Ekspor Produk Otomotif Indonesia Kembali Masuk Vietnam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-3 Indonesia-Vietnam di Hanoi, Vietnam. (Foto: Infomed/Kemlu/Rudi)

MerahPutih.com - Ekspor produk-produk otomotif Indonesia akhirnya kembali masuk ke Vietnam setelah sempat terhenti.

Hal tersebut merupakan salah satu isu yang akan dibahas dalam Komisi Bersama (SKB) ke-3 RI-Vietnam, seperti disampaikan Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta

SKB itu dipimpin oleh Menlu RI, Retno Marsudi dan Menlu Vietnam, Pham Binh Minh, di Hanoi, Vietnam, Selasa (17/4)

"Saya senang ekspor produk otomatif Indonesia dapat kembali masuk pasar Vietnam. Produk otomotif merupakan salah satu ekspor terbesar Indonesia ke Vietnam, yaitu mencapai sekitar US$ 293 juta pada tahun 2017,” tutur Menlu Retno.

Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-3 Indonesia-Vietnam di Hanoi, Vietnam. (Foto: Infomed/Kemlu/Rudi)

Sebelumnya, pada akhir 2017 pemerintah Vietnam mengeluarkan aturan 116/2017 yang membatasi impor otomotif. Dengan ketentuan ini, akses pasar ekspor produk otomotif Indonesia ke Viet Nam sempat terhenti.

Sebagai salah satu tetangga dekat Indonesia, kerja sama bilateral Indonesia-Vietnam dari tahun ke tahun terus berkembang pesat, khususnya setelah kedua negara menyepakati perjanjian kemitraan strategis pada 2013

Di bidang ekonomi, perdagangan kedua negara terus meningkat, mencapai US$ 6.8 milyar di 2017, atau meningkat sebesar 8.64% dari 2016.

Selain itu, terjadi peningkatan investasi dua arah antarkedua negara. Pada tahun 2017 investasi Vietnam ke Indonesia meningkat sekitar 300%, sedangkan investasi Indonesia ke Vietnam meningkat sekitar 36% pada 2017.

Berbagai capaian di bidang kerja sama ekonomi tersebut sejalan dengan target pada rencana aksi kemitraan strategis kedua negara untuk periode 2014-2018.

Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-3 Indonesia-Vietnam di Hanoi, Vietnam. (Foto: Infomed/Kemlu/Rudi)

Dalam pertemuan SKB, kedua Menlu sepakat momentum positif kerja sama ekonomi kedua negara harus terus dijaga. Oleh karena itu, kedua Menlu menyepakati untuk segera mengembangkan sebuah rencana aksi baru untuk periode 2019-2023, sebagai sebuah penuntun sekaligus target kerja sama kedua negara dalam lima tahun ke depan.

Rencana Aksi ini akan diselesaikan pada bulan November 2018. Beberapa sektor baru yang diusulkan Menlu RI untuk masuk dalam rencana aksi baru tersebut antara lain defence strategic industries, aquaculture, marine tourism, renewable energy and creative industry.

"Saya mengharapkan rencana aksi baru dapat diselesaikan pada tahun 2018, dan memasukkan peluang-peluang baru, guna lebih memperkokoh sekaligus memperluas kerja sama bilateral Indonesia-Vietnam," tegas Retno.

Kedua Menlu sepakat pentingnya meningkatkan interaksi sektor swasta. Dalam kaitan ini, kedua Menlu akan mendorong interaksi yang lebih luas dengan berbagai komunitas bisnis, agar mereka dapat mengeksplorasi langkah-langkah yang inovatif guna memanfaatkan berbagai peluang yang banyak tersedia.

"Beberapa sektor yang diidentifikasi masih terbuka bagi pengusaha Indonesia di Vietnam, seperti sektor hilir minyak dan gas, perhotelan dan properti," pungkasnya.

Lebih lanjut, kedua Menlu juga menegaskan pentingnya untuk memanfaatkan momentum positif saat ini untuk mewujudkan kemajuan yang substantif dalam perundingan Code of Conduct (CoC) di Laut Tiongkok Selatan

"Kerja sama bilateral Indonesia-Vietnam tidak saja harus mensejahterakan rakyat kedua negara namun juga berkontribusi terhadap kemajuan stabilitas dan kesejahteraan kawasan and beyond,” Menlu Retno menutup keterangannya. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH