Ekonomi Stagnan, Iran Bakal Cabut Kembali Kesepakatan Nuklir  Warga Iran merayakan kesepakatan nuklir. (CNN)

MerahPutih.Com - Kondisi domestik Iran mulai bergejolak dan mempengaruhi konstelasi politik Timur Tengah pada khususnya serta dunia pada umumnya.

Kondisi ekonomi yang stagnan menyusul sejumlah sanksi internasional memaksa Iran akan mencabut kembali kesepakatan nuklir tahun 2015 silam.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam sebuah pernyataan pada Kamis (22/2) mengungkapkan Iran akan hengkang dari kesepakatan nuklir 2015 bersejarah jika tidak ada keuntungan ekonomi darinya dan bank-bank besar terus gagal melakukan bisnis dengan negaranya.

Kesepakatan pada Juli 2015 antara Iran dan enam negara besar Inggris, China, Prancis, Jerman, Rusia dan Amerika Serikat -itu memaksa Iran untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi yang telah melumpuhkan perekonomian Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan sebuah ultimatum kepada negara-negara kekuatan Eropa pada 12 Januari, dengan mengatakan bahwa mereka harus setuju untuk "memperbaiki kekurangan mengerikan dari kesepakatan nuklir Iran" atau dia akan menolak memperpanjang peringanan sanksi AS terhadap Iran seperti yang diminta.

Sanksi AS akan terus berlanjut, kecuali Trump mengeluarkan "keringanan" untuk menangguhkannya pada 12 Mei.

"Kesepakatan itu tidak akan bertahan dengan cara ini bahkan jika ultimatum tersebut disahkan dan keringanan diperpanjang," kata Araqchi sebagaimana dilansir Antara dari Reuters saat menyampaikan pidato di Chatham House di London.

"Jika kebijakan membingungkan dan penuh dengan ketidakpastian seperti ini mengenai JCPOA berlanjut, jika perusahaan dan bank tidak bekerja dengan Iran, kami tidak dapat bertahan dalam kesepakatan yang tidak menguntungkan kami," kata Araqchi. "Itu fakta," tegasnya.

Trump melihat tiga aspek cacat dalam kesepakatan tersebut: kegagalannya untuk menangani program misil balistik Iran; persyaratan soal pengawas internasional dapat mengunjungi tempat yang diduga sebagai lokasi nuklir Iran; dan klausul "matahari terbenam" yang membatasi program nuklir Iran mulai berakhir setelah 10 tahun.

Dia ingin ketiganya diperkuat jika AS tetap dalam kesepakatan nuklir, yang dikenal oleh para diplomat sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama, atau JCPOA.

Iran memperingatkan bahwa jatuhnya kesepakatan tersebut akan mendorong dunia memasuki krisis nuklir lainnya.

"Jika kita kehilangan JCPOA, kita akan menghadapi krisis nuklir lagi," kata Araqchi.

Masyarakat Eropa mencemaskan keadaan perekonomian Iran yang bisa memicu negara tersebut melakukan ekspansi ke wilayah sekitarnya. Oleh karena itu, sanksi ekonomi yang dipelopori Amerika Serikat bukan solusi terbaik.

"Bagi orang Eropa atau masyarakat dunia, ketika kita berbicara tentang mempertahankan JCPOA dan menyelamatkannya, ini bukan pilihan antara pasar Iran atau AS, ini bukan pilihan untuk kerja sama ekonomi: ini adalah pilihan antara memiliki keamanan dan ketidakamanan," ujar Abbas Araqchi.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH