Fahri Hamzah: Indonesia Tidak Memerlukan Pemimpin yang Gemar senyum Tetapi Bengis Kelakuannya Fahri Hamzah di Kompleks Parlemen. (Foto: ANTARA/Reno Esnir)

MerahPutih.com - Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, menanggapi penangkapan mahasiswa KAMMI yang menyampaikan aspirasi kepada Presiden Jokowi saat berkunjung ke Padang, Sumater Barat, Jumat (9/2).

Ia mempertanyakan maksud polisi menahan para mahasiswa tersebut. Fahri juga menyinggung penangkapan wartawan senior Asyari Usman. Menurutnya, kedua peristiwa tersebut adalah untuk bikin orang takut aja.

"Padahal penangkapan dan penahan Di luar yg di atur KUHAP adalah pelanggaran HAM. Sadarkan pak?," tulis Fahri di akun Twitter pribadinya, @Fahrihamzah.

Lebih lanjut, Fahri mengungkapkan bahwa sejak Aksi Bela Islam, banyak orang ditangkap dan kemudian dilepas seperti Rahmawati Sukarno, Sri Bintang Pamungkas dan lain-lain. Ia menilai pemerintah ingin menunjukkan kepada publik bawa negara ini hadir dalam hukum namun keliru.

"Negara hadir dalam hukum ditentukan caranya oleh hukum itu sendiri. Penangkapan dan penahanan adalah peristiwa hukum yg membatasi hak warga negara maka ia didefinisikan secara ketat. Tidak bisa ia diselenggarakan secara sembarangan apalagi kepada mahasiswa dan wartawan," sambungnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam KUHAP, penangkapan dan penahan dilakukan dalam proses penyidikan ketika sudah cukup bukti bahwa seseorang telah melakukan tidak pidana.

Mantan kader Partai Keadilan Sejahtera ini meminta kepada Jokowi-JK untuk adil dalam menerapkan hukum kepada warga negaranya. Hukum harus tajam semua sisinya. Sebab rasa terzalimi bisa melahirkan pemberontakan.

"Dan apabila ada yang tidak tahan melihat kebebasan ini lalu ingin memutar sejarah ke belakang; memakai Perpu ormas, pasal penghinaan presiden, penangkapan sembarangan, atau apapun. Berhentilah. Mungkin kalian memang bukan jodoh dari kebebasan kami," tegas Fahri.

Fahri menyindir Jokowi dengan mengatakan bahwa Indonesia tidak memerlukan pemimpin yang gemar senyum tetapi bengis kelakuannya.

"Indonesia tidak memerlukan pemimpin berpenampilan sederhana tapi seolah mempertahankan kemewahan kekuasaannya Cukuplah. Indonesia memerlukan kepemimpinan otentik," ujarnya.

"Kebebasan ini bisa kita kelola, sederhana karena dia adalah mimpi kita. Sedungu-dungu manusia adalah yg tak sanggup menjaga mimpinya. #AkuMarah #ItuSaja," pungkasnya. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH