptakan dan menguatkan kebersamaan antarsesama manusia. Dalam pelaksanaannya seluruh warga terlibat mulai dari proses persiapan, memasak, hingga upacara makan bersama.

5. Barapen menjadi atraksi wisata ke Papua

Barapen menjadi daya tarik bagi pelancong untuk datang ke Papua. (Foto: Pixabay/instagram.com/friskemiranda)
Barapen menjadi daya tarik bagi pelancong untuk datang ke Papua. (Foto: instagram@friskemiranda)

Barapen merupakan tradisi tertua yang ada di Papua. Biasanya dilakukan ketika sanak saudara kembali pulang setelah lama merantau. Tradisi ini juga dilaksanakan ketika ada upacara kematian.

Pelaksanaan Barapen bisa menjadi atraksi wisata menarik. Wisatawan tidak hanya jadi penonton, tetapi juga bisa ikut terlibat aktif mempersiapkan dan membakar berbagai bahan makanan seperti jagung, ubi, sayur, hingga daging. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: 5 Tempat Hiking Terbaik di Dunia, Destinasi Wajib Pencinta Alam

Kredit : zulfikar

Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH