Enak tho Zamanku - Piye Kabare, Film Multitafsir Film Enak tho Zamanku – Piye Kabare mengetengahkan kondisi Indonesia. (Foto: istimewa)

PADA tahun ini, seolah para sineas berlomba-lomba menawarkan ide segar untuk para penonton. Hasilnya, film-film Indonesia yang dirilis semakin bervariasi. Salah satu film yang menawarkan konsep unik adalah film Enak tho Zamanku – Piye Kabare.

Film besutan Akhlis Suryapati ini berbeda dari film kebanyakan. Selain mengangkat isu yang tak biasa, film ini menawarkan dialog naratif antartokoh. Tak hanya itu, film ini memunculkan multitafsir.

Film Enak tho Zamanku dibuka dengan adegan Mbah Mangun (Otg Pakis) yang sedang meracik bumbu nasi goreng. Sutradara seolah ingin menyajikan karakter Mbah Mangun sebagai sosok yang ahli “menggoreng” masalah.

film enak jamanku
Perebutan kekuasaan khas jaman Orba. (Foto: istimewa)

Selain tokoh Mbah Mangun, karakter tokoh lainnya juga merepresentasikan tokoh tertentu meski tidak mempersonifikasi secara langsung, misalnya, tokoh Saladin. Ketika Saladin memimpin rapat yang dikenal sebagai kabinet kejahatan ia berujar, “Kerja! Kerja”.

Meski dalam pendeskripsian tokoh dan adegan hampir mirip Pemerintahan Orde Baru. Film bergenre drama kriminal itu, mengangkat sejumlah frasa yang banyak beredar di masyarakat saat ini. Istilah kekinian yang muncul dalam film tersebut yakni seperti radikal dan intoleran. Ada pula seruan “takbir!”.

Tafsir tak hanya terlihat dari dialog dan adegan demi adegan yang muncul dalam film. Penonton juga dapat menafsirkan latar tempat dalam film ini yakni hotel. Enak tho Zamanku - Piye Kabare menceritakan tentang penyerangan brutal atas Pinuntun (Dolly Martin) dan juru masak, Mbah Mangun.

Di bawah kepemimpinan Saladin (Soultan Saladin), hotel tersebut berubah menjadi kartel kejahatan meliputi prostitusi, bisnis narkoba, dan penampungan tenaga kerja asing. Putra Pinuntun, Darmo Gandul (Panji Addiemas) menyadari alihfungsi hotel warisan keluarganya. Terjadilah perebutan areal hotel, restoran dan klub malam yang merupakan Area Warisan Keluarga.

film enak jamanku
Karakternya merepresentasikan tokoh tertentu. (Foto: istimewa)

Hotel dalam film ini dapat diinterpretasikan sebagai Indonesia di mana pemimpinnya, Pinuntun disingkirkan para penjahat di bawah pimpinan Saladin yang kemudian menjadi penguasa. Representasi hotel sebagai Negara semakin jelas dari tagline film tersebut, “Jika orang baik diam, kejahatan merajalela. Ketika penjahat berdatangan, pejuang tampil untuk berjihad”.

Tak hanya mengangkat tema politik, film ini juga menguak secara gamblang kehidupan kelam prostitusi di Indonesia melalui pendeskripsian tokoh Retno (Ismi Melinda). Dalam satu adegan, terlihat sosok Retno yang sedang berbincang-bincang dengan Darmo Gandul. Meskipun sosok Retno dideskripsikan sebagai pelacur pemberani dan tangguh, ada nada getir dari dialog yang ia ucapkan.

Pelacur selalu bekerja keras meski dia selalu terluka,” demikian tuturnya. (avia)

Kredit : iftinavia


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH