Epidemiolog UI Minta Anies Hati-hati Terapkan New Normal di Jakarta Gubernur DKI Anies Baswedan. Foto: ANTARA

MerahPutih.com - Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, kondisi DKI Jakarta saat ini belum tepat dilakukan new normal.

Menurut Yunus, jumlah penambahan kasus di Jakarta memang terbilang menurun. Namun, penurunan tersebut belum bisa dianggap aman. Oleh karena itu, ia menyarankan Pemerintah DKI Jakarta berhati-hati dalam menerapkan era normal baru.

Baca Juga

Polisi Analisis Kebijakan Ganjil Genap di DKI Selama PSBB Masa Transisi

"Jadi harus hati-hati kapan kita membuka new normal-nya begitu. Jadi kapan kita membuka new normal-nya, kalau kasusnya jadi dalam satu minggu ini sudah turun aman," ungkapnya dalam diskusi daring, Sabtu (6/6).

Ia mengamati di DKI, dari akhir Mei sampai awal Juni ini, jumlah kasus berkurang jadi 400 kasus per minggu. "Memang menurun tapi belum aman jadi jangan dibuka new normal," kata dia.

Yunus menjelaskan Jakarta dikategorikan aman bila penambahan kasus positif COVID-19 menurun hingga 100 kasus perminggu. Kategori aman absolut artinya tidak ada penambahan atau nol kasus perminggu.

Dia menyoroti kebijakan pembatasan sosial berskala lokal (PSBL) tingkat rukun warga (RW) di Ibu Kota. Dia menyebut kebijakan itu patut diacungi jempol. Sebab, penularan virus corona terjadi dalam satu kelompok tertentu.

"Memang harus diselesaikan perkalsternya, kalau di klaster tidak ada (penularan), maka penularan menjadi sporadik atau penularan terjadi di tempat umum," ucap Yunus.

Dia meminta DKI Jakarta mengevaluasi kembali pembukaan sejumlah sektor saat penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.

Epidemiolog UI Minta Anies Hati-hati Terapkan New Normal di Jakarta
Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono. Foto: Istimewa

Pemprov DKI harus memastikan sektor yang dibuka kembali tidak menjadi kelompok penularan kasus baru. Misalnya, pembukaan seluruh aktivitas di pasar tradisional. Seluruh penjual dan pembeli harus melewati tes massal COVID-19 untuk memastikan mereka tak terinfeksi.

Pemprov DKI juga harus menjamin masyarakat patuh terhadap aturan serta penerapan protokol kesehatan. "Kalau semua disiplin pakai masker, rajin mencuci tangan, tempat kegiatan disinfeksi, maka semua aman," ujar Yunus.

Ia menegaskan, sebelum kondisi PSBB transisi diterapkan di Jakarta, dia berharap Pemprov DKI menghilangkan kasus di daerah-daerah yang selama ini masih menjadi klaster penyebaran virus Corona.

Dia juga mengimbau Pemprov DKI lebih giat dalam mendeteksi penyebaran virus Corona di tempat-tempat umum sebelum menerapkan kondisi new normal.

"Jadi lebih baik hati-hati. Yakinkan itu semuanya sudah aman, semua kasus bisa diisolasi, semua PDP dan ODP bisa dikarantina," ucapnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya menyatakan angka penularan (Rt) virus Corona di Jakarta turun drastis sebelum PSBB.

Baca Juga

Aturan Ganjil Genap Motor dan Mobil di PSBB Masa Transisi DKI

Anies mengatakan angka penularan virus Corona di Jakarta saat ini di bawah 1. Anies menjelaskan soal angka di bawah 1 ini kemudian. Hasil angka ini didapatkan bekerja sama dengan ahli epidemiologi.

"Terkait dengan nilai Rt atau reproduksi virus dalam wabah ini yang alhamdulillah turun terus dan sampai dengan kemarin per hari kemarin, nilai Rt di Jakarta ada di angka 0,99," kata Anies saat menjelaskan Rt di Jakarta yang disiarkan akun YouTube Pemprov DKI Jakarta, Kamis (4/6). (Knu)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH