Ekonomi Melambat, PHK Bakal Terus Terjadi di 2026

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Januari 2026
Ekonomi Melambat, PHK Bakal Terus Terjadi di 2026

Pekerja Kantoran Mulai Kembali Bekerja usai Libur Lebaran

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Ekonomi Indonesia menghadapi tantangan yang cukup serius di 2026. Paling tidak ada empat risiko utama yang berpotensi membayangi perekonomian Indonesia pada 2026.

Center for Strategic and International Studies (CSIS) melansir, tantangan tersebut mencakup tekanan global, keterbatasan ruang fiskal dan moneter, meningkatnya pengangguran usia muda, serta potensi gejolak harga pangan dan energi.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan mengatakan, kombinasi faktor eksternal dan domestik membuat prospek ekonomi Indonesia ke depan sarat ketidakpastian.

Risiko pertama berasal dari kondisi ekonomi global yang diperkirakan masih melambat pada 2026. Mesin pertumbuhan utama dunia, terutama Amerika Serikat (AS) dan China dinilai belum menunjukkan pemulihan yang solid.

Baca juga:

Begini Cara Laporkan PHK dan Gaji Tidak Sesuai ke Kemenaker

China saat ini menghadapi tekanan deflasi sehingga realisasi pertumbuhan ekonominya dipertanyakan. Sementara AS dibebani defisit anggaran dan utang publik yang besar, yang turut mendorong tekanan inflasi. Perlambatan ekonomi juga terjadi di Eropa, termasuk Inggris dan Jerman, yang tengah menghadapi tekanan fiskal.

“Implikasinya, pertumbuhan ekonomi global 2026 akan sangat gloomy dan lebih lambat,” kata Deni.

Selain perlambatan pertumbuhan, ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan yang ketat dinilai semakin memperburuk kondisi global.

Eskalasi konflik geopolitik, pembatasan ekspor chip dan tanah jarang (rare earth) oleh sejumlah negara, serta kebijakan tarif resiprokal AS meningkatkan ketidakpastian dan mengganggu rantai pasok internasional.

Situasi tersebut berisiko memicu volatilitas pasar keuangan global dan mendorong arus modal keluar secara tiba-tiba dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia telah mengalami tekanan serupa. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencetak rekor tertinggi, arus modal asing justru mengalami outflow signifikan di pasar saham maupun obligasi.

Kondisi tersebut berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah serta membesarnya defisit neraca pembayaran, yang pada akhirnya menekan cadangan devisa.

Risiko kedua bersumber dari kondisi domestik, khususnya pada sisi fiskal dan moneter. Deni menilai stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah sejauh ini belum memberikan dorongan pertumbuhan yang optimal, sementara penerimaan pajak justru tidak mencapai target.

“Di saat belanja meningkat, penerimaan tidak tercapai. Ini mendorong defisit fiskal membesar dan berisiko mendekati, bahkan melampaui batas 3 persen dari PDB,” ujarnya.

Tekanan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan utang, terutama dengan jatuh tempo utang pemerintah yang diperkirakan mencapai Rp700-800 triliun per tahun.

Di tengah persaingan pembiayaan global yang semakin ketat, biaya utang Indonesia dinilai masih tinggi akibat premi risiko yang besar.

Risiko ketiga yang disoroti CSIS adalah meningkatnya pengangguran, terutama di kalangan usia muda dan terdidik.

Meski tingkat pengangguran terbuka relatif rendah, kualitas lapangan kerja dinilai memburuk karena sebagian besar penyerapan tenaga kerja terjadi di sektor informal.

Selain itu, pemutusan hubungan kerja (PHK) terus meningkat. Sepanjang 2025, sekitar 80 ribu pekerja tercatat terkena PHK, dengan konsentrasi terbesar di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah.

“Pengangguran muda dan terdidik ini berbahaya. Mereka melek digital, vokal, dan jika tidak terserap pasar kerja, bisa menjadi discontent yang sewaktu-waktu meletup seperti bom waktu,” kata Deni.

Risiko keempat berkaitan dengan potensi gejolak harga pangan dan energi. Meski inflasi umum masih terjaga, tekanan pada komponen volatile food terus meningkat, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Gangguan produksi akibat bencana alam di sejumlah daerah juga berpotensi mendorong kenaikan harga pangan strategis seperti beras. Di sisi lain, volatilitas harga energi dinilai masih menjadi ancaman, seiring ketegangan geopolitik global dan stimulus besar yang dikeluarkan China.

Menurut Deni, kenaikan harga energi dapat menekan inflasi domestik dan daya beli masyarakat jika tidak diantisipasi secara tepat.

Untuk menghadapi berbagai risiko tersebut, CSIS menyampaikan sejumlah rekomendasi kebijakan kepada pemerintah.

Pertama, pemerintah diminta menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang prudent dengan memprioritaskan pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar guna menjaga ekspektasi pasar di tengah guncangan eksternal dan risiko arus modal keluar.

Kedua, pemerintah perlu meningkatkan penerimaan pajak dan efisiensi belanja untuk mempersempit defisit, sekaligus memperpanjang tenor utang dan mengurangi ketergantungan pada surat utang jangka pendek yang berbiaya tinggi.

Ketiga, penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter perlu dilakukan melalui penyelarasan penerbitan obligasi, pembelian surat utang oleh bank sentral, serta kebijakan suku bunga tanpa mengorbankan independensi Bank Indonesia (BI).

Keempat, dukungan harus diarahkan pada sektor-sektor padat karya yang mengalami peningkatan PHK, disertai perluasan program pasar tenaga kerja aktif serta percepatan reskilling bagi pekerja muda dan terdidik yang rentan menganggur.

Kelima, penguatan perlindungan sosial, diversifikasi sumber impor, serta pembangunan cadangan strategis dinilai penting untuk meredam volatilitas harga pangan dan energi.

Dan keenam, pemerintah didorong memanfaatkan periode harga energi yang lebih rendah untuk mereformasi subsidi dan mengalihkan belanja ke investasi yang meningkatkan produktivitas serta mendukung transisi hijau.

#PHK #Ekonomi Indonesia #Pengangguran
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

ShowBiz
Netflix PHK 1.000 Karyawan, Jadi Pemangkasan Terbesar Sejak 2022
Netflix akan memangkas sekitar 1.000 karyawan atau setara dengan enam persen dari total tenaga kerjanya.
Yusuf Abdillah - Kamis, 15 Oktober 2026
Netflix PHK 1.000 Karyawan, Jadi Pemangkasan Terbesar Sejak 2022
Berita
Dampak Ekonomi Global terhadap Indonesia pada 2026, Ini Tantangannya
Dampak ekonomi global terhadap Indonesia pada 2026 mencakup suku bunga AS, inflasi, ekspor komoditas, investasi, dan tantangan APBN.
ImanK - Kamis, 15 Oktober 2026
Dampak Ekonomi Global terhadap Indonesia pada 2026, Ini Tantangannya
Indonesia
Alasan Kenapa Indonesia Harus Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia memiliki waktu terbatas untuk memanfaatkan besarnya penduduk usia produktif sebelum populasi menua dan rasio ketergantungan meningkat
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 13 Oktober 2026
Alasan Kenapa Indonesia Harus Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia
PHK 6.000 Warga AS, Karyawan Asing di Microsoft Ditolak Jadi Residen
"Mereka juga telah melakukan PHK terhadap 6.000 pekerja Amerika dan menggantinya dengan 6.300 pekerja pemegang visa H-1B," kata Vance.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 09 Oktober 2026
PHK 6.000 Warga AS, Karyawan Asing di Microsoft Ditolak Jadi Residen
Indonesia
Aturan PHK Makin Ketat, Pekerja Wajib Tahu Ini
UU Pelindungan Ketenagakerjaan juga mengatur tahapan selanjutnya apabila dari perundingan bipartit tersebut tidak ditemukan kesepakatan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Oktober 2026
Aturan PHK Makin Ketat, Pekerja Wajib Tahu Ini
Indonesia
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Tapi Aktivitas Ekonomi Domestik Tunjukan Pelemahan
Bauran kebijakan pemerintah dinilai turut menopang pertumbuhan ekonomi jangka pendek, namun pada saat yang sama berkontribusi terhadap pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 06 Oktober 2026
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Tapi Aktivitas Ekonomi Domestik Tunjukan Pelemahan
Indonesia
Presiden Prabowo Bicara Ambisi Ekonomi RI, Target Masuk 4 Besar Dunia pada 2050
Prospek tersebut berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya tetap kuat.
Dwi Astarini - Kamis, 17 September 2026
Presiden Prabowo Bicara Ambisi Ekonomi RI, Target Masuk 4 Besar Dunia pada 2050
Indonesia
Kekurangan Orang, Jepang Bakal Buka Lowongan Bagi Warga Asing Jadi Pekerja Keamanan Swasta
Badan Kepolisian Jepang akan berkonsultasi dengan Kementerian Kehakiman serta Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan mengenai rincian kerangka kerja baru.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 17 September 2026
Kekurangan Orang, Jepang Bakal Buka Lowongan Bagi Warga Asing Jadi Pekerja Keamanan Swasta
Indonesia
Prabowo Ungkap Investasi Rp 1.010 Triliun dan 1,4 Juta Lapangan Kerja Baru, Singgung MBG dan Kopdes Merah Putih
Prabowo menyebut investasi Indonesia mencapai Rp 1.010 triliun hingga Juni 2026 dan berkontribusi membuka sekitar 1,4 juta lapangan kerja.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 17 September 2026
Prabowo Ungkap Investasi Rp 1.010 Triliun dan 1,4 Juta Lapangan Kerja Baru, Singgung MBG dan Kopdes Merah Putih
Indonesia
Prabowo Soroti Inflasi 2,92 Persen dan Investasi Rp1.010 Triliun, Optimistis Ekonomi Indonesia
Presiden Prabowo Subianto optimistis Indonesia bisa masuk 5 besar ekonomi dunia pada 2050. Ia menyoroti inflasi 2,92 persen dan investasi Rp 1.010 triliun.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 17 September 2026
Prabowo Soroti Inflasi 2,92 Persen dan Investasi Rp1.010 Triliun, Optimistis Ekonomi Indonesia
Bagikan