Erwin Gutawa Hadirkan Musik Tradisi lewat Olahan Orkestra dalam Pertunjukan Bawi Lamus Erwin Gutawa bawakan inspirasi musik tradisi dengan orkestra. (foto: Instagram @felix.itsme)

BAGI seniman, inspirasi bisa datang dari mana saja. Apa yang dilihat, dibaca, juga didengar bisa jadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya. Demikian komponis Erwin Gutawa menceritakan sumber inspirasi dari karya musiknya.

Saat ditemui Merahputih.com di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (26/9), Erwin tengah menggarap musik untuk pertunjukan Bawi Lamus. Pertunjukan yang mengangkat budaya suku Dayak Ngaju dan Dayak Manyan di Kalimantan Tengah itu diprakarsai mantan Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang. Musisi yang aktif di dunia musik sejak 1989 ini mengatakan bahwa ia senang diajak untuk menggarap musik pertunjukan Bawi Lamus. "Saya suka sekali menggali potensi musikal Indonesia. Saya pernah menggali orkestra saya dengan musik Sumatra, Betawi, dan Bali. Jadi ketika diajak menggali musik Kalimantan, saya senang banget," ujarnya.

erwin gutawa/bawilamus
Erwin Gutawa (dua dari kanan) senang terlibat dalam pertunjukan Bawi Lamus. (foto: Instagram @eg.productions)

Bagi ayah penyanyi Gita Gutawa ini, musik tradisi Indonesia amat unik dan menarik untuk digali. Ia mengatakan bagi musisi seperti dirinya yang berkesenian lewat bunyi, bebunyian bisa menjadi sumber ide. Ia pun selalu menaruh perhatian lebih pada bunyi-bunyian unik saat melakukan traveling ke daerah. "Saya pasti merhatiin itu saat traveling ke daerah," ujarnya.

Meskipun mengaku suka mengulik bebunyian saat melancong, Erwin mengatakan bahwa hal itu hanya bisa ia lakukan saat melancong ke daerah yang bukan perkotaan. "Semua kota di Indonesia dan dunia saat ini mencoba jadi kota yang sama," ujarnya beralasan.

Oleh karen itu, ia pun memilih untuk melancong ke daerah di luar perkotaan. "Kalau agak di pinggiran, kita tiba-tiba bisa nyanyian tunggal sinden, atau kalau ke Sumatra Barat kita bisa dengar saluang, kalau ke Belitung bisa dengar rentak rebana. Dan itu bisa jadi sumber ide," jelasnya.

Banyaknya kemungkinan inspirasi musik yang ia bisa dapat dari traveling membuat Erwin kerap sengaja turun ke daerah ketika mengerjakan suatu proyek musik. "Saya sering ke suatu daerah karena mau mengerjakan musiknya. Seperti waktu saya mengerjakan musikal Laskar Pelangi di 2011, saya ke Belitung. Saya coba dengar musik daerahnya, lalu diserap," ujarnya.

Hal serupa juga ia lakukan saat mengerjakan komposisi untuk Bawi Lamus. Ia mengatakan tiga kali mengunjungi Kalimantan Selatan. Dalam perjalanannya itu, ia mengaku melakukan pengamatan, berbincang langsung dengan musisi lokal, menyerap ilmunya, barulah kemudian membuat komposisi musik.

Sengaja traveling ke Kalteng untuk menggarap komposisi Bawi Lamus. (foto: Instagram @bawilamus)

Komposisi musik yang ia buat untuk pertunjukan Bawi Lamus akan ditampilkan dengan tiga pendekatan berbeda, yakni instrumen musik asli dengan pemain asli Kalimantan Tengah, komposisi kolaborasi orkestra dengan alat musik tradisional Kalteng, seperti kecapi, serta orkestra murni tapi memainkan idiom-idiom musik tradisional Kalteng. "Musik tradisi punya ciri masing-masing. Bisa dalam bentuk motifnya, instrumen, irama-iramanya atau nyanyian. Nanti saya akan bawakan musik tradisi ini dengan cara saya. Meskipun yang main orkestra, tapi orang tahu bahwa musik yang dibawakan bukan musik Barat," jelasnya.

Bagi komponis yang telah menangani konser banyak musisi ternama ini, menggali musik tradisi merupakan suatu hal yang ia minati. Hal itu sejalan dengan keinginannya untuk mengembangkan musik tradisi dengan caranya. "Saya merasa penting untuk menggali musik tradisi. Bukan cuma untuk diri saya pribadi. Saya percaya kalau kita menggali seni tradisi sebenarnya bukan mundur. Kita cuma menengok ke belakang untuk punya pegangan ke depannya," tutupnya.

Pertujukan Bawi Lamus akan digelar di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 13 dan 14 Oktober 2018.(dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH