Empat Fakta Menarik tentang Masjid Agung Demak De Moskee van Demak (Masjid Agung Demak) 1920-1939. (Foto: tropenmuseum.nl)

DALAM penyebaran agama Islam di Jawa, tentu tak lepas dari peran penting keberadaan Masjid Agung Demak. Masjid yang didirikan Raden Patah sekira 1401 Saka atau 1479 Masehi ini, kemudian menjadi basis berkumpulnya Wali Songo ketika mendakwahkan agama Nabi Muhammad saw di tanah Jawa.

Secara arsitektural, bangunan Masjid Agung Demak memiliki ciri khas yang tidak dimiliki masjid lain. Setidaknya, ada empat fakta menarik yang berhasil dirangkum merahputih.com. Berikut ulasannya.

1. Atap dengan Corak Hindu

Masjid Agung Demak. (Foto: iyaa.com)

Sebagai wujud akulturasi budaya dengan agama Hindu (agama mayoritas masyarakat Jawa saat itu), Raden Patah sengaja membuat atap berundak tiga, berbentuk segitiga sama kaki seperti pura umat Hindu. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa dalam penyebaran agama Islam pada masa Wali Songo sangat adaptif terhadap budaya lokal yang dipegang teguh masyarakat sekitar.

Berdasarkan cerita yang ada, salah satu dari tiga undakan dipercaya masyarakat terbuat dari intip (kerak nasi liwet). Menurut cerita yang diamini secara turun-temurun, pada masa pembangunan atap masjid kekurangan bahan sirap (atap). Konon Sang Sunan Kalijaga melemparkan intip ke atas masjid sembil mengucapkan kun fa yakun jadilah atap.

2. Saka Tatal

Saka tatal Masjid Agung Demak. (Foto: islamindonesia.id)

Masjid Agung Demak memiliki empat saka (tiang) utama. Tiang-tiang itu memiliki tinggi 16 meter. Legenda yang beredar di masyarakat dan cerita-cerita rakyat, keempat tiang tersebut dibuat oleh empat wali, tak lain Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.

Uniknya tiang yang terbuat dari tatal atau serpihan-serpihan kayu sisa yang diikat. Saka tatal itu dipercaya buatan Sunan Kalijaga. Meski tidak terbuat dari kayu utuh, kekuatan saka tatal sama dengan tiang-tiang lainnya.

3. Pintu Bledeg

Pintu bledeg Masjid Agung Demak. (Foto: http://sejarahkerajaandemaklengkap.blogspot.co.id)

Pintu bledeg atau petir merupakan pintu utama Masjid Agung Demak, yang digunakan sebagai antipetir. Pintu tersebut dibuat oleh Ki Ageng Selo sekitar 1446 Masehi. Berdasakan Babad Tanah Jawi karya WL Olthof, Ki Ageng Selo adalah orang sakti yang mampu menangkap petir.

Pintu bledeg terbuat dari kayu jati dipenuhi ukiran tebal. Ukiran paling menonjol adalah adanya dua kepala naga. Ukiran-ukiran itu dipercantik dengan diberi warna cat merah. Dalam khazanah kultur Jawa, gambar di pintu tersebut merupakan prasasti Condro Sengkolo (penanda waktu) yang berbunyi “Nogo Mulat Saliro Wani”.

4. Kolam Wudhu

Kolam wudhu Masjid Agung Demak. (Foto: tandapagar.com)

Kolam wudhu merupakan salah satu bagian Masjid Agung Demak yang terletak di samping depan masjid. Kolam yang dibangun mengiringi awal berdirinya masjid itu difungsikan sebagai tempat wudhu. Kolam tersebut memiliki ukuran 10x25 meter dengan kedalaman lima meternya, dan terdapat tiga batu dengan ukuran yang berbeda.

Batu berwarna hitam yang lebih besar itu berdiri tegak, sementara dua batu hitam tergeletak bersamaan dengan batu hias lainnya yang ukurannya lebih kecil. Kolam yang tak lagi difungsikan ini, konon adalah tempat berwudhu para Wali Songo.

Meski demikian, tidak semua bagian menarik dari Masjid Agung Demak dapat kita jumpai langsung. Sebab, kini telah ada yang dimuseumkan pihak masjid, seperti pintu bledeg.



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH