Eks Napiter Anggota JAT Curhat Lewat Buku 'Hijrah Dari Radikal Kepada Moderat' Eks napiter anggota Jamaah Ansharut Tahuhid, Haris Amir Falah saat bedah buku 'Hijrah dari Radikal Kepada Moderat' di UMS, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (MP/Ismail)

MerahPutih.Com. Mantan narapidana terorisme (napiter) jaringan Jamaah Ansharut Tauhid, Haris Amir Falah menegaskan radikalisme tidak boleh dialamatkan kepada agama manapun, termasuk ke dalam agama Islam.

Hal itu diungkapkan Haris dalam bedah buku kontroversial 'Hijrah dari Radikal Kepada Moderat' di Auditorium Muhammad Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Baca Juga:

Wali Kota Solo Ragukan WNI Kombatan ISIS Bisa Terima Ideologi Pancasila

Haris merupakan mantan Napiter yang ditangkap oleh Densus 88 Antiteror saat latihan militer di Aceh pada 2010 , dan kemudian divonis 4,5 tahun. Usai bebas membuat buku 'Hijrah dari Radikal Kepada Moderat'.

Bedah buku karya eks napiter Jaringan JAT Haris Amir Falah di UMS
Bedah buku karya eks napiter Haris Amir Falah di UMS (MP/Ismail)

"Saya melalui buku ini ingin mengubah pemikiran dan sikap saya tentang ajaran Islam, yakni dari paham yang ekstrim dan radikal menjadi moderat," ujar Haris.

Haris mengungkapkan munculnya kata radikalisme bukan muncul dari buah pemikiran agama Islam. Ia menjelaskan dalam buku tersebut menyampaikan suatu perjalanan pergolakan pemikiran pribadi yang amat panjang dari sekitar 1983 hingga 2010.

"Melalui buku ini saya menemukan titik balik menuju pemahaman yang moderat dan rahmatan lilalamin," kata dia.

Ia mengakui buku yang ditulisnya masih memancing kontraversi ada sebagian orang mengatakan kalimat radikal dan moderat ini, masih banyak diperdebatkan.

"Saya pahami dengan radikalisme adalah paham keagamaan yang berideologi kekerasan, kemudian terlalu keras memahami agama, dan juga berlebih-lebihkan yang akhirnya melahirkan intoleransi di dalam beragama," papar dia.

Ia mengatakan tentang arti moderat yaitu sikap teguh memegang Islam, dan saat yang bersamaan menghormati segala perbedaan, serta akhirnya melahirkan sikap yang santun dan toleransi. Faham moderat itu bisa mencegah faham terorisme.

Baca Juga:

Bupati Purwakarta Angkat Mantan Napiter Jadi Pengawas Kebersihan

Pengamat Pergerakan Islam Amir Mahmud mengatakan radikal dinilai ada tiga kategori yakni dalam bentuk lisan atau ujaran kebencian. Kemudian Kedua radikal dalam bentuk fisik yakni mereka tidak suka kemudian melakukan kekerasan, dan ketiga bentuk ekstrim, yakni mereka yang ingin mengubah suatu tatanan nilai bangsa manapun itu disebut radikalisme.

"Saya tegaskan radikalisme itu, bukan Islam. Islam bukan radikalisme. Namun, radikalisme itu, seseorang atau kelompok yang melakukan paham radikal," pungkas Mahmud.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Ismail, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga:

Sekolah Rawan Disusupi Radikalisme, Para Murid Diminta Cari Guru yang Benar

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Jokowi: Pembukaan Sektor Usaha Harus Penuh Kehati-hatian
Indonesia
Jokowi: Pembukaan Sektor Usaha Harus Penuh Kehati-hatian

Penawaran kredit perbankan saat ini sudah relatif kondusif dengan suku bunga yang terus menurun dan likuiditas melimpah.

Tinggi Gelombang di Perairan Kepulauan Seribu Hari Ini Diperkirakan Paling Tinggi 1, 2 Meter
Indonesia
Tinggi Gelombang di Perairan Kepulauan Seribu Hari Ini Diperkirakan Paling Tinggi 1, 2 Meter

Pada Senin (11/1), diprakirakan terjadi hujan ringan pagi hari, berawan saat siang hari, hujan ringan pada malam hari, dan hujan sedang saat dini hari

Kembali Ditangkap karena Narkoba, Rio Reifan Terancam Bui 20 Tahun
Indonesia
Kembali Ditangkap karena Narkoba, Rio Reifan Terancam Bui 20 Tahun

"Ancamannya sudah jelas enam tahun penjara, paling tinggi 20 tahun," ucap Yusri.

Gegara Hadiri Acara Halal Bihalal PDIP, Plt Camat Sukoharjo Dicopot
Indonesia
Gegara Hadiri Acara Halal Bihalal PDIP, Plt Camat Sukoharjo Dicopot

Pencopotan tersebut buntut dari hadirnya Havid dalam acara halal bihalal yang diadakan PAC PDIP Sukoharjo pada Rabu (19/5)

Piala Menpora: 297 Pemain dan Official 4 Klub Liga 1 Divaksin Corona
Indonesia
Piala Menpora: 297 Pemain dan Official 4 Klub Liga 1 Divaksin Corona

Sebanyak 297 pemain dan official empat Klub Liga 1 yang berlaga di Piala Menpora mendapatkan vaksinasi corona di pendopo Balai Kota, Jawa Tengah, Selasa (23/3).

Ini Kata Polisi Soal Penahanan Ibu-ibu Pelempar Gudang Rokok di Lombok
Indonesia
Ini Kata Polisi Soal Penahanan Ibu-ibu Pelempar Gudang Rokok di Lombok

Penahanan atas kasus pelemparan gudang rokok yang dilakukan 4 ibu rumah tangga (IRT) di Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menuai polemik.

Varian B.1.1.529 Dikenal Ganas, Pemerintah Diminta Waspadai Pendatang dari Afrika
Indonesia
Varian B.1.1.529 Dikenal Ganas, Pemerintah Diminta Waspadai Pendatang dari Afrika

Pemerintah perlu mewaspadai munculnya varian baru virus COVID-19 di Afrika Selatan yang disebut B.1.1.529 atau Bostwana.

Pemadanan Data Kemensos Rampung, Pemprov DKI Kembali Salurkan BST
Indonesia
Pemadanan Data Kemensos Rampung, Pemprov DKI Kembali Salurkan BST

Dinas Sosial DKI Jakarta kembali menyalurkan dana Bantuan Sosial Tunai tahap 5 dan 6 yang diberikan kepada 124 Keluarga Penerima Manfaat.

Kapolri Perintahkan Seluruh Kapolda Serius Awasi Pelaksanaan PPKM
Indonesia
Kapolri Perintahkan Seluruh Kapolda Serius Awasi Pelaksanaan PPKM

Seluruh daerah di Indonesia diminta memetik pelajaran dari hasil evaluasi penanganan COVID-19

Aktivis 98 Yakin Komjen Listyo Mampu Buat Polri Semakin Promoter
Indonesia
Aktivis 98 Yakin Komjen Listyo Mampu Buat Polri Semakin Promoter

"Saya meyakini pertimbangan Presiden tentu saja ini bukan karena soal kedekatan semata tapi lebih pada melihat kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh Listyo Sigit akan dapat membuat Polri semakin Promoter (Profesional,Modern dan Terpercaya)," kata Semar